BAB
I
PENDAHULUAN
1. LATAR
BELAKANG
Penyakit infeksi di Indonesia masih
merupakan masalah kesehatan yang utama. Salah satu penyakit tersebut adalah
infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus,
bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan
angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%.
Bakteri
penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka kejadian penyakit
yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa Haemophilus influenzae tipe B
ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis. Pada penelitian lanjutan,
didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang dari 5 tahun. Di Australia
pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1
kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 – 4 tahun dan 15 – 19
tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan Steptococcus pneumoniae
angka kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi pada anak kurang dari 2
tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk seluruh kelompok usia,
dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi mental 17%, kejang 14%
dan gangguan pendengaran 28%.
2.
TUJUAN
Tujuan
umum :
Tujuan
dalam pembuatan makalah ini secara umum adalah untuk membantu mahasiswa dalam
mempelajari tentang anemia
dan asuhan keperawatan Leukemia Akut.
Tujuan
khusus :
1. Mengetahui
pengertian dari Meningitis
2. Menngetahui
penyebab dari Meningitis
3. Mengetahui
tanda dan gejala dari Meningitis
4. Mengetahui
klasifikasi dari Meningitis
5. Mengetahui komplikasi dari Meningitis
6. Mengetahui pemeriksaan penunjang dari Meningitis
7. Mengetahui penatalaksanaan medis dari Meningitis
8. Mempelajari
asuhan keperawatan Meningitis
3.
RUMUSAN
MASALAH
1) Apa
pengertian Meningitis?
2) Apa
saja penyebab Meningitis?
3) Apa
saja tanda dan gejala yang timbul pada pasien Meningitis?
4) Apa saja komplikasi dari Meningitis?
5) Apa saja penatalaksanaan medis dari Meningitis?
6) Apa saja pemeriksaan penunjang dari Meningitis?
7) Bagaimana
proses perjalanan penyakit Meningitis?
8) Dan
bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien Meningitis?
BAB II
ANATOMI
DAN FISIOLOGI SISTEM SYARAF & VERTIGO
I.
ANATOMI DAN
FISIOLOGI OTAK
Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang
melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan
sekresi sejenis cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga
lapis, yaitu:
Lapisan Otak
(meningen) lapisan otak biasa juga disebut meningen.
Menurut Willson
(2006), selaput otak terdiri atas tiga lapisan yaitu:
1)
Durameter
Selaput keras
pembungkus otak yang berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat, pada bagian
tengkorak terdiri atas selaput (perios) tulang tengkorak dan durameter tropia
bagian dalam. Durameter mengandung rongga yang mengalirkan darah dari vena
otak, dan dinamakan sinus vena.
2)
Arachnoidea
Arachnoidea
yaitu selaput tipis yang membentuk sebuah balon yang berisi cairan otak
meliputi seluruh susunan saraf sentral, otak, dan medulla spinalis. Arachnoidea
berada dalam balon yang berisi cairan. Ruang sub arachnoid pada bagian bawah
serebelum merupakan ruangan yang agak besar disebut sistermagna. Ruangan
tersebut dapat dimasukkan jarum kedalam melalui foramen magnum untuk mengambil
cairan otak, atau disebut fungsi sub oksipitalis.
3)
Piameter
Merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak. Piameter berhubungan dengan arachnoid melalui struktur jaringan ikat. Tepi flak serebri membentuk sinus longitudinal inferior dan sinus sagitalis inferior yang mengeluarkan darah dari flak serebri tentorium memisahkan serebrum dengan serebelum (Willson, 2006).
Merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak. Piameter berhubungan dengan arachnoid melalui struktur jaringan ikat. Tepi flak serebri membentuk sinus longitudinal inferior dan sinus sagitalis inferior yang mengeluarkan darah dari flak serebri tentorium memisahkan serebrum dengan serebelum (Willson, 2006).
A.
Pengertian
Meningitis adalah peradangan pada
selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan
proses infeksi pada system saraf pusat. (Suriadi, dkk. Asuhan Keperawatan
pada Anak, ed.2, 2006)
Meningitis
adalah infeksi ruang subaraknoid dan leptomeningen yang disebabkan oleh
berbagai organisme pathogen. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1,
2006)
Meningitis
adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis
berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut
dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup
udara tersebut. (Anonim, 2007 dalam Juita, 2008).
Meningitis
adalah infeksi pada meninges yang biasanya disebabkan oleh invasi bakteri dan
hanya sedikit oleh virus. Prognosisya bergantung pada usia anak, organisme, dan
respons anak terhadap terapi. Meningitis bakteri menyebabkan kematian jika
tidak ditangani segera. Kebanyakan kasus terjadi antara usia 1 bulan dan 5
tahun. Bayi dibawah usia 12 bulan paling rentan terhadap meningitis bakteri.
Meningitis
adalah inflamasi akut pada meninges. Organisme penyebab meningitis bakterial
memasuki area secara langsung sebagai akibat cedera traumatik atau secara tidak
langsung bila dipindahkan dari tempat lain di dalam tubuh ke dalam cairan
serebrospinal (CSS). Berbagai agens dapat menimbulkan inflamasi pada meninges
termasuk bakteri, virus, jamur dan zat kimia.
Sejak
pengenalan dan penyebaran penggunaan vaksin Haemophilus Influenza tipe B,
organisme ini telah dikendalikan secara luas di dunia yang telah berkembang.
Patogen bakteri yang utama pada anak dan dewasa adalah Streptococcus pneumoniae
yang diikuti dengan Neisseia meningitidis. Pada bayi yang berusia 0 sampai 3
bulan, penyebab tersering adalah Streptococcus grup B, Escherichia coli dan
Listeria monocytogenes.
B.
Etiologi
E.Coli
, Streptococcus grup B dan Listeria monocytogenes meupakan organisme yang
paling sering menyebabkan meningitis pada neonatus. Haemophilus influenza,
Neisseria meningitidis dan Diplococcu pneumoniae merupakan organisme yang
paling umum menyebabkan meningitis pada bayi dan anak-anak. Namun, vaksin Hib
mampu menurunkan insednsi meningitis H influenza. Organisme penyebab lainnya
adalah Streptococcus B-hemolitikus dan Staphylococcus aureus. Meningitis virus
(disebabkan oleh virus coxsackie, virus echo atau ggondong) merupakan penyakit
yang dapat sembuh sendiri dan berlangsung antara 7 sampai 10 hari.
Faktor resiko :
1.
Faktor predisposisi: laki-laki lebih sering disbanding
dengan wanita
2.
Faktor maternal: rupture membran fetal, infeksi
metrnal pada minggu terakhir kehamilan
3.
Faktor imunologi: usia muda, defisiansi mekanisme
imun, defek lien karena penyakit sel sabit atau asplenia (rentan terhadap S.
Pneumoniae dan Hib), anak-anak yang mendapat obat-obat imunosupresi
4.
Anak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan
atau injuri yang berhubungan dengan system persarafan
5.
Faktor yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi
rendah: lingkungan padat, kemiskinan, kontak erat dengan individu tang terkena
(penularan melalui sekresi pernapasan)
C.
Patofisiologi
Meningitis
aseptik umumnya disebabkan oleh enterovirus dan lebih banyak menyerang individu
dewasa muda daripada anak-anak. Anak yang lebih besar umumnya menunjukkan
berbagai tanda prodromal yang tidak khas dan gejala-gejala yang mirip flu, yang
berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Meskipun keletihan dan kelemahan dapat
berlangsung selama beberapa minggu, sekuele jarang ditemukan. Anak dievaluasi
dan diobati sampai meningitis bakterialnya sembuh. Meningitis virus umumnya
hanya memerlukan hospitalisasi singkat; perawatan pendukung dirumah merupakan
intervensi yang utama.
Otitis
media, sinusitis atau infeksi saluran pernapasan dapat menjadi tahap awal dari
infeksi. Selain itu, predisposisi karenna defisiensi imun meningkatkan
timbulnya penyakit ini. Setelah meninges terinfeksi, organismenya menyebar ke
otak dan jaringan sekitar melalui CSS. Prognosis dari gangguan ini bervariasi,
bergantung pada usia, organisme yang menginfeksi, kecepatan terapi antibiotik
yang diberikan dan adanya fakor-faktor yang mempersulit. Meningitis neonatall
berkaitan dengan angka mortalitas yang tinggi dan meningkatnya insidens sekuele
neurologis. Pada banyak individu yang terkena, meningitis bakterial menyebabkan
perubahan perilaku, disfungsi motorik dan perubahan koginitif, seprti defisit
persepsi.
Pada
meningitis bakteri, bakteri masuk ke meninges melalui aliran darah dan menyebar
melalui CSS; meninges dapat terinfeksi secara langsung melalui trauma atau
bedah neurologi. Patogen bertindak sebagai toksin, menimbulkan respons
inflamasi meningeal dan pelepasan eksudat purulen. Infeksi menyebar dengan
cepat melalui eksudat. Eksudet dapat menutupi pleksus koroid dan menyumbat vili
araknoid sehingga mengakibatkan hidrosefalus. Kongesti vaskular dan inflmasi
menyebabkan edema serebral, yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (TIK).
Nekrosis sel-sel otak dapat menyebabkan kerusakan permanen dan kematian.
Komplikasi antara lain hidrosefalus obstruktif, trombus pada vena meningeal
atau sinus vena, abses otak, ketulian, kebutaan dan paralisis. Meningitis meningokokus
dapat mengakibatkan sepsis meningokokus. Jika keadaanya parah, mendadak dan
fulminans, disebut sebagai sindrom Waterhouse-Frederichsen yang idsertai
karakteristik koagulasi intravaskular desiminata (DIC, Disseminated
Intravascular Coaugaltion), perdarahan masif adrenal bilateral, dan pupura.
Angka mortalitas yang tinggi hampir 90%.
D. Manifestasi Klinik
Neonatus :
1.
Suhu dibawah
normal
2.
Demam – biasanya
derajat rendah
3.
Pucat
4.
Letargi atau
somnolen
5.
Iritabilitas
atau rewel
6.
Kurang makan dan
/ atau mengisap
7.
Muntah
8.
Kejang
9.
Tonus buruk
10.
Diare dan atau
muntah
11.
Fontanel
menonjol
12.
Opistotonus
Bayi dan Anak Kecil :
1.
Letargi
2.
Iritabilitas
3.
Pucat
4.
Anoreksia atau
kurang makan
5.
Mual dan muntah
6.
Makin sering
menangis
7.
Minta digendong
8.
Peningkatan
tekanan intrakranial
9.
Peningkatan lingkar
kepala
10.
Fontanel
menonjol
11.
Kejang
12.
Sunset eyes
Anak yang Lebih Besar :
1.
Sakit kepala
2.
Demam
3.
Muntah
4.
Iritabilitas
5.
Fotofobia
6.
Kaku kuduk dan
tulang belakang
7.
Tanda Kernig
positif
8.
Tanda Brudzinski
positif
9.
Opistotonus
10.
Petekie
(meningitis H.Influenzae dan meningokokuus)
11.
Septikemia
12.
Syok
13.
Koagulasi
intravaskular diseminata (DIC)
14.
Konfusi
15.
Kejang
E. Klasifikasi
1)
Meningitis Purulenta:
Radang selaput otak ( araknoidea dan
piameter) yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman
nonspesifik dan nonvirus.
2)
Meningitis Tuberkulosa:
Terjadi akibat komplikasi penyebaran
tuberculosis primer, biasanya dari paru. Meningitis terjadi bukan karena
terimfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran hematogen, tetapi biasanya
sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang
belakang atau vertebra yang kemudian pecah ke rongga araknoid (Rich dan
McCordeck). Anak-anak yang ibunya menderita TBC kadang-kadang mendapatkan
meningitis tuberkolusa pada bulan-bulan pertama setelah lahir.
F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan Meningitis adalah :
1.
Tuli
2.
Buta
3.
Efusi subdural
(20%-30% kasus)
4.
Peningkatan
sekresi hormon antidiuretik (ADH)
5.
Perkembangan
terlambat atau gangguan intelektual
6.
Hidrosefalus
7.
Edema serebri
8.
Gangguan kejang
kronis
9.
Parasesis otot
wajah
G.
Pemeriksaan
Penunjang
1) Analisis CSS (dengan pungsi lumbal) dapat menegakkan
diagnosis (CSS mungkin berkabut, sel darah putih meningkat, dan kadar glukosa
menurun) dan agens penyebab. Pungsi lumbal tidak dilakukan jika anak mengalami
peningkatan TIK. Hal ini dilakukan untuk mencegah herniasi otak.
2)
HDL menyatakan
peningkatan hitung sel darah putih.
3)
Kultur darah
juga dapat mengidentifikasi agens penyebab.
4)
Pungsi lumbal
dan kultur CSS dengan hasil sebagai berikut :
a.
Hitung sel darah
putih – meningkat sampai lebih dari 100/mm3
b.
Pewarnaan gram
CSS
c.
Kadar glukosa –
menurun (nakterial); normal (virus)
d.
Protein – tinggi
(bakterial, tuberkular, infeksi kongenital); sedikit meningkat (infeksi virus)
e.
Tekanan –
meningkat, lebih dari 50 mmHG pada bayi yang tidak menangis dan lebih dari 85
mmHg pada anak
f.
Pemeriksaan
untuk mengidentifikasi organisme penyebab – Neisseria mneingitidid, organisme
gram positif (streptokokus, stafilokokus, pneomkokus, H.Influenza), atau virus
(koskavirus, echovirus)
g.
Asam laktat –
meningkat (bakterial)
5)
Glukosa serum
meningkat
6)
Hitung darah
lengkap dengan diferensial, hitung trobosit
7)
Kultur darah –
untuk mengidentifikasi organisme penyebab
8)
Kultur
urine/urinalisis -untuk mengidentifikasi organisme penyebab.
9)
Kultur
nasofaring – untuk mengidentifikasi organisme penyebab
10) Kadar elektrolit serum – meningkat jika anak
dehidrasi; natrium serum (Na+) naik; kalium serum (K+) turun
11) Osmolaritas urine – meningkat dengan peningkatan
sekresi ADH
H. Penatalaksaan
Medis & Keperawatan
Penetalaksanaan Medis :
Penetalaksaan
medis lebih bersifat mengatasi etiologi dan perawat perlu menyesuaikan
dengan standar pengobatan sesuai tempat bekerja yang berguna sebagai bahan
kolaborasi dengan tim medis. secara ringkas penatalaksanaan pengobatan
meningitis meliputi :
Pemberian
anitibiotik yang mampu melewati barier darah otak ke ruang subarakhnoid dalam
konsentrasi yang cukup untuk menghentikan perkembangan bakteri. Biasanyya
menggunakan sefaloposforin generasi keempat atau sesuai dengan hasil uji
resistensi antibiotik agar pemberian antimikrooba leih efektif digunakan.
Obat ifeksi (meningitis tberkuloas).
-
Isoniazid 10 –
20 mg/kg BB / 24 jam, oral , 2x sendiri maksimal 500mg selama 1 ½ tahun
-
Rifampisin 10 –
15 mg/kgBB/24 jam , oral, 1 x sehari selama 1 tahun
-
Streptomisin
sulfat 20 – 40 mg/ kg BB/ 24 jam, IM , 1-2 x sehari selama 3 bulan
Obat anti-infeksi (meningitis bakterial)
-
Sefalosporin
generasi ketiga
-
Amfisilin 150 –
200 mg (400mg)/kgBB/24jam, IV, 4 – 6 x sehari.
-
Kloramfenikol 50
mg/kgBB/24jam IV 4xsehari
Pengobatan simtomatis :
-
Antikonvulsi,
diazepam IV ; 0,2 – 0,5 mg/kgBB/dosis atau rektal 0,4-0,6 mg/kgBB atau Feniton
5mg/kgBB/24jam, 3xsehari atau Fenobarbital 5-7mg/kgBB/24jam , 3xsehari
-
Antipiretik :
parasetamol / asam salisilat 10 mg/kgBB/dosis
-
Antiedema serebri
: Diuretik oosmotik (seperti manitol) dapat digunakan untuk megobati edemma
serebri
-
Pemenuhan
oksigenasi dengan O2
-
Pemenuhan
hidrasi atau pencegahan syok hipovolemik : pemberian tambahan volume cairan
intravena.
Penatalaksaan
keperawatan :
1)
Lakukan pengkajian
dengan cermat untuk memantau karakteristik klinis tahap awal penyakit
2)
Pantau suhu dan
tanda vital dengan sering
3)
Pantau asupan
dan haluaran serta keseimbangan cairan dan elektrolit
a.
Anak-anak dengan
penurunan kesadaran sebaiknya dipuasakan (NPO); sedangkan yang lainnya
diperbolehkan menerima cairan dan diet secara pogresif jika dapat ditoleransi..
b.
Asupan cairan
dapat tetap dibatasi sebanyak dua per tiga dari asupan normal untuk mencegah
edema serebral.
c.
Kelebihan cairan
dihindari untuk mencegah terjadinya SIADH (Syndrome of Inappropriate Diuretic
Hormone), yaitu sindrome ketidaktepatan hormon diuretik.
4)
Periksa fungsi
neurologik dan pantau tingkat kesadaran
a.
Ukur lingkar
kepala untuk pemantauan efusi subdural dan hidrosefalus obstruktif, yang dapat
berkembang sebagai komplikasinya.
b.
Kaji adanya
tanda-tanda peningkatan TIK
5)
Berikan
obat-obatan sesuai indikasi , seperti antibiotik (jenisnya bergantung pada
organisme penyebab), steroid (untuk menurunkan edema serebral), dan
antikonsulvan.
6)
Berikan
intervensi penunjang, termasuk tindakan mempertahankan kestabilan suhu tubuh.
7)
Cegah penyebaran
infeksi kepada orang lain. Lakukan prosedur isolasi untuk tindakan pencegahan
pernapasan selama 24 sampai 48 jam setelah dimulainya pemberian antibiotik.
8)
Jaga ketenangan
ruangan untuk menurunkan stimulus dari lingkungan.
ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK MENINGITIS
Ny. H ibu dari An.D yang
berusia 5 tahun datang ke IGD rumah sakit sayang anak sambil menangis. Ibu
mengeluhkan anaknya mengalami demam, dan kejang selama dirumah. Setelah
dilakukan pemeriksaan, suhu anak 38oC , kaku kuduk (+), anak tampak
letargi. Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan lumbal pungsi pada anak
D. Dokter mencurigai anak D mengalami infeksi pada selaput otaknya. Anak D
dianjurkan untuk dirawat dan ditempatkan di ruang isolasi. Untuk mengatasi
demam perawat melakukan tepid sponge, Dokter memberikan resep antibiotik dan
antipiretik untuk anak.
1.
PENGKAJIAN
1)
Data
Pasien :
Nama
klien : An. D
Umur : 5 Tahun
Diagnosa
Medik : Infeksi pada selaput otak
Tanggal
Masuk : 19/12/2011
Alamat : Jl. Tipar Halim rt.005/06 no 60j
mekarsari-cimanggis depok
Suku : Jawa
Agama : Islam
Pekerjaan : -
Status
perkawinan : belum menikah
Status
pendidikan :
-
2)
Riwayat
penyakit :
Keluhan Utama :
Ibu mengeluhkan anaknya mengalami demam, dan kejang selama dirumah.
Riwayat Penyakit
Sekarang :
Ny. H ibu dari An.D yang berusia 5 tahun datang ke IGD rumah sakit sayang
anak sambil menangis. Ibu mengeluhkan anaknya mengalami demam, dan kejang
selama dirumah. Setelah dilakukan pemeriksaan, suhu anak 38oC , kaku
kuduk (+), anak tampak letargi.
Riwayat Penyakit
Terdahulu :
Klien mengatakan sudah sering untuk dilakukan transfuse darah.
Riwayat Kesehatan
Keluarga :
3) Pemeriksaan fisik
a.
Aktifitas/
istirahat
Gejala : perasaan tidak enak
Tanda : ataksia, masalah berjalan,
kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan secara umum, keterbatasan dalam
rentang gerak hipotonia
b.
Sirkulasi
Gejala : adanya riwayat
kardiopatologi, seperti endokarditis
Tanda :Tekanan darah meningkat,
nadi menurun dan tekanan nadi berat, takikardi, disritmia (pada fase akut),
seperti disritmia sinus.
c.
Eliminasi
Tanda : adanya inkontinensia dan
atau retensi
d.
Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan,
kesulitan (pada periode akut)
Tanda : anoreksia, muntah, turgor
kulit jelek, membran mukosa kering.
e.
Hygiene
Gejala : ketergantungan terhadap
semua kebutuhan perawatan diri (pada periode akut)
f.
Neurosensori
Gejala : sakit kepala, Parastesia,
terasa kaku pada semua persyarafan yang terkena, kehilangan sensasi (kerusakan
pada syaraf cranial), hiperalgesia/ meningkatnya sensivitas pada nyeri
(meningitis), timbul kejang. Gangguan
penglihatan seperti diplopia. Fotopobia Ketulian atau hipersensitif terhadap
kebisingan, Adanya halusinasi penghidu/ sentuhan.
Tanda : status mental/ tingkat
kesadaran, letargi sampai kebingungan yang berat hingga koma. Kehilangan
memori, sulit dalam mengambil keputusan, afasia / kesulitan dalam
berkomunikasi. Mata (ukuran /reaksi pupil); unisokor atau tidak berespon
terhadap cahaya (peningkatan TIK), nistagmus. Ptosis dan perubahan pada fungsi
motorik dan sensorik pada wajah (kerusakan N-VII). Otot mengalami hipotonia/
flasid paralysis Hemiparese
atau Hemiplegia Tanda Brudzinski positif atau tanda kernig Positif merupakan
indikasi adanya iritasi meningeal. Kaku
tunduk (nuchal ragidity). Refleks
Tendon dalam, babinski positif. Reaksi
abdominal menurun/ tidak ada, refleks kremastik hilang pada laki-laki.
g. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Sakit kepala, mungkin akan diperburuk dengan ketegangan; leher, punggung kaku; nyeri pada gerakan ocular, fotosensitivitas, sakit tenggorok
Gejala : Sakit kepala, mungkin akan diperburuk dengan ketegangan; leher, punggung kaku; nyeri pada gerakan ocular, fotosensitivitas, sakit tenggorok
Tanda : Tampak terus terjaga,
perilaku distraksi/gelisah, menangis.
h.
Pernapasan
Tanda : Peninkatan kerja pernapasan
(periode awal). Perubahan
mental (lateragi sampai koma) dan gelisah.
i.
Keamanan
Gejala : Adanya riwayat infeksi
saluran pernapasan atas/ infeksi lain meliputi mastoiditis, telinga tengah,
sinus, abses gigi, infeksi pelvis abdomen atau kulit; fungsi lumbal,
pembedahan, fraktur pada tengkorak/ cedera kepala, anemia sel sabit. Gangguan
penglihatan dan pendengaran
Tanda : suhu meningkat, diaporesis,
menggigil, Adanya ras, purpura menyeluruh perdarahan subkutan Kelemahan secara
umum, tonus otot flasid atau spacic, paralysis atau paresis, gangguan sensasi
j.
Penyuluhan/
Pembelajaran
Gejala : Hipersensitif terhadap
obat
Masalah medis sebelumnya seperti ;
penyakit kronis/ gangguan umum, alkoholisme, dibetes melitus, splenektomi,
imlantasi pirau ventrikel.
2.
DATA FOKUS
|
DATA
SUBJEKTIF
|
DATA OBJEKTIF
|
|
Ø Ibu klien mengatakan anaknya mengalami demam, dan
kejang selama dirumah
Ø Ibu
klien mengatakan perasaan anaknya tidak enak
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
kesulitan berjalan
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
sulit berkemih
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
kehilangan nafsu makan
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
mengeluh sakit kepala
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
tubuhnya terasa kaku pada semua persyarafan
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
mengeluh nyeri pada kepala
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
mengeluh gangguan penglihatan (diplopia)
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
hipersensitif terhadap kebisingan,
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
sulit dalam mengambil keputusan
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
mengeluh ketegangan pada leher, punggung kaku
Ø Ibu klien mengatakan anaknya
mengeluh nyeri pada gerakan ocular, fotosensitivitas, sakit tenggorok,
|
Ø
Tanda-tanda Vital
Suhu : 38oC
Nadi : 65 x / menit
Napas : 28 x / menit
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Kaku kuduk (+)
Ø Klien tampak letargi.
Ø Klien
terlihat ataksia
Ø Pada
klien ditemukan masalah berjalan (kesulitan berjalan)
Ø Klien
terlihat kelumpuhan
Ø Klien
terlihat kelemahan
Ø Klien
terlihat mengalami keterbatasan dalam rentang gerak hipotonia
Ø Pada
klien ditemukan turgor kulit jelek
Ø Pada
klien terlihat membran mukosa kering
Ø Klien
terlihat ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri
Ø Klien
terlihat adanya halusinasi penghidu/ sentuhan.
Ø Klien
terlihat afasia / kesulitan dalam berkomunikasi.
|
3. ANALISA DATA
|
DATA
|
PROBLEM
|
ETIOLOGI
|
|
DS:
Ø Klien mengeluh nyeri kepala tidak hilang sejak 2 hari
yang lalu
Ø Klien mengeluh letih, lemah,
Ø Klien mengeluh mengalami keterbatasan
gerak
Ø Klien mengeluh nyeri pada saat sakit
kepala
Ø Klien mengatakan nyeri pada skala : 2
DO:
Ø Tanda-tanda Vital :
Tekanan darah : 100/40 mmHg
Nadi : 72 x / menit
Suhu : 38oC
Napas : 14 x / menit
Ø
Klien terlihat letih, lemah, malaise, keterbatasan gerak
Ø
Klien terlihat pucat dan wajah tampak kemerahan
Ø
Klien terlihat kekhawatiran, ansietas
|
Gangguan
rasa nyaman nyeri
|
Stress
dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan
intracranial
|
|
DS
:
Ø Klien mengeluh letih, lemah,
Ø Klien mengeluh mengalami keterbatasan
gerak
Ø Klien mengatakan merasa ketegangan pada mata
Ø Keluarga klien mengatakan bahwa pasien mengalami
insomnia
Ø Keluarga klien mengatakan klien mudah cemas
Ø Klien mengatakan dia mengalami penurunan
berat badan
Ø Klien terlihat gelisah dan tidak tenang
Ø Klien mengeluh nyeri pada saat sakit
kepala
DO:
Ø Klien mengalami perubahan pada pola
bicara/pola pikir
Ø Klien terlihat pucat
Ø Klien terlihat kekhawatiran,
ansietas
Ø Klien terlihat pucat dan wajah tampak kemerahan
Ø Pada klien ditemukan ketegangan pada mata
Ø Klien terlihat mengelami kepustusasaan dan depresi
|
Koping
individual tak efektif
|
ketidak-adekuatan
relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja
|
|
DS
:
Ø Klien megeluh sudah mengalaminya beberapa kali
Ø Klien mengeluh mual/muntah,
anoreksia (selama nyeri),
Ø Klien mengeluh nyeri pada saat sakit
kepala
Ø Klien terlihat gelisah dan tidak tenang
Ø Klien mengatakan sudah lama mengeluh gejala seperti ini
Ø Klien mengeluh seperti putus asa
DO:
Ø Tanda-tanda Vital :
Tekanan darah : 100/40 mmHg
Nadi : 72 x / menit
Suhu : 38oC
Nafas : 14 x / menit
Ø Klien terlihat letih, lemah, malaise,
keterbatasan gerak
Ø Klien mengalami perubahan pada pola
bicara/pola pikir
Ø Klien terlihat pucat
Ø Klien terlihat mengernyitkan dahi dan memegangi
kepalanya
Ø Klien terlihat pucat dan wajah tampak kemerahan
Ø Klien terlihat mengalami keputusasaan
|
Kurang
pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.
|
keterbatasan
kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat
|
4. DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
|
TANGGAL
DITEMUKAN
|
TANGGAL TERATASI
|
|
1. Gangguan
rasa nyaman nyeri b.d Stress
dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intracranial
2. Koping
individual tak efektif b.d ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak
adekuat, kelebihan beban kerja
3. Kurang
pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d keterbatasan kognitif, tidak
mengenal informasi dan kurang mengingat
|
Selasa,
18 Desember 2012
Rabu,
19 Desember 2012
Kamis,
20 Desember 2012
|
Kamis,
20 Desember 2012
Jum’at
21 Desember 2012
Sabtu,
22 Desember 2012
|
5. INTERVENSI
|
NO
DX
|
TUJUAN
DAN KRITERIA HASIL
|
INTERVENSI
|
|
1
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan :
1. Nyeri
kepala (-)
2. Klien
sudah tidak terjadi gangguan pola tidur
3. Klien
tidak pucat
4. Klien
tidak gelisah
|
Mandiri :
1.
Pantau tanda-tanda vital,
intensitas/skala nyeri
Rasional : Mengenal
dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan
2.
Anjurkan klien istirahat ditempat
tidur.
Rasional :
istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri
3.
Atur posisi pasien senyaman
mungkin
Rasional : posisi
yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi
nyeri.
4.
Ajarkan teknik relaksasi dan
napas dalam
Rasional : relaksasi
mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
Kolaborasi
:
1.
Kolaborasi untuk pemberian
analgetik
Rasional : analgetik
berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.
|
|
2
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan :
1. Klien
tidak terjadi perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan dan
depresi
2. Otot-otot
daerah leher klien tidak menegang
3. Klien
tidak terjadi Penurunan refleks tendon dalam
|
Mandiri :
1. Kaji
kapasitas fisiologis yang bersifat umum
Rasional : Mengenal sejauh dan mengidentifikasi
penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan
keperawatan
2.
Sarankan klien untuk
mengekspresikan perasaannya.
Rasional : klien akan
merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya dan menjadi lebih
tenang
3. Berikan
informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang
diharapkan.
Rasional : agar klien mengetahui
kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan memberikan klien harapan dan
semangat untuk pulih.
4. Dekati
pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan yang
dapat diajarkan
Rasional : membuat klien merasa lebih
berarti dan dihargai.
|
|
3
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan :
1. klien
dapat mengetahui akan penyakit yang
diderita
2. klien
dapat mengikuti instruksi
|
Mandiri :
1.
Kaji tingkat pengetahuan klien
dan keluarga tentang penyakitnya.
Rasional : megetahui seberapa jauh
pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya
2.
Berikan penjelasan pada klien
tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
Rasional : dengan mengetahui penyakit
dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan
mengurangi rasa cemas
3.
Diskusikan mengenai pentingnya
posisi atau letak tubuh yang normal
Rasional : agar klien mampu melakukan
dan merubah posisi/letak tubuh yang kurang baik.
4.
Anjurkan pasien untuk selalu
memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan
Rasional : dengan memperhatikan faktor
yang berhubungan klien dapat mengurangi sakit kepala sendiri dengan tindakan
sederhana, seperti berbaring, beristirahat pada saat serangan.
|
6. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
|
Hari/
Tanggal
|
No.DX
|
Implementasi
dan Hasil
|
Paraf
|
|
|
1
|
1. Memantau
tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
2. Menganjurkan
klien istirahat ditempat tidur.
3. Mengatur
posisi pasien senyaman mungkin
4. Mengajarkan
teknik relaksasi dan napas dalam
5. Memberikan
obat analgetik
|
|
|
|
2
|
1. Mengkaji
kapasitas fisiologis yang bersifat umum
2. Menyarankan
klien untuk mengekspresikan perasaannya.
3.
Memberikan informasi mengenai
penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan.
4. Mendekati
pasien dengan ramah dan penuh perhatian, mengambil keuntungan dari kegiatan
yang dapat diajarkan
|
|
|
|
3
|
1. Mengkaji
tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
2. Memberikan
penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
3. Mendiskusikan
mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal
4. Meganjurkan
pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan
|
|
7. EVALUASI
|
Hari
/ Tanggal
|
No.
DX
|
Evaluasi
|
Paraf
|
|
|
1
|
S : klien sudah tidak merasa nyeri
O :
Nyeri
kepala (-)
Klien
sudah tidak terjadi gangguan pola tidur
Klien
tidak pucat
Klien
tidak gelisah
A : masalah
gangguan rasa nyaman nyeri sudah teratasi
P : intervensi dihentikan
|
|
|
|
2
|
S : Klien
tidak terjadi perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan dan
depresi
O :
Otot-otot
daerah leher klien tidak menegang
Klien
tidak terjadi Penurunan refleks tendon dalam
A : masalah
Koping individual tak efektif sudah teratasi
P : intervensi dihentikan
|
|
|
|
3
|
S : klien
dapat megetahui akan penyakit yang di deritanya
O :
klien
dapat mengetahui akan penyakit yang
diderita
klien
dapat mengikuti instruksi
A : masalah
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan sudah teratasi
P : intervensi dihentikan
|
|
BAB III
PENUTUP
Meningitis
merupakan salah satu jenis infeksi yang menyeranga susunan saraf pusat, dimana
angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Pada banyak penyakit yang
mempunyai mobiditas dan mortalitas yang tinggi, prognosis penyakit sangat
ditentukan pada permulaan pengobatan. Beberapa bakteri penyebab meningitis ini
tidak mudah menular seperti penyakit flu, pasien meningitis tidak menularkan
penyakit melalui saluran pernapasan. Resiko terjadinya penularan sangat tinggi
pada anggota keluarga serumah, penitipan anak, kontak langsung cairan ludah
seperti berciuman. Perlu diketahui juga bahwa bayi dengan ibu yang menderita
TBC sangat rentan terhadap penyakit ini.
Diagnose keperawatan yang muncul
tergantung dengan kondisi saat pengkajian, tapi yang utama adalah Nyeri
berhubungan dengan proses inflamasi; resiko terjadi peningkatan tekanan
intrakranial berhubungan dengan Infeksi pada selaput otak; resiko cedera berhubungan
dengan kejang, reflek meningkat; perubahan proses keluarga berhubungan dengan
anak yang menderita penyakit serius.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Muscari, Mary
E. 2005. Panduan belajar : Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.
Cecily Lynn
Betz. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta ; EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar