Selasa, 15 Oktober 2013

MENINGITIS



                                                       BAB I
PENDAHULUAN
1.   LATAR BELAKANG
            Penyakit infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang utama. Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%.
            Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka kejadian penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa Haemophilus influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis. Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 – 4 tahun dan 15 – 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi mental 17%, kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%.

2.      TUJUAN
Tujuan umum :
Tujuan dalam pembuatan makalah ini secara umum adalah untuk membantu mahasiswa dalam mempelajari tentang anemia dan asuhan keperawatan Leukemia Akut.
Tujuan khusus :
1.      Mengetahui pengertian dari Meningitis
2.      Menngetahui penyebab dari Meningitis
3.      Mengetahui tanda dan gejala dari Meningitis
4.      Mengetahui klasifikasi dari Meningitis
5.      Mengetahui komplikasi dari Meningitis
6.      Mengetahui pemeriksaan penunjang dari Meningitis
7.      Mengetahui penatalaksanaan medis dari Meningitis
8.      Mempelajari asuhan keperawatan Meningitis

3.      RUMUSAN MASALAH
1)      Apa pengertian Meningitis?
2)      Apa saja penyebab Meningitis?
3)      Apa saja tanda dan gejala yang timbul pada pasien Meningitis?
4)      Apa saja komplikasi dari Meningitis?
5)      Apa saja penatalaksanaan medis dari Meningitis?
6)      Apa saja pemeriksaan penunjang dari Meningitis?
7)      Bagaimana proses perjalanan penyakit Meningitis?
8)      Dan bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien Meningitis?



BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM SYARAF & VERTIGO

I.    ANATOMI DAN FISIOLOGI OTAK
      Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
Lapisan Otak (meningen) lapisan otak biasa juga disebut meningen.
Menurut Willson (2006), selaput otak terdiri atas tiga lapisan yaitu:
1)      Durameter
Selaput keras pembungkus otak yang berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat, pada bagian tengkorak terdiri atas selaput (perios) tulang tengkorak dan durameter tropia bagian dalam. Durameter mengandung rongga yang mengalirkan darah dari vena otak, dan dinamakan sinus vena.
2)      Arachnoidea
Arachnoidea yaitu selaput tipis yang membentuk sebuah balon yang berisi cairan otak meliputi seluruh susunan saraf sentral, otak, dan medulla spinalis. Arachnoidea berada dalam balon yang berisi cairan. Ruang sub arachnoid pada bagian bawah serebelum merupakan ruangan yang agak besar disebut sistermagna. Ruangan tersebut dapat dimasukkan jarum kedalam melalui foramen magnum untuk mengambil cairan otak, atau disebut fungsi sub oksipitalis.
3)      Piameter
Merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak. Piameter berhubungan dengan arachnoid melalui struktur jaringan ikat. Tepi flak serebri membentuk sinus longitudinal inferior dan sinus sagitalis inferior yang mengeluarkan darah dari flak serebri tentorium memisahkan serebrum dengan serebelum (Willson, 2006).
                                             
A.    Pengertian
            Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat. (Suriadi, dkk. Asuhan Keperawatan pada Anak, ed.2, 2006)
            Meningitis adalah infeksi ruang subaraknoid dan leptomeningen yang disebabkan oleh berbagai organisme pathogen. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1, 2006)
            Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup udara tersebut. (Anonim, 2007 dalam Juita, 2008).
            Meningitis adalah infeksi pada meninges yang biasanya disebabkan oleh invasi bakteri dan hanya sedikit oleh virus. Prognosisya bergantung pada usia anak, organisme, dan respons anak terhadap terapi. Meningitis bakteri menyebabkan kematian jika tidak ditangani segera. Kebanyakan kasus terjadi antara usia 1 bulan dan 5 tahun. Bayi dibawah usia 12 bulan paling rentan terhadap meningitis bakteri.
            Meningitis adalah inflamasi akut pada meninges. Organisme penyebab meningitis bakterial memasuki area secara langsung sebagai akibat cedera traumatik atau secara tidak langsung bila dipindahkan dari tempat lain di dalam tubuh ke dalam cairan serebrospinal (CSS). Berbagai agens dapat menimbulkan inflamasi pada meninges termasuk bakteri, virus, jamur dan zat kimia.
            Sejak pengenalan dan penyebaran penggunaan vaksin Haemophilus Influenza tipe B, organisme ini telah dikendalikan secara luas di dunia yang telah berkembang. Patogen bakteri yang utama pada anak dan dewasa adalah Streptococcus pneumoniae yang diikuti dengan Neisseia meningitidis. Pada bayi yang berusia 0 sampai 3 bulan, penyebab tersering adalah Streptococcus grup B, Escherichia coli dan Listeria monocytogenes.

B.     Etiologi
            E.Coli , Streptococcus grup B dan Listeria monocytogenes meupakan organisme yang paling sering menyebabkan meningitis pada neonatus. Haemophilus influenza, Neisseria meningitidis dan Diplococcu pneumoniae merupakan organisme yang paling umum menyebabkan meningitis pada bayi dan anak-anak. Namun, vaksin Hib mampu menurunkan insednsi meningitis H influenza. Organisme penyebab lainnya adalah Streptococcus B-hemolitikus dan Staphylococcus aureus. Meningitis virus (disebabkan oleh virus coxsackie, virus echo atau ggondong) merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dan berlangsung antara 7 sampai 10 hari.
Faktor resiko :
1.    Faktor predisposisi: laki-laki lebih sering disbanding dengan wanita
2.    Faktor maternal: rupture membran fetal, infeksi metrnal pada minggu terakhir kehamilan
3.    Faktor imunologi: usia muda, defisiansi mekanisme imun, defek lien karena penyakit sel sabit atau asplenia (rentan terhadap S. Pneumoniae dan Hib), anak-anak yang mendapat obat-obat imunosupresi
4.    Anak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan system persarafan
5.    Faktor yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi rendah: lingkungan padat, kemiskinan, kontak erat dengan individu tang terkena (penularan melalui sekresi pernapasan)

C.    Patofisiologi
            Meningitis aseptik umumnya disebabkan oleh enterovirus dan lebih banyak menyerang individu dewasa muda daripada anak-anak. Anak yang lebih besar umumnya menunjukkan berbagai tanda prodromal yang tidak khas dan gejala-gejala yang mirip flu, yang berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Meskipun keletihan dan kelemahan dapat berlangsung selama beberapa minggu, sekuele jarang ditemukan. Anak dievaluasi dan diobati sampai meningitis bakterialnya sembuh. Meningitis virus umumnya hanya memerlukan hospitalisasi singkat; perawatan pendukung dirumah merupakan intervensi yang utama.
            Otitis media, sinusitis atau infeksi saluran pernapasan dapat menjadi tahap awal dari infeksi. Selain itu, predisposisi karenna defisiensi imun meningkatkan timbulnya penyakit ini. Setelah meninges terinfeksi, organismenya menyebar ke otak dan jaringan sekitar melalui CSS. Prognosis dari gangguan ini bervariasi, bergantung pada usia, organisme yang menginfeksi, kecepatan terapi antibiotik yang diberikan dan adanya fakor-faktor yang mempersulit. Meningitis neonatall berkaitan dengan angka mortalitas yang tinggi dan meningkatnya insidens sekuele neurologis. Pada banyak individu yang terkena, meningitis bakterial menyebabkan perubahan perilaku, disfungsi motorik dan perubahan koginitif, seprti defisit persepsi.
            Pada meningitis bakteri, bakteri masuk ke meninges melalui aliran darah dan menyebar melalui CSS; meninges dapat terinfeksi secara langsung melalui trauma atau bedah neurologi. Patogen bertindak sebagai toksin, menimbulkan respons inflamasi meningeal dan pelepasan eksudat purulen. Infeksi menyebar dengan cepat melalui eksudat. Eksudet dapat menutupi pleksus koroid dan menyumbat vili araknoid sehingga mengakibatkan hidrosefalus. Kongesti vaskular dan inflmasi menyebabkan edema serebral, yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (TIK). Nekrosis sel-sel otak dapat menyebabkan kerusakan permanen dan kematian. Komplikasi antara lain hidrosefalus obstruktif, trombus pada vena meningeal atau sinus vena, abses otak, ketulian, kebutaan dan paralisis. Meningitis meningokokus dapat mengakibatkan sepsis meningokokus. Jika keadaanya parah, mendadak dan fulminans, disebut sebagai sindrom Waterhouse-Frederichsen yang idsertai karakteristik koagulasi intravaskular desiminata (DIC, Disseminated Intravascular Coaugaltion), perdarahan masif adrenal bilateral, dan pupura. Angka mortalitas yang tinggi hampir 90%.

D.    Manifestasi Klinik
Neonatus :
1.         Suhu dibawah normal
2.         Demam – biasanya derajat rendah
3.         Pucat
4.         Letargi atau somnolen
5.         Iritabilitas atau rewel
6.         Kurang makan dan / atau mengisap
7.         Muntah
8.         Kejang
9.         Tonus buruk
10.     Diare dan atau muntah
11.     Fontanel menonjol
12.     Opistotonus
Bayi dan Anak Kecil :
1.         Letargi
2.         Iritabilitas
3.         Pucat
4.         Anoreksia atau kurang makan
5.         Mual dan muntah
6.         Makin sering menangis
7.         Minta digendong
8.         Peningkatan tekanan intrakranial
9.         Peningkatan lingkar kepala
10.     Fontanel menonjol
11.     Kejang
12.     Sunset eyes
Anak yang Lebih Besar :
1.         Sakit kepala
2.         Demam
3.         Muntah
4.         Iritabilitas
5.         Fotofobia
6.         Kaku kuduk dan tulang belakang
7.         Tanda Kernig positif
8.         Tanda Brudzinski positif
9.         Opistotonus
10.     Petekie (meningitis H.Influenzae dan meningokokuus)
11.     Septikemia
12.     Syok
13.     Koagulasi intravaskular diseminata (DIC)
14.     Konfusi
15.     Kejang

E.     Klasifikasi
1)        Meningitis Purulenta:
Radang selaput otak ( araknoidea dan piameter) yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman nonspesifik dan nonvirus.
2)        Meningitis Tuberkulosa:
Terjadi akibat komplikasi penyebaran tuberculosis primer, biasanya dari paru. Meningitis terjadi bukan karena terimfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran hematogen, tetapi biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah ke rongga araknoid (Rich dan McCordeck). Anak-anak yang ibunya menderita TBC kadang-kadang mendapatkan meningitis tuberkolusa pada bulan-bulan pertama setelah lahir.

F.     Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan Meningitis adalah :
1.    Tuli
2.    Buta
3.    Efusi subdural (20%-30% kasus)
4.    Peningkatan sekresi hormon antidiuretik (ADH)
5.    Perkembangan terlambat atau gangguan intelektual
6.    Hidrosefalus
7.    Edema serebri
8.    Gangguan kejang kronis
9.    Parasesis otot wajah

G.    Pemeriksaan Penunjang
1)      Analisis CSS (dengan pungsi lumbal) dapat menegakkan diagnosis (CSS mungkin berkabut, sel darah putih meningkat, dan kadar glukosa menurun) dan agens penyebab. Pungsi lumbal tidak dilakukan jika anak mengalami peningkatan TIK. Hal ini dilakukan untuk mencegah herniasi otak.
2)      HDL menyatakan peningkatan hitung sel darah putih.
3)      Kultur darah juga dapat mengidentifikasi agens penyebab.
4)      Pungsi lumbal dan kultur CSS dengan hasil sebagai berikut :
a.    Hitung sel darah putih – meningkat sampai lebih dari 100/mm3
b.    Pewarnaan gram CSS
c.    Kadar glukosa – menurun (nakterial); normal (virus)
d.   Protein – tinggi (bakterial, tuberkular, infeksi kongenital); sedikit meningkat (infeksi virus)
e.    Tekanan – meningkat, lebih dari 50 mmHG pada bayi yang tidak menangis dan lebih dari 85 mmHg pada anak
f.     Pemeriksaan untuk mengidentifikasi organisme penyebab – Neisseria mneingitidid, organisme gram positif (streptokokus, stafilokokus, pneomkokus, H.Influenza), atau virus (koskavirus, echovirus)
g.    Asam laktat – meningkat (bakterial)
5)      Glukosa serum meningkat
6)      Hitung darah lengkap dengan diferensial, hitung trobosit
7)      Kultur darah – untuk mengidentifikasi organisme penyebab
8)      Kultur urine/urinalisis -untuk mengidentifikasi organisme penyebab.
9)      Kultur nasofaring – untuk mengidentifikasi organisme penyebab
10)  Kadar elektrolit serum – meningkat jika anak dehidrasi; natrium serum (Na+) naik; kalium serum (K+) turun
11)  Osmolaritas urine – meningkat dengan peningkatan sekresi ADH

H.    Penatalaksaan Medis & Keperawatan
Penetalaksanaan Medis :
Penetalaksaan medis lebih bersifat mengatasi etiologi dan perawat perlu menyesuaikan dengan standar pengobatan sesuai tempat bekerja yang berguna sebagai bahan kolaborasi dengan tim medis. secara ringkas penatalaksanaan pengobatan meningitis meliputi :
Pemberian anitibiotik yang mampu melewati barier darah otak ke ruang subarakhnoid dalam konsentrasi yang cukup untuk menghentikan perkembangan bakteri. Biasanyya menggunakan sefaloposforin generasi keempat atau sesuai dengan hasil uji resistensi antibiotik agar pemberian antimikrooba leih efektif digunakan.
Obat ifeksi (meningitis tberkuloas).
-       Isoniazid 10 – 20 mg/kg BB / 24 jam, oral , 2x sendiri maksimal 500mg selama 1 ½ tahun
-       Rifampisin 10 – 15 mg/kgBB/24 jam , oral, 1 x sehari selama 1 tahun
-       Streptomisin sulfat 20 – 40 mg/ kg BB/ 24 jam, IM , 1-2 x sehari selama 3 bulan
Obat anti-infeksi (meningitis bakterial)
-       Sefalosporin generasi ketiga
-       Amfisilin 150 – 200 mg (400mg)/kgBB/24jam, IV, 4 – 6 x sehari.
-       Kloramfenikol 50 mg/kgBB/24jam IV 4xsehari
Pengobatan simtomatis :
-       Antikonvulsi, diazepam IV ; 0,2 – 0,5 mg/kgBB/dosis atau rektal 0,4-0,6 mg/kgBB atau Feniton 5mg/kgBB/24jam, 3xsehari atau Fenobarbital 5-7mg/kgBB/24jam , 3xsehari
-       Antipiretik : parasetamol / asam salisilat 10 mg/kgBB/dosis
-       Antiedema serebri : Diuretik oosmotik (seperti manitol) dapat digunakan untuk megobati edemma serebri
-       Pemenuhan oksigenasi dengan O2
-       Pemenuhan hidrasi atau pencegahan syok hipovolemik : pemberian tambahan volume cairan intravena.
Penatalaksaan keperawatan :
1)        Lakukan pengkajian dengan cermat untuk memantau karakteristik klinis tahap awal penyakit
2)        Pantau suhu dan tanda vital dengan sering
3)        Pantau asupan dan haluaran serta keseimbangan cairan dan elektrolit
a.    Anak-anak dengan penurunan kesadaran sebaiknya dipuasakan (NPO); sedangkan yang lainnya diperbolehkan menerima cairan dan diet secara pogresif jika dapat ditoleransi..
b.    Asupan cairan dapat tetap dibatasi sebanyak dua per tiga dari asupan normal untuk mencegah edema serebral.
c.    Kelebihan cairan dihindari untuk mencegah terjadinya SIADH (Syndrome of Inappropriate Diuretic Hormone), yaitu sindrome ketidaktepatan hormon diuretik.
4)        Periksa fungsi neurologik dan pantau tingkat kesadaran
a.    Ukur lingkar kepala untuk pemantauan efusi subdural dan hidrosefalus obstruktif, yang dapat berkembang sebagai komplikasinya.
b.    Kaji adanya tanda-tanda peningkatan TIK
5)        Berikan obat-obatan sesuai indikasi , seperti antibiotik (jenisnya bergantung pada organisme penyebab), steroid (untuk menurunkan edema serebral), dan antikonsulvan.
6)        Berikan intervensi penunjang, termasuk tindakan mempertahankan kestabilan suhu tubuh.
7)        Cegah penyebaran infeksi kepada orang lain. Lakukan prosedur isolasi untuk tindakan pencegahan pernapasan selama 24 sampai 48 jam setelah dimulainya pemberian antibiotik.
8)        Jaga ketenangan ruangan untuk menurunkan stimulus dari lingkungan.



ASUHAN KEPERAWATAN ANAK MENINGITIS
Ny. H ibu dari An.D yang berusia 5 tahun datang ke IGD rumah sakit sayang anak sambil menangis. Ibu mengeluhkan anaknya mengalami demam, dan kejang selama dirumah. Setelah dilakukan pemeriksaan, suhu anak 38oC , kaku kuduk (+), anak tampak letargi. Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan lumbal pungsi pada anak D. Dokter mencurigai anak D mengalami infeksi pada selaput otaknya. Anak D dianjurkan untuk dirawat dan ditempatkan di ruang isolasi. Untuk mengatasi demam perawat melakukan tepid sponge, Dokter memberikan resep antibiotik dan antipiretik untuk anak.

1.    PENGKAJIAN
1)      Data Pasien :
Nama klien                  : An. D
Umur                           : 5 Tahun
Diagnosa Medik          : Infeksi pada selaput otak
Tanggal Masuk            : 19/12/2011
Alamat                         : Jl. Tipar Halim rt.005/06 no 60j mekarsari-cimanggis depok
Suku                            : Jawa
Agama                         : Islam
Pekerjaan                     : -
Status perkawinan       : belum menikah
Status pendidikan       : -

2)      Riwayat penyakit :
Keluhan Utama :
Ibu mengeluhkan anaknya mengalami demam, dan kejang selama dirumah.

Riwayat Penyakit Sekarang :
Ny. H ibu dari An.D yang berusia 5 tahun datang ke IGD rumah sakit sayang anak sambil menangis. Ibu mengeluhkan anaknya mengalami demam, dan kejang selama dirumah. Setelah dilakukan pemeriksaan, suhu anak 38oC , kaku kuduk (+), anak tampak letargi.
Riwayat Penyakit Terdahulu :
Klien mengatakan sudah sering untuk dilakukan transfuse darah.

Riwayat Kesehatan Keluarga :


3)      Pemeriksaan fisik
a.    Aktifitas/ istirahat
Gejala : perasaan tidak enak
Tanda : ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan secara umum, keterbatasan dalam rentang gerak hipotonia
b.   Sirkulasi
Gejala : adanya riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis
Tanda :Tekanan darah meningkat, nadi menurun dan tekanan nadi berat, takikardi, disritmia (pada fase akut), seperti disritmia sinus.
c.    Eliminasi
Tanda : adanya inkontinensia dan atau retensi
d.   Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, kesulitan (pada periode akut)
Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.
e.    Hygiene
Gejala : ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri (pada periode akut)
f.     Neurosensori
Gejala : sakit kepala, Parastesia, terasa kaku pada semua persyarafan yang terkena, kehilangan sensasi (kerusakan pada syaraf cranial), hiperalgesia/ meningkatnya sensivitas pada nyeri (meningitis), timbul kejang. Gangguan penglihatan seperti diplopia. Fotopobia Ketulian atau hipersensitif terhadap kebisingan, Adanya halusinasi penghidu/ sentuhan.
Tanda : status mental/ tingkat kesadaran, letargi sampai kebingungan yang berat hingga koma. Kehilangan memori, sulit dalam mengambil keputusan, afasia / kesulitan dalam berkomunikasi. Mata (ukuran /reaksi pupil); unisokor atau tidak berespon terhadap cahaya (peningkatan TIK), nistagmus. Ptosis dan perubahan pada fungsi motorik dan sensorik pada wajah (kerusakan N-VII). Otot mengalami hipotonia/ flasid paralysis Hemiparese atau Hemiplegia Tanda Brudzinski positif atau tanda kernig Positif merupakan indikasi adanya iritasi meningeal. Kaku tunduk (nuchal ragidity). Refleks Tendon dalam, babinski positif. Reaksi abdominal menurun/ tidak ada, refleks kremastik hilang pada laki-laki.
g.    Nyeri/Kenyamanan
Gejala
: Sakit kepala, mungkin akan diperburuk dengan ketegangan; leher, punggung kaku; nyeri pada gerakan ocular, fotosensitivitas, sakit tenggorok
Tanda : Tampak terus terjaga, perilaku distraksi/gelisah, menangis.
h.   Pernapasan
Tanda : Peninkatan kerja pernapasan (periode awal). Perubahan mental (lateragi sampai koma) dan gelisah.
i.      Keamanan
Gejala : Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan atas/ infeksi lain meliputi mastoiditis, telinga tengah, sinus, abses gigi, infeksi pelvis abdomen atau kulit; fungsi lumbal, pembedahan, fraktur pada tengkorak/ cedera kepala, anemia sel sabit. Gangguan penglihatan dan pendengaran
Tanda : suhu meningkat, diaporesis, menggigil, Adanya ras, purpura menyeluruh perdarahan subkutan Kelemahan secara umum, tonus otot flasid atau spacic, paralysis atau paresis, gangguan sensasi
j.     Penyuluhan/ Pembelajaran
Gejala : Hipersensitif terhadap obat
Masalah medis sebelumnya seperti ; penyakit kronis/ gangguan umum, alkoholisme, dibetes melitus, splenektomi, imlantasi pirau ventrikel.

2.      DATA FOKUS
DATA SUBJEKTIF
DATA OBJEKTIF
  Ø  Ibu klien mengatakan anaknya mengalami demam, dan kejang selama dirumah
    Ø  Ibu klien mengatakan perasaan anaknya tidak enak
  Ø  Ibu klien mengatakan anaknya kesulitan berjalan
     Ø  Ibu klien mengatakan anaknya sulit berkemih
   Ø  Ibu klien mengatakan anaknya kehilangan nafsu makan
    Ø  Ibu klien mengatakan anaknya muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.   
    Ø  Ibu klien mengatakan anaknya mengeluh  sakit kepala
   Ø  Ibu klien mengatakan anaknya tubuhnya terasa kaku pada semua persyarafan
   Ø  Ibu klien mengatakan anaknya mengeluh nyeri pada kepala
  Ø  Ibu klien mengatakan anaknya mengeluh gangguan penglihatan (diplopia)
  Ø  Ibu klien mengatakan anaknya hipersensitif terhadap kebisingan,
  Ø  Ibu klien mengatakan anaknya sulit dalam mengambil keputusan
  Ø  Ibu klien mengatakan anaknya mengeluh ketegangan pada leher, punggung kaku
   Ø  Ibu klien mengatakan anaknya mengeluh nyeri pada gerakan ocular, fotosensitivitas, sakit tenggorok,
    Ø  Tanda-tanda Vital
             Suhu : 38oC
             Nadi : 65 x / menit
             Napas : 28 x / menit
             Tekanan darah : 130/80 mmHg
             Kaku kuduk (+)
    Ø  Klien tampak letargi.
    Ø  Klien terlihat ataksia
  Ø Pada klien ditemukan masalah berjalan (kesulitan berjalan)
    Ø  Klien terlihat kelumpuhan
    Ø  Klien terlihat kelemahan
  Ø  Klien terlihat mengalami keterbatasan dalam rentang gerak hipotonia
    Ø  Pada klien ditemukan turgor kulit jelek
    Ø  Pada klien terlihat membran mukosa kering
   Ø  Klien terlihat ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri
  Ø  Klien terlihat adanya halusinasi penghidu/ sentuhan.
  Ø  Klien terlihat afasia / kesulitan dalam berkomunikasi.

3.    ANALISA DATA
DATA
PROBLEM
ETIOLOGI
DS:
Ø  Klien mengeluh nyeri kepala tidak hilang sejak 2 hari yang lalu
Ø  Klien mengeluh letih, lemah,
Ø  Klien mengeluh mengalami keterbatasan gerak
Ø  Klien mengeluh nyeri pada saat sakit kepala
Ø  Klien mengatakan nyeri pada skala : 2
DO:
    Ø  Tanda-tanda Vital :
      Tekanan darah : 100/40 mmHg
      Nadi : 72 x / menit
      Suhu : 38oC
      Napas : 14 x / menit
  Ø  Klien terlihat letih, lemah, malaise, keterbatasan gerak
  Ø  Klien terlihat pucat dan wajah tampak kemerahan
    Ø  Klien terlihat kekhawatiran, ansietas
Gangguan rasa nyaman nyeri
Stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intracranial

DS :
Ø  Klien mengeluh letih, lemah,
Ø  Klien mengeluh mengalami keterbatasan gerak
Ø  Klien mengatakan merasa ketegangan pada mata
Ø  Keluarga klien mengatakan bahwa pasien mengalami insomnia
Ø  Keluarga klien mengatakan klien mudah cemas
Ø  Klien mengatakan dia mengalami penurunan berat badan
Ø  Klien terlihat gelisah dan tidak tenang
Ø  Klien mengeluh nyeri pada saat sakit kepala
DO:
Ø  Klien mengalami perubahan pada pola bicara/pola pikir
Ø  Klien terlihat pucat
Ø  Klien terlihat kekhawatiran, ansietas
Ø  Klien terlihat pucat dan wajah tampak kemerahan
Ø  Pada klien ditemukan ketegangan pada mata
Ø  Klien terlihat mengelami  kepustusasaan dan depresi
Koping individual tak efektif
ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja

DS :
Ø  Klien megeluh sudah mengalaminya beberapa kali
Ø  Klien mengeluh mual/muntah, anoreksia (selama nyeri),
Ø  Klien mengeluh nyeri pada saat sakit kepala
Ø  Klien terlihat gelisah dan tidak tenang
Ø  Klien mengatakan sudah lama mengeluh gejala seperti ini
Ø  Klien mengeluh seperti putus asa
DO:
Ø  Tanda-tanda Vital :
      Tekanan darah : 100/40 mmHg
      Nadi : 72 x / menit
      Suhu : 38oC
      Nafas : 14 x / menit
Ø  Klien terlihat letih, lemah, malaise, keterbatasan gerak
Ø  Klien mengalami perubahan pada pola bicara/pola pikir
Ø  Klien terlihat pucat
Ø  Klien terlihat mengernyitkan dahi dan memegangi kepalanya
Ø  Klien terlihat pucat dan wajah tampak kemerahan
Ø  Klien terlihat mengalami keputusasaan
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.
keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat

4.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TANGGAL DITEMUKAN
TANGGAL TERATASI
    1.      Gangguan rasa nyaman nyeri b.d Stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intracranial
    2.      Koping individual tak efektif b.d ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja
    3.      Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat
Selasa,
18 Desember 2012

 
Rabu,
19 Desember 2012


 Kamis,
20 Desember 2012
Kamis,
20 Desember 2012


Jum’at
21 Desember 2012


Sabtu,
22 Desember 2012

5.    INTERVENSI
NO DX
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
INTERVENSI
1
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan :
1.    Nyeri kepala (-)
2.    Klien sudah tidak terjadi gangguan pola tidur
3.    Klien tidak pucat
4.    Klien tidak gelisah
Mandiri :
1.    Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan
2.    Anjurkan klien istirahat ditempat tidur.
Rasional :  istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri
3.    Atur posisi pasien senyaman mungkin
Rasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
4.    Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
Kolaborasi  :
1.    Kolaborasi untuk pemberian analgetik
Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.
2
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan :
1.       Klien tidak terjadi perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan dan depresi
2.       Otot-otot daerah leher klien tidak menegang
3.       Klien tidak terjadi Penurunan refleks tendon dalam
Mandiri :
1.    Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum
Rasional :  Mengenal sejauh dan mengidentifikasi penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan
2.    Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya. 
Rasional : klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya dan menjadi lebih tenang
3.    Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan.
Rasional : agar klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan memberikan klien harapan dan semangat untuk pulih.
4.    Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan yang dapat diajarkan
Rasional : membuat klien merasa lebih berarti dan dihargai.
3
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan :
1.      klien dapat mengetahui  akan penyakit yang diderita
2.      klien dapat mengikuti instruksi
Mandiri :
1.    Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya
2.     Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas
3.    Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal
Rasional : agar klien mampu melakukan dan merubah posisi/letak tubuh yang kurang baik.
4.    Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan
Rasional : dengan memperhatikan faktor yang berhubungan klien dapat mengurangi sakit kepala sendiri dengan tindakan sederhana, seperti berbaring, beristirahat pada saat serangan.

6.    IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/ Tanggal
No.DX
Implementasi dan Hasil
Paraf

1
1.      Memantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
2.      Menganjurkan klien istirahat ditempat tidur.
3.      Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
4.      Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
5.      Memberikan obat analgetik


2
1.      Mengkaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum
2.      Menyarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya. 
3.      Memberikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan.
4.      Mendekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, mengambil keuntungan dari kegiatan yang dapat diajarkan


3
1.      Mengkaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
2.      Memberikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
3.      Mendiskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal
4.      Meganjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya  dan faktor-faktor yang berhubungan


7.    EVALUASI
Hari / Tanggal
No. DX
Evaluasi
Paraf

1
S : klien sudah tidak merasa nyeri
O :
Nyeri kepala (-)
Klien sudah tidak terjadi gangguan pola tidur
Klien tidak pucat
Klien tidak gelisah
A : masalah gangguan rasa nyaman nyeri sudah teratasi
P : intervensi dihentikan


2
S : Klien tidak terjadi perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan dan depresi
O :
Otot-otot daerah leher klien tidak menegang
Klien tidak terjadi Penurunan refleks tendon dalam
A : masalah Koping individual tak efektif sudah teratasi
P : intervensi dihentikan


3
S : klien dapat megetahui akan penyakit yang di deritanya
O :
klien dapat mengetahui  akan penyakit yang diderita
klien dapat mengikuti instruksi
A : masalah Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan sudah teratasi
P : intervensi dihentikan





BAB III
PENUTUP
           
Meningitis merupakan salah satu jenis infeksi yang menyeranga susunan saraf pusat, dimana angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Pada banyak penyakit yang mempunyai mobiditas dan mortalitas yang tinggi, prognosis penyakit sangat ditentukan pada permulaan pengobatan. Beberapa bakteri penyebab meningitis ini tidak mudah menular seperti penyakit flu, pasien meningitis tidak menularkan penyakit melalui saluran pernapasan. Resiko terjadinya penularan sangat tinggi pada anggota keluarga serumah, penitipan anak, kontak langsung cairan ludah seperti berciuman. Perlu diketahui juga bahwa bayi dengan ibu yang menderita TBC sangat rentan terhadap penyakit ini.
Diagnose keperawatan yang muncul tergantung dengan kondisi saat pengkajian, tapi yang utama adalah Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi; resiko terjadi peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan Infeksi pada selaput otak; resiko cedera berhubungan dengan kejang, reflek meningkat; perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius.
             





DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Muscari, Mary E. 2005. Panduan belajar : Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.
Cecily Lynn Betz. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta ; EGC






Tidak ada komentar:

Posting Komentar