BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Stroke atau cedera
serebrovaskular ( CVA ), adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh
berhentinya suplai darah ke bagian otak. Sering ini adalah kulminasi penyakit
serebrovaskular selama beberapa tahun.
Stroke adalah masalah neurologic primer di amerika
serikat dan di dunia. Meskipun upaya pencegahaan telah menimbulkan penurunan
pada insiden dalam beberapa tahun terakhir, stroke adalah peningkat ketiga
penyebab kematian, dengan laju mortalitas 18% sampai 37% untuk stroke pertama
dan sebesar 62% untuk stroke selanjutnya. Terdapat kira – kira 2 juta orang
bertahan hidup dari stroke yang mempunyai beberapa kecacatan; dari angka ini,
40% memerlukan bantuan dalam aktivitas kehidupan sehari – hari.
1.2.Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini
adalah :
a. Mahasiswa
dapat mengetahui anatomi fisiologi system saraf
b.Mahasiswa
dapat mengetahui definisi dari stroke
c. Mahasiswa
dapat mengetahui etiologi dari stroke
d.
Mahasiswa dapat
mengetahui klasifikasi stroke
e. Mahasiswa
dapat mengetahui patofisologi stroke
f. Mahasiswa
dapat mengetahui manifestasi klinis stroke
g.Mahasiswa
dapat mengetahui pemeriksa penunjang stroke
h.Mahasiswa
dapat mengetahui penatalaksanaan stroke
i. Mahasiswa
dapat mengetahui komplikasi stroke
j. Mahasiswa
dapat mengetahui pencegahan stroke
k.Mahasiswa
dapat membuat asuhan keperawatan stroke
1.3.Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari
makalah ini adalah :
1. Jelaskan
anatomi fisiologi dari system saraf ?
2. Apakah
pengertian dari stroke?
3. Apakah etiologi dari stroke ?
4. Apa
saja klasifikasi dari stroke ?
5. Jelaskan
patofisiologi stroke ?
6. Bagaimana
manifestasi stroke ?
7. Apa
pemeriksaan penunjang stroke ?
8. Bagaimana
penatalaksanaan penunjang dari stroke ?
9. Apakah
komplikasi dari stroke ?
10. Bagaimana
cara pencegahan dari stroke ?
11. Buat
asuhan keperawatan dari stroke ?
1.4.Sistematika Penulisan
BAB I pendahuluan
1.1.Latar
belakang
1.2.Tujuan
1.3.Rumusan
masalah
1.4.Sistematika
penulisan
BAB II pembahsan
BAB III penutup
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Anatomi Fisiologi Sistem Saraf
Sistem saraf
merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan
dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem saraf
memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan
yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam. Untuk menanggapi rangsangan, ada
tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu:
1.Reseptor,
adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang bertindak
sebagai reseptor adalah organ indera.
2.Penghantar
impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari berkas serabut
penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel khusus yang
memanjang dan meluas. Sel saraf disebut neuron.
3.Efektor, adalah
bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan oleh penghantar impuls.
Efektor yang paling penting pada manusia adalah otot dan kelenjar.
Sistem kerja
ketiga komponen tersebut dapat digambarkan seperti berikut:
Susunan saraf terdiri dari sel – sel (neuron )
dan sel – sel penyokong ( neuroglia dan sel sechwan ). Kedua jenis sel tersebut
erat berikatan dan berintegrasi satu sama lain sehingga bersama – sama
berfungsi sebagai satu unit.
1.Neuron
adalah sel – sel system saraf khusus
peka rangsangan yang menerima masukan sensoris atau masukan aferen dari ujung –
ujung saraf perifer khusus atau dari
organ reseptor sensoris dan menyalurkan aferen dari ujung – ujung saraf perifer
khusus atau dari organ reseptor sensorik dan menyalurkan masukan motorik atau
masukan eferen ke otot – otot dan kelenjar dimana kelenjar itu merupakan organ
– organ efektor .
Neuron Neuron dapat menyalukan data neural ke
neuron lain, dalam hal ini neuron tersebut sebagai neuron asosiasi atau neuron
intrermuncial.
bagian-bagian dari neuron :
- Badan sel (inti sel terdapat didalamnya)
- Bendrit : menghantarkan impuls menuju badan
sel
- Akson : menghantarkan impuls keluar dari
badan sel
Klasifikasi neuron berdasarkan bentuk :
a) Neuron unipolar
Terdpt
satu tonjolan yg bercabang dua dekat dengan badan sel, satu cabang menuju
perifer & cabang lain menuju SSP (neuron sensorik saraf spinal)
b) Neuron
bipolar
Mempunyai
dua tonjolan, 1 akson dan 1 dendrit
c) Neuron multipolar
Terdapat
beberapa dendrit dan 1 akson yg dpt bercabang-cabang banyak sekali
Sebagian besar organela sel pd neuron terdpt pada sitoplasma badan sel
Fungsi neuron : menghantarkan impuls saraf keseluruh tubuh (somatik dan viseral)
Impuls neuron bersifat listrik disepanjang neuron dan bersifat kimia diantara neuron (celah sinap / cleft sinaptik) Zat kimia yg disinteis neuron & disimpan didalam vesikel ujung akson disebut neurotransmiter yg dpt menyalurkan impuls
Contoh neurotransmiter : asetilcolin, norefineprin, dopamin, serotonin, gama-aminobutirat (GABA)
Sebagian besar organela sel pd neuron terdpt pada sitoplasma badan sel
Fungsi neuron : menghantarkan impuls saraf keseluruh tubuh (somatik dan viseral)
Impuls neuron bersifat listrik disepanjang neuron dan bersifat kimia diantara neuron (celah sinap / cleft sinaptik) Zat kimia yg disinteis neuron & disimpan didalam vesikel ujung akson disebut neurotransmiter yg dpt menyalurkan impuls
Contoh neurotransmiter : asetilcolin, norefineprin, dopamin, serotonin, gama-aminobutirat (GABA)
2. Neuroglia
merupakan penyokong, pelindung dan sumber nutrisi bagi neuron-neuron otak dan
medulla spinalis, sedangkan selschwan merupakan pelindung dan penyokong
neuron-neuron dan tonjolan neural di luar system saraf pusat.
Ada 4 macam neuroglia
a) Mikroglia : berperan sebagai fagosit
b) Ependima : berperan dalam produksi CSF
c) Astrosit : berperan menyediakan nutrisi neuron
dan mempertahankan potensial biolelektrik
d) Oligodendrosit : menghasilkan mielan pada
system saraf pusat selubung neuron
System saraf di bagi menjadi
3.myelin
a) komplek
protein lemak berwarana putih yang menutupi tonjolan saraf (neuron)
b) menghalangi
aliran ion Na dan K melintasi membrane neural
c) daerah
yang tidak bermielin disebut nodus ranvier
d) transmisi
impuls pada saraf bermielin lebih cepet dari pada yang tidak bermielin, karena
adanya loncatan impuls dari satu nodus ke nodus lainnya (konduksi saltatorik)
Pembagian sistem saraf secara
anatomi
1. System Saraf
Pusat (SSP)
Sistem saraf pusat (SSP) meliputi otak (ensephalon) dan sumsum
tulang belakang (medulla spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat
lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Selain
tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3 lapisan selaput
meninge. Bila membran ini terkena infeksi maka akan terjadi radang
yang disebut meningitis.
Ketiga lapisan membran
meninges dari luar ke dalam adalah sebagai berikut:
·
Dura
meter, - lapisan paling luar, menutup otak dan medulla
spinalis. Sifat dura meter liat, tebal, tidak elastic, berupa serabut dan
berwarna abu – abu. Bagian pemisah dura ; falx serebri yang memisahkan kedua
hemisfer dibagian longitudinal dan tentorium,
yang merupakan lipatan luar dura yang membentuk jaringan – jaringan yang kuat.
Jaringan ini mendukung hemisfer dan memisahkan hemisfer dengan bagian bawah
otak (fossa posterior). Jika tekanan di dalam rongga orak mengingkat, jaringan
otak terekan kea rah tentorium atau berpindah kebawah, keadaan ini disebut
herniasi.
·
Arakhnoid,-
merupaka membrane bagian tengah, membrane
yang bersifat tipis dan lembut ini menyerupai sarang laba – laba, oleh karena
itu disebut arakhoid. Membrane ini berwarna putih karena tidak dialiri darah.
Pada dinding arakhoid terdapat pleksus
khoroid, yang bertanggung jawab memproduksi cairan serebrospinal (CSS).
·
Pia
meter,- membrane yang paling dalam, berupa dinding
yang tipis, transparan, yang menutupi otak dan meluas ke setiap lapisan daerah
otak.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai 3 materi
esensial yaitu:
1.badan sel yang membentuk bagian
materi kelabu (substansi grissea)
2.serabut saraf yang membentuk bagian materi
putih (substansi alba)
3.sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang
terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat
Walaupun
otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama tetapi susunannya
berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak di bagian luar atau kulitnya (korteks)
dan bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah
berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa
materi putih.
Otak
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak
besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum
sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.
Berdasarkan perkembangan embriologik. Otak tengah, pons dan medulla
oblongata bersama-sama di namakan batang otak. Otak manusia di perkirakan
mempunyai berat 2% BB orang dewasa, menerima aliran darah 20% dari curah
jantung, membutuhkan oksigen 20% dari seluruh kebutuhan tubuh serta membutuhkan
400 kilo kalori energy setiap hari. Otak merupakan jaringan yang paling banyak
memakai energy terutama berasal dari proses metabolism oksidasi glukosa.
Jaringan otak sanagat rentan dan kebutuhan oksigen dan glukkosa melalui
perdarahan darah adalah konstan.
v Otak besar (serebrum)
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan
semua aktivitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi),
ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan.
Serebrum terdiri dari dua hemisfer dan empat lobus. Substansia
grisea terdapat pada bagian luar dinding serebrum dan subtansia alba menutupi
dinding serebrum bagian dalam.
Empat lobus serebrum adalah sebagai berikut :
(a)
Frontal,- lobus
terbesar, terletak pada fossa anterior. Area ini mengontrol perilaku individu,
membuat keputusan, kepribadian dan menahan diri.
(b) Pariental,- lobus
sensori. Area ini menginterprestasikan sensai. Sensari rasa yang tidak
berpengaruh adalah bau. Lobus pariental mengatur individu mampu mengetahui
posisi dan letak bagian tubuhnya. Kerusakan pada daerah ini menyebabkan sindrom
hemineglect.
(c) Temporal, -
berfungsi mengintegrasikan sensai cap, bau , dan pendengaran. Ingatan jangka
pendek sangat berhubungan dengan daerah ini.
(d)
Oksipital,-
terletak pada lobus posterior hemisfer serebri.bagian ini bertanggung jawab
menginterprestasikan penglihatan.
Korpus kolosum adalah kumpulan serat – serat saraf yang tipis, yang
menghubungkan kedua hemisfer otak dan bertanggungjawab dalam transmisi informasi
salah satu sisi otak bagian lain. Orang yang dominan menggunakan tangan kanan
dan beberapa orang yang dominan menggunakan tangan kiri, mempunyai bagian
serebri dominan pada daerah otak kiri, otak dengan kemampuan lebih pada
berbicara, bahasa aritmtika, menghitung dan fungsi analisis. Daerah hemisfer
yang tidak dominan bertanggung jawab dalam kemampuandalam geometric,
penglihatan, membuat pola dan fungsi musical.
v Otak tengah (mesensefalon)
Otak
tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah
terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar
endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang
mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat
pendengaran.
a) Thalamus,- berapa
pada salah satu sisi pada sepertiga ventrikel dan aktivitas primernya sebagai
pusat penyambung sensasi bau yang diterima. Dan semua impuls memori, sensasi
dan nyeri.
b) Hipotalamus,-
terletak pada anterior dan inferior thalamus. Berfungsi mengontrol dan mengatur
system saraf autonom. Hipotalamus bekerjasama dengan hipofisis untuk
mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan pengaturan suhu tubuh
melalui peningkatan vasokonstriksi atau vasodilatasi dan mempengaruhi sekresi
hormonal dengan kelenjar hipofisis. Hipotalamus juga sebagai pusat lapar dan
mengontrol berat badan. Sebagai pengaturan tidur, tekanan darah, perilaku
agresif dan seksua dan pusat respon emosional ( mis, rasa malu, marah, depresi,
panic, takut )
c)
Kelenjar
hipofisis,- sebagai
master kelenjar karena sejumlah hormone – hromon dan fungsinya diatur oleh
kelenjar hipofisis. Dengan hormone – hormonenya hipofisis dapat mengontrol
fungsi ginjal, pancreas, organ – organ reproduksi, tiroid, korteks adrenal dan
organ –organ lain.
Hipofisis merupakan bagian otak yang tiga kali lebih sering timbul
tumor pada orang dewasa, biasanya terdeteksi dengan tanda dan gejala fisik yang
dapat menyebar ke hipofisis.
Hipofisis lobus anterio memproduksi
1) Hormone
pertumbuhan,
2) Hormone
adrenokortikotropik (ACTH),
3) Prolaktin,
4) Hormone
perangsang tiroid (TSH),
5) Hormone
folikel (FSH) dan
6) Luteinizing
hormone (LH).
Lobus posterior berisi ; hormone antidiuretik (ADH) yang mengatur
sekresi dengan retensi cairan pada ginjal. Dua sindrom yang sering muncul
dihubungkan dengan abnormalitas ADH adalah diabetess insipidus ( DI ) dan
sindrom ketidaktepatan ADH (SIADH)
v Otak kecil (serebelum)
Serebelum terletak pada fossa posterior dan terpisah dari hemisfer
serebral, lipatan dura meter, tentorium serebelum. Serebelum mempunyai dua aksi
yaitu merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang luas terhadap
koordinasi dan gerakan halus. Ditambah mengontrol gerakan yang benar,
keseimbangan, posisi dan mengintegrasikan input sensorik.
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam
koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi
tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar
yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
v Sumsum sambung (medulla oblongata)
Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang
datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga memengaruhi
jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan
kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan.
Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak
refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan berkedip.
v Jembatan varol (pons varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf yang
menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar
dan sumsum tulang belakang.
Berdasarkan letaknya, otak dapat dibagi menjadi
lima yaitu:
(a) Telensefalon (end brain) terdiri dari
:
Hemisfer
serebri
kortek
serebri
sistem
limbik (Bangsal ganglia, hipokampus, Amigdala)
(b) Diensefalon (inter brain), terdiri dari :
Epitalamus
Talamus
Subtalamus
Hipotalamus
Talamus
Subtalamus
Hipotalamus
(c) Mesensefalon (mid brain),terdiri dari :
Kolikulus superior
Kolikulus inferior
Substansia nigra
(d) Metensefalon (after brain), terdiri dari :
Pons
Serebelum
Mielensefalon
Medula oblongata
Serebelum
Mielensefalon
Medula oblongata
(e)
Mielensefalon (marrow brain)
v Sirkulasi serebral
Siklus serebral menerima kira – kira 20% dari curah jantung atau
750 ml permenit. Sirkulasi ini sangat
dibutuhkan, karena otak tidak menyimpan makanan, sementera mempunyai kebutuhan
metabolism yang tinggi.
1) Arteri – arteri,- darah
arteri yang disuplai ke otak berasal dari dua arteri carotid internal dan dua
arteri vertebral dan meluas ke system percabangan.
Arteri
– arteri vertebral adalah cabang dari arteri subklavia, mengalir ke belakang
dan naik pada satu sisi tulang belakang bagian ventrikal dan masuk tengkorak
melalui foramen magnum. Kemudia saling berhubungan menjadi arteri basilaris
pada batang otak. Arteri vertebrobasilaris paling banyak menyuplai darah keotak
bagian posterior.
2) Sirkulus willisi,- pada
dasr otak di sekitar kelenjar hipofisis, sebuah lingkaran arteri terbentuk
diantara rangkaian arteri carotid internal dan vertebral lingkaran ini disebut
sirkulasi willisi.
Aliran darah dari sirkulus willisi secara langsung mempengaruhi
sirkulasi anterior dan posterior serebral, arteri – arteri pada sirkulus
anterior dan posterior serebral, arteri – arteri sirkulus willisi member rute
alternative pada aliran darah jika salah satu peran arteri mayor tersumbat.
3)
Vena,- aliran
vena untuk otak tidak menyertai sirkulasi arteri sebagaimana pada struktur
organ lain. Vena – vena pada otak menjangkau daerah otak dan bergabung menjadi
vena – vena yang besar. Jaringan kerja pada sinus – sinus membawa vena keluar
dari otak dan pengosongan vena jugularis internal menuju system sirkulasi
pusat. Vena – vena serebri tidak mempunyai katub untuk mencegah aliran balik
darah.
v Barier darah – otak
System saraf pusat tidak dapat dimasuki beberapa zat yang ada pada
sirkulasi dara ( mis, zat warna, obat – obatan, antibiotic ). Setelah
disuntikan kedalam aliran darah, zat – zat ini tidak menjangkau neuron – neuron
system saraf pusat. Fenomena ini disebut barier
darah – otak. Sel – sel endotel pada kapiler – kapiler otak membentuk persampingan
penghubung yang kuat, hal ini menciptakan barier terhadap molekul makro dan
gabungan beberapa zat. Barier terhadap molekul – molekul besar yang masuk
kecairan serebrospinal disebabkan oleh rendahnya permeabilitas terhadap sel
–sel yang keluar pada pleksus koroid. Semua zat – zat yang masuk CSS harus
disaring melalui membrane kapiler pleksus koroid. Apabila terjadi trauma, edema
serebri dan hipoksemia serebri maka dengan adanya barier darah – otak perlu
dilakukan seleksi pengobatan atau obat yang diberikan untuk proses penyakit
system saraf pusat.
v Cairan serebrospinal
Cairan serebrospinal merupakan cairan yang bersih dan tidak
berwarna dengan berat jenis 1,007, diproduksi didalam ventrikel dan bersikulasi
disekitar otak dan medulla spinalis melalui system ventricular.ventrikel
terdiri dari 4 ventikel yaitu ventrikel lateral kanan, kiri, ventrikel ketiga
dan keempat. Kedua ventrikel lateral luar keventrikel ketiga pada foramen
antara ventricular dan foramen monro. Ventrikel ketiga dan keempat berhubungan
dengan melalui saluran sylvius. Ventrikel keempat menyuplai CSS keruang
subarakhoid dan turun ke medulla spinalis pada permukaan daerah dorsal.
CSS diproduksi didalam pleksus koroid pada ventrikel lateral ketiga
dan keempat. System ventricular dan subarakhoid mengandung kira – kira 150 ml
air, 15 – 25 ml dari CSS terdapat di masing – masing ventrikel lateral.
Secara organic dan nonorganic kandungan CSS sama dengan plasma,
tetapi mempunyai perbedaan konsentrasi. CSS mengandung protein, glukosa dan
klorida, juga mengandung immunoglobulin. Secara normal CSS mempunyai sedikit
sel – sel darah putih dan tidak mengandung sel darah merah.
Sumsum tulang belakang (medula spinalis)
Merupakan suatu struktur lanjutan tunggal yang memanjang dari
medulla oblongata melalui foramen magnum dan terus kebawah melalui columna
vertebralis sampai setinggi vertebrata lumbalis pertama (L1) orang dewasa.
Medulla spinalis terbagi menjadi 32 segmen yang menjadi tempat asaldari 31
pasang saraf spinal.Segmen-segmen tersebut di beri nama sesuai dengan
vertebrata tempat keluarny aradiks saraf yang bersangkutan, sehingga medulla
spinalis di bagi menjadi cervical, thorakal, lumbal dan sacral.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang
tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu
dan berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian
seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap
bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke
sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari
sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk
dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan
menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor.
Suplai darah otak
Otak mendapat suplai darah dari 2 arteri besar,
yaitu :
1. Arteri karotis interna
2. Arteri vertebro basiler
2. System Saraf
Tepi (SST).
SST di bagi menjadi 31 pasang saraf spinal dan
12 pasang saraf kranial. Saraf perifer dapat terdiri dari neuron-neuron yang
menerima pesan-pesan neurosensorik( afferent) yang menuju ke system saraf pusatdan menerima
pesan-pesan motoric ( efferent) dari system sarafpusat. Saraf spinal
menghantarkan baik pesan-pesan aferent maupun efferent dengan demikian
saraf-saraf spinal dinamakan saraf campuran. Saraf-saraf cranial berasal dari
bagian permukan otak. 5 pasang merupakan saraf motoric, 3 pasang merupakan saraf
sensorik, dan 4 pasang merupakan saraf campuran. Secara fungsional system saraf
tepi di bagi menjadi system saraf somatic dan system sarafotonom.
a.
System
saraf somatic (SSS)
SSS terdiri dari system saraf campuran. Bagian afferent membawa
baik informasi sensorik yang disadari maupun informasi sensorik yang tidak
disadari
(misalnya nyeri, suhu, raba, propiosepsi yang di sadari maupun yang tidak di sadari, afferent penglihatan, pengecapan, pendengaran, penciuman) dari kepala, dinding tubuh dan ekstremitas. Saraf eferent terutama berhubungan dengan otot rangka tubuh.System saraf somatic mengenai interaksi dan respon terhadap lingkungan luar.
(misalnya nyeri, suhu, raba, propiosepsi yang di sadari maupun yang tidak di sadari, afferent penglihatan, pengecapan, pendengaran, penciuman) dari kepala, dinding tubuh dan ekstremitas. Saraf eferent terutama berhubungan dengan otot rangka tubuh.System saraf somatic mengenai interaksi dan respon terhadap lingkungan luar.
Saraf otak ada
12 pasang yang terdiri dari:
1. Tiga pasang saraf sensori, yaitu
saraf nomor 1, 2, dan 8
2. Lima pasang saraf motor, yaitu
saraf nomor 3, 4, 6, 11, dan 12
3. Empat pasang saraf gabungan sensori
dan motor, yaitu saraf nomor 5, 7, 9, dan 10.
Saraf otak dikhususkan untuk daerah kepala dan leher, kecuali
nervus vagus yang melewati leher ke bawah sampai daerah toraks dan rongga
perut. Nervus vagus membentuk bagian saraf otonom. Oleh karena daerah
jangkauannya sangat luas maka nervus vagus disebut saraf pengembara dan
sekaligus merupakan saraf otak yang paling penting.
Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan.
Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas 8 pasang saraf
leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf
pinggul, dan satu pasang saraf ekor.
Beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf yang
disebut pleksus. Ada 3 buah pleksus yaitu sebagai berikut.
(a) . Pleksus cervicalis merupakan gabungan urat saraf leher
yang mempengaruhi bagian leher, bahu, dan diafragma.
(b) Pleksus brachialis mempengaruhi bagian tangan.
(c) Pleksus Jumbo sakralis yang mempengaruhi bagian pinggul
dan kaki.
b.
System
saraf otonom (SSO)
System saraf otonom merupakan system saraf campuran juga dinamakan
serabut-serabut aferentnya membawa masukan dari organ-organ visceral (mengenai
pengaturan denyut jantung diameter pembuluh darah jantung, pernafasan,
pencernaan makanan, rasa lapar, mual, pembuangan dan sebagainya) saraf efferent
motrik system saraf otonom mempersyarafi otot polos, otot jantung, dan
kelenjar-kelenjar visceral. Sistem saraf otonom yang terutama menangani
pengaturan fungsi visceral interaksinya dengan lingkungan dalam. System saraf
otonom di bagi menjadi system saraf otonom di bagi menjadi system saraf otonom parasimpatis dan system saraf otonom simpatis. Bagian simpatis meninggalkan
system saraf pusat dari daerah thorakal dan lumbal (torakolumbal) medulla
spinalis. Bagian parasimpatis keluar dari otak (melalui komponen-komponen saraf
kranial).Dan bagian sacral medulla spinbalis (kraniosakral) beberapa fungsi
parasimpatis adalah meningkatkan kecepatan denyut jantung dan frekuensi
pernafasan serta penurunan aktifitas pencernaan. Adapun tujuan utaman fungsinya
adalah mempersiapkan tubuh agar siap menghadapi stress atau yang di namakan
respon “figh or flight” sebaliknya beberapa fungsi system saraf simpatisa
adalah menurunkan kecepatan denyut jantung dan frekuensi pernafasan dan meningkatkan
pergerakan saluran cerna sesuai dengan kebutuhan pencernaan dan pembuangan
sehingga saraf parasimpatis membantu konservasi dan homeostasis fungsi-fungsi
tubuh.
Manifestasi klinik dari gangguan system saraf otonom dapat
terjadi pada beberapa system tubuh
(akibat gannguan neurologis dan non neurologis). Gangguan neurologic dapat
memperlihatkan manifestasi klinis meliputi : gangguan pola nafas, gangguan
regulasi suhutubuh (hypothermia danhipertermia) nadi tidak normal, respon
pilomotor perubahan pupil, kulitdan vasomotor, serta gangguan digestif. Kaji
juga tentang adanya polyuria dan motilitas abnormal pada saluran cerna,
pengkajian abdomen dapat ditemukan adanya distensi bowel atau bladder.
Perhatikan juga adanya perubahan rasa haus, energy,libido, BB dan rasa lapar.
Kaji kulit, membrane mukosa, rambut dan kuku pada perubahan tropis. Perubahan
ini dapat terjadi pada penyakit yang di sebabkan oleh kehilangan innervasi
(suplai saraf otonom). Perubahan tropis ini di tandai oleh perubahan daerah
yang berkeringat suhu meningkat (seperti sianosis, wajah memerah, erythema),
kuku bias menjadi mudahpatah, tipis, bengkok dan mudah rusak, kulit bias
menjadi userasi, tipis, atrofi, pigmentasi, berminyak, berkalus, bersisik,
tebal, mengkilap dan kering. Rambut yang berminyak, mudah patah atau kering dan
pertumbuhan rambut yang abnormal. Kerusakan kulit pada daerah yang tertekan .
Parasimpatik
·
Mengecilkan pupil
·
Menstimulasi aliran ludah
·
Memperlambat denyut jantung
·
Membesarkan bronkus
·
Menstimulasi sekresi kelenjar pencernaan
·
Mengerutkan kantung kemih
Simpatik
·
Memperbesar pupil
·
Menghambat aliran ludah
·
Mempercepat denyut jantung
·
Mengecilkan bronkus
·
Menghambat sekresi kelenjar pencernaan
·
Menghambat kontraksi kandung kemih
Saraf cranial
|
Nervus
cranial
|
Fungsi
|
Pemeriksaan
|
|
I
olfaktorius
|
penciuman
|
Mata pasien ditutup, pasien
diperintahkan mengidentifikasikan bau yang
sudah dikenal (kopi,tembakau), masing –masing lubang hidung diuji secara
terpisah
|
|
II
Optikus
|
penglihatan
|
Pemeriksaan
dengan kartu snellen, lapang pandang, pemeriksaan
oftamoskopi
|
|
III
Okulomotorius
|
Gerak
mata, kontraks pupil, akomodasu
|
Test
lapang penglihatan. Kaji refleks pupil, pen ligh
|
|
IV
Thokhlearis
|
Gerak
mata
|
Letakkan
jari kiri pemeriksaan 25 cm didepan hidung pasien, lalu gerakkan jari 30 cm
ke kanan pasien dan berhenti, lalu gerakkan 20cm keatas dan berhenti dan
kebawah 40cm dan berhenti dan secara perlahan kembali ketengah. Lalu ulangi
hal seperti ini untuk arah ke kiri
|
|
V
Trigeminus
|
Sensasi
umum pada wajah, kulit kepala, gigi dan mengunyah
|
|
|
VI
Abducens
|
Gerak
mata
|
Idem
dengan N. IV
|
|
VII
facial
|
Gerakkan
otot wajah ekspresi wajah, sekresi ait mata dan ludah
Rasa
kecap,dua pertiga anterior lidah
|
Observasi
simetrisitas gerakan wajah saat tersenyum, bersiul, mengangkat alis,
mengerutkan dahi, saat menutup mata rapat (juga saat membuka mata)
Pasien mengektensikan lidah,
kemampuan lidah membedakan rasa gula dan
garam.
|
|
VIII
Vestibulokoklearis
|
Pendengaran,keseimbangan
|
Uji
bisikan suara dan bunyi detak jam, uji untuk lateralisasi (weber), uji untuk
konduksi udara dan tulang (rinne)
|
|
IX
Glasofaringues
|
Pengecapan
sensai umum pada faring dan telinga, mengangkat palatum, sekresi kelenjar
parotis
|
Minta
pasien mengatakan AH….Ah.. Palatm mole terangkat simetris dan uvula tetap
ditengah.
Gunakan
spate lidah, sentuh 1/3 posterior lidah, palatum mole / dinding farings
posterior ada reflex muntah dari pasien.
Pejamkan
mata pasien letakkan garam/gula/pahit dilidahnya,tanyakan rasa tersebut.
|
|
X
vagus
|
Pengecapan,
sensai umum pada faring dan telinga, menelan, ponasi, parasimpatis untuk
jantung dan visera abdomen
|
Idem
– N IX
|
|
XI
asesorius spinal
|
Fonasi,
gerakkan leher dan bahu
|
Letakkan
telapak tangan pemeriksa dipipi, minta pasien untuk melawan gerakkan tahanan pemeriksa ; test M.
tarpezius tekan bahu klien dengan jari telunjuk dan ibu jari pemeriksa minta
klien melawannya
|
|
XIII
Hipoglosus
|
Gerak
lidah
|
Pasien
minta buka mulut dan biarkan terletak didasar mulut
|
2.2.Definisi Stroke
a. Stroke
atau cerebro vaskuler accident (CVA)
adalah kehilangan fungsi otak yang di akibatkan oleh berhentinya suplay darah
kebagian otak (Brunner dan Suddart, 2002).
b.Stroke
atau cerebro vaskuleraccident (CVA)
adalah gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam
otak yang dapat timbul secara mendadak (dalam waktu beberapa detik) atau secara
cepat dengan segala atau isyarat yang sesuai dengan darah otak yang mengalami
pasokan darah (Margatan.A., 1995).
c. Menurut WHO ( 1963 ) dan
karya ( 1988 ) dan Harsono ( 1933 ) stroke
adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi cerebral, baik local maupun
menyeluruh ( global ). Yang berlangsung cepat, berlangsung lebih dari 24 jam,
atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukan penyebab gangguan vascular. Gangguan
peredaran darah otak dapat mengakibatkan fungsi otak terganggu dan bila
gangguan yang terjadi cukup besar dapat mengakibatkan kematian sebagian otak
atau infark.Gejala-gejala yang terjadi tergantung pada daerah otak yang dipengaruhi.
2.3.Etiologi Stroke
1)
Menurut Brunner dan Suddart (2002) penyebab dari
stroke terdiri dari :
· Trombosis : Bekuan darah didalam pembuluh darah.
· Embolisme
serebral : Bekuan darah atau
material lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain.
· Iskemia : Penurunan aliran darah keotak.
· Hemoragi
serebral : Pecahnya penbuluh darah
serebral dengan perdarahan kedalam jaringan atau ruang sekitar otak.
2) Faktor
Resiko Stroke
Stroke dapat di cegah dengan
memanipulasi faktor resiko baik individu
maupun komunitas seperti yang di ungkapkan oleh MurniIndrasti (2004), faktor
resiko stroke antara lain:
a)
Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor resiko mayor,
baik stroke iskemik,perdarahan subaraknoid, hipertensi akan mempercepat arterosklerosis
sehingga mudah terjadi kolusi emboli pada pembuluh darah besar.
b)
Penyakit
jantung
Penyakit jantung koroner, penyakit jantung
kongestif, hipertrofi ventrikel kiri, aritmia jantung dan terutama atrium
fibrilasi merupakan faktor resiko dari stroke, karena terdapat gangguan pemompaan
atau irama jantung, sehingga emboli yang berasal dari bilik jantung atau vena
pulmoner dapat menyebabkan infark serebri yang mendadak.
c)Diabetes Melitus
Merupakan faktor resiko terhadap stroke
iskemik dan bila di sertai dengan hipertensi resikonya akan menjadi lebih
besar. Diabetes mempunyai keseimbangan internal ke arah trombogenik, suatu abnormalis
sistem hemostatik pada diabetes melitus adalah hiperaktifitas trombosit.
d)
Arterosklerosis
Adanya
manifestasi klinis dari aterosklerosis baik berupa angina pektoris, bising
arterikarotis, klaudikasio, intermitten merupakan faktor resiko dari stroke.
e)Viscositas darah
Meningkatnya viscositas atau kekentalan darah
baik di sebabkan oleh karna meningkatnya hematokrit dan fibrinogen akan meningkatkan
resiko stroke.
f) Pernah stroke sebelumnya atau
TIA (Transien Iscemia Attack)
Dari semua penderita stroke 50% di antaranya
pernah TIA. Beberapa laporan menyatakan bahwa penderita dengan TIA komunikan
1/3nyaakan mengalami TIA 1/3 tanpa gejala dan 1/3 akan mengalami stroke.
g)
Peningkatan
kadar darah lemak
Ada hubungan positif antara aterosklerosis
serebrovaskuler, ada hubungan positif antara kadar kolesterol total dan kadar
trigliserida dengan resiko dan ada hubungan negatif antara meningkatnya
HDLdengan resiko stroke.
h) Merokok
Merupakan faktor resiko stroke, resiko
meningkat dengan banyaknya jumlah rokok yang di hisap sehari, dengan dengan
berhenti merokok resiko stroke akan menurun setelah 2 tahun dan kemudian akan
terus menurun setelah 2 tahun dan kemudian akan terus menurun setelah 5tahun,
resiko akan sama dengan bukan perokok.
i) Obesitas
Obesitas sering di hubungkan dengan
hipertensi dan gangguan toleransi glukosa dan akan meningkatkan resiko stroke.
Obesitas tanpa di sertai hipertensi dan diabetes melitus bukan merupakan faktor
resiko stroke yang bermakna.
j) Alkohol
Minum alkohol yang berlebihan merupakan
faktor resiko untuk stroke iskemik dan mungkin stroke hemoragik. Peminum
alcohol yang berlebihan akan meningkatkan tekanan darah, kadar trigliserida fibrilasi
atrium, paroksimal dan kardiomiopati.
k)Faktor resiko lainya
Masih banyak lagi faktor resiko yang telah di
teliti usia lanjut dan jenis kelamin pria juga merupakan faktor resiko yang
independent.Yang juga mungkin termasuk faktor resiko ialah: migren, status ekonomi,
kenaikan hematokrit, fibrinogen, diet tinggi natrium, diet rendah kalium dan
inaktifitas ( kurang olahraga ).
2.4.Klasifikasi Stroke
a.TIA (Trancient Ischemic
Attack)
TIA di defenisikan sebagai suatu gangguan yang
akud darifungsi serebral yang di sebabkan karena emboli atau trombosit.TIA merupakan
stroke yang ringan, berupa serangan stroke sepintas.Gejala neurologis yang
timbul akan dengan cepat menghilang.Lamanya serangan juga sangat berfariasi,
ada yang berlangsungselama 5 menit, ada yang 5 menit tetapi ada pula yang
berlangsungselama sehari penuh, sebanyak 50% dari TIA dapat sembuh dalamwaktu 1
jam dan 90% sembuh dalam waktu 4 jam. Otak mendapat darah dari dua system,
yaitu system karotisdan system vertebrobasilaris. TIA yang di sebabkan dari systemkarotis
menampakan gejala-gejala antara lain: gangguan penglihatan,kelumpuhan lengan
atau tungkai kedua-duanya pada sisi yang sama.Defisit sensorik atau motorik
dari wajah saja, wajah dan lengan atautungkai saja secara unilateral. Gejala
yang lain adalah kesulitan untuk mengerti bahasa dan atau berbicara, dapat juga
pemakaian yang salah satu dari kata-kata atau di ubah-ubah.Gejala dari TIA yang
di sebabkan oleh gangguan dari system vertebrosilaris dapat berupa: vertigo
dengan atau tanpa di sertai muntah terutama bila di sertai dengan diplopia,
dysphagia atau disarthia. Mendadak tidak stabil atau drop attack, yaitu keadaan
dimana kekuatan dua tungkai tiba - tiba menghilang sehingga penderita jatuh.
Gejala lain adalah gangguan fisual, motorik atausensorik yang unilateral atau
bilateral satu sisi kemudian di ikuti olehsisi lain.
b.
RIND (Reversible
Ischemic Neurologik Devicit)
Seperti
halnya pada TIA gejala neurologis yang ada pada RIND juga akan menghilang,
hanya saja waktunya lebih dari 24 jam,namun kurang dari 21 hari.
c.
Progressing
Stroke
Pada
bentuk ini kelainan yang ada masih terus berkembang ke arah yang lebih berat,
misalnya awal gejala hanya berupa deficit sensorik wajah kiri, namun terus
berkembang menjadi lemah lengankiri, kemudian menyusul lemah tungkai kiri
sehingga ahirnya lumpuh total lengan dan tungkai kiri.
d.
Completed
Stroke
Dengan
kompleted stroke di artikan bahwa kelainan neurologis yang ada sifatnya sudah
lengkap.
e.
Stroke Non Hemoragik
Suatu gangguan
peredaran darah otak tanpa terjadi suatu perdarahan yang ditandai dengan
kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak atau hemiparese, nyeri kepala,
mual, muntah, pandangan kabur dan dysfhagia (kesulitan menelan).Stroke non
haemoragik dibagi lagi menjadi dua yaitu stroke embolik dan stroke trombotik
(Wanhari, 2008).
f.
Stroke Hemoragik
Suatu gangguan peredaran darah otak yang ditandai dengan adanya
perdarahan intra serebral atau perdarahan subarakhnoid.Tanda yang terjadi
adalah penurunan kesadaran, pernapasan cepat, nadi cepat, gejala fokal berupa
hemiplegi, pupil mengecil, kaku kuduk (Wanhari, 2008).
2.5.
Patofisiologi Stroke
Terlampir
2.6.Manifestasi Klinis
Menurut
Soeharto (2002) menyebutkan tanda gejala dari stroke adalah sebagai berikut
· Hilangnya
kekuatan (atau timbulnya gerakan canggung) di salah satu bagian tubuh, terutama
di salah satu sisi, termasuk wajah, lengan atau tungkai.
· Rasa
baal (hilangnya sensasi) atau sensasi tak lazim di suatu bagian tubuh, terutama
jika hanya salah satu sisi.
· Hilangnya
penglihatan total atau parsial di salah satu sisi.
· Tidak
mampu berbicara dengan benar atau memahami bahasa.
· Hilangnya
keseimbangan, berdiri tak mantap jatuh tanpa sebab.
· Serangan
sementara, jenis lain seperti vertigo, pusing bergoyang,kesulitan menelan, kebingungan akud atau gangguan daya
ingat.
·
Nyeri kepala yang terlalu
parah, muncul mendadak atau memiliki karakter tidak lazim, termasuk perubahan
pola nyeri kepala yang tidak dapat di terangkan.Perubahan kesadaran yang tidak
dapat di jelaskan atau kejang.
2.7.Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang
dilakukan dengan cek laboratorium, pemeriksaan
neurokardiologi, pemeriksaan
radiologi,penjelasanya adalah sebagai berikut :
1) Laboratorium
·
Pemeriksaan darah rutin.
·
Pemeriksaan kimia darah
lengkap.
a)
Gula darah sewaktu.Stroke
akut terjadi hiperglikemia reaktif. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam
serum dan kemudian berangsur – angsur kembali turun.
b)
Kolesterol, ureum, kreatinin, asam urat,
fungsi hati,enzim SGOT/SGPT/CPK, dan profil lipid (trigliserid,LDH-HDL
kolesterol serta total lipid).
·
Pemeriksaan hemostasis (darah
lengkap).
a)
Waktu protrombin.
b)
Kadar fibrinogen.
c)
Viskositas plasma
·
Pemeriksaan tambahan yang
dilakukan atas indikasiHomosistein.
2) Pemeriksaan neurokardiologi
Sebagian kecil penderita
stroke terdapat perubahan elektrokardiografi.Perubahan ini dapat berarti
kemungkinan mendapat serangan infark jantung, atau pada stroke dapat terjadi
perubahan – perubahan elektrokardiografi sebagai akibat perdarahan otak yang
menyerupai suatu infark miokard.Pemeriksaan khusus atas indikasi misalnya CK-MB
follow upnya akan memastikan diagnosis. Pada pemeriksaan EKG dan pemeriksaan
fisik mengarah kepada kemungkinan adanya potensial source of cardiac emboli
(PSCE) maka pemeriksaan echocardiografi terutama transesofagial
echocardiografi (TEE) dapat
diminta untuk visualisasi emboli cardial.
3) Pemeriksaan radiologi
·
CT-scan otak
Perdarahan
intraserebral dapat terlihat segera dan pemeriksaan ini sangat penting karena
perbedaan manajemen perdarahan otak dan infark otak. Pada infark otak,
pemeriksaan CT-scan otak mungkin tidak memperlihatkan gambaran jelas jika
dikerjakan pada hari –hari pertama, biasanya tampak setelah 72 jam
serangan.Jika ukuran infark cukup besar dan hemisferik.Perdarahan/infark di
batang otak sangat sulit diidentifikasi, oleh karena itu perlu dilakukan
pemeriksaan MRI untuk memastikan proses patologik di batang otak.
·
Pemeriksaan foto thoraks.
a)
Dapat memperlihatkan keadaan
jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu
tanda hipertensi kronis pada penderita strokedan adakah kelainan lain pada
jantung.
b) Dapat
mengidentifikasi kelainan paru yang potensial mempengaruhi proses manajemen dan
memper buruk prognosis.
2.8.Penatalaksanaan
Cara
penatalaksanaan medis yang dilakukan pada pasien stroke adalah :
Diagnostik
seperti ingiografi serebral, yang berguna mencari lesi dan aneurisme. Pengobatan,
karena biasanya pasien dalam keadaan koma, maka pengobatan yang diberikan yaitu
:
· Kortikosteroid
, gliserol, valium manitol untuk mancegah terjadi Edema acak dan timbulnya kejang.
·
Asam traneksamat 1gr/4 jam iv
pelan-pelan selama tiga mingguSerta berangsur-angsur diturunkan untuk mencegah terjadinya Lisis bekuan darah atau
perdarahan ulang.
· Operasi
bedah syaraf (kraniotomi)
· Adapun
tindakan medis pasien stroke yang lainnya adalah :
·
Deuretik : untuk
menurunkan edema serebral.
· Antikoagulan
: untuk mencegah terjadinya atau memberatnya trombosis atau emboli dari tempat lain dalam system
kardiovaskuler.
· Medikasi
anti trombosit : Dapat disebabkan karena trombosit memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan trombus
dan embolisasi (Brunner &Suddarth ,2002
)
2.9.
Komplikasi
· Kenaikan
tekanan darah ( tinggi)
· Kadar
gula darah (tinggi)
· Gangguan
jantung
· Infeksi
/ sepsis (gangguan ginjal dan hati) (cairan , elektrolit asam dan basa)(Brunner
& Suddarth, 2002)
·
Hipoksia
serebral, diminimalkan dengan member oksigennasi darah
adekuat ke otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang
dikirimkan kejaringan. Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin
serta hematokrit pada tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan
oksigenasi jaringan.
·
Aliran
darah serebral, bergantung pada tekanan darah, curah jantung,
dan integrasi pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan intravena) harus
menjamin penurunan viskositas darah dan memperbaiki aliran darah serebral.
Hipertensi ekstrem perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah
serebral dan potensi meluasnya area cedera.
·
Embolisme
serebral, dapat terjadi setelah infark miokard atau
fibrasi atrium atau dapat berasal dari katub jantung prostetik. Embolisme akan
menurunkan aliran darah keotak dan selanjutnya menurunkan aliran darah
serebral. Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsiten dan
pengehentian thrombus local. Selain itu, distritmia dapat menyebabkan embolus
serebral dan harus diperbaiki
2.9.Pencegahan
Pencegahan
primer adalah usaha pencegahan serangan stroke yang bertujuan untuk mencegah
stroke yang terjadi pertama kali, sedangkan pencegahan sekunder adalah usaha
pencegahan pada penderita yang pernah mengalami serangan stroke dan ingin
menghindari serangan berikutnya ( Thomas. D. J. 1993).
a) Pencegahan primer
·
Pengobatan
tekanan darah
Pada pasien yang memiliki tekanan darah tinggi (tekanan
sistolik lebih dari 150 mmHg) harus memperoleh pengobatan tekanan darah tinggi
untuk mencegah serangan stroke. Pengobatan dilakukan dengan hati-hati memakai
preparat atau takaran kecil, dan kemudian kalau perlu dapat ditambahkan
preparat antagonis kalsium (seperti nifedipin) serta selanjutnya salah satu
anggota dari anggota kelompok obat yang disebut penghambat beta (misal atenol).
·
Kadar
lemak darah
Penderita hipertensi usia pertengahan dan usia lanjut
mempunyai permasalahan yang berhubungan dengan lemak. Penderita yang usianya
lebih muda harus memperoleh nasehat diet rendah lemak jenuh dan rendah hidrat
arang (kalori seimbang). Kadang-kadang diperlukan juga obat untuk menurunkan
kadar lemak yang berbahanya (seperti klofibrat). Beberapa preparat minyak ikan
ternyata juga berkhasiat. Minyak ikan terbukti memiliki khasiat antiplatelet.
·
Problem
pembuluh darah
Penderita yang pernah mengalami serangan iskemik sepintas atau penyempitan pembuluh arteri karotis harus menjalani pemeriksaan antara lain pemeriksaan
gelombang suara ultra untuk mengetahui keadaan arteri karotis jika dijumpai kelainan dilakukan pemeriksaan angiografi. Bila penyempitan arteri karotis berat dilakukan
pembedahan dan bila penyempitanya ringan dilakukan pemantauan arteri karotis secara teratur dan harus
mendapat terapi antiplatelet. Pilihan
terapi antiplatelet antara lain:
aspirin tablet 300 gram satu atau dua hari sekali, minyak ikan, dan
dipiridamol.
b) Pencegahan sekunder
·
Pengobatan
yang tepat
Perlu diketahui serangan stroke yang pertama kali terjadi
disebabkan oleh perdarahan atau infark
serebral. Preparat anti koagulan tidak boleh diberikan kepada penderita
yang pernah mengalami perdarahan otak namun dapat dipakai orang yang mengalami infark serebral.
·
Sebutir
aspirin tiap hari
Aspirin diberikan dengan takaran rendah 300 mg (satu
tablet) diminum tiga hari selama satu minggu, aspirin berguna dalam pencegahan
serangan stroke berikutnya bagi penderita stroke yang diakibatkan trombosis. Sebagian penderita juga dapat
ditolong dengan pemberian obat dipridamol tetapi obat ini mengakibatkan nyeri
kepala khususnya penderita migrain.
·
Warfarin
Penderita kelainan jantung yang dapat menimbulkan
trombosis dapat diberikan antikoagulan warfarin dan juga dapat mereka yang
terkena hipertensi dengan serangan otak sepintas.
Upaya-upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi
serangan stroke pada penderita hipertensi menurut Arcole Margattan (1995)
antara lain dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut yaitu :
· Olah raga yang teratur
Yaitu olah raga yang tidak mengeluarkan banyak tenaga
misalnya jalan kaki dengan cepat, jogging,
dan bersepeda. Dengan melakukan olah raga yang teratur dan dinamis dapat
memperbaiki aliran darah keotot- otot dan memperbaiki metabolisme otot itu
sendiri. Hal ini akan membantu terjadinya pelebaran pembuluh darah sehingga
tensi menjadi turun. Kecuali itu olah raga juga menambah kesegaran dan
kebugaran jasmani yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan daya tahan tubuh
penderita menghadapi serangan komplikasi penyakit hipertensi antara lain
stroke.
· Diet yang rendah garam
Kemungkinan terjadi stroke pada penderita hipertensi
sangat tinggi bila penderita mengkonsumsi garam dapur terlalu banyak. Orang
yang normal biasanya mengkonsumsi garam dapur antara lain 5 – 15 gram perhari.
Pada penderita hipertensi dianjurkan makan garam seminimal mungkin sekitar 2 –
3 gram perhari. Mengurangi penggunaaan garam baik dari garam dapur maupun bahan
adiptif seperti monosodium glutamat, natrium benzoat, dan natrium bikarbonat
dapat mengurangi terjadinya serangan stroke karena bahan – bahan tersebut dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah yang menyebabkan terganggunya aliran
darah dalam otak dan dapat mengakibatkan stroke.
· Perubahan pola hidup
1)
Mengurangi
kegemukan
Orang yang gemuk yang banyak mengkonsumsi kalori tinggi
mempunyai resiko besar terjadi hipertensi dan akhirnya biasanya terjadi stroke.
Dengan mengurangi berat badan dapat menurunkan tekanan darah dengan jalan
mengurangi asupan kalori dengan makan makanan yang kandungan lemaknya rendah,
gunakan susu krim untuk menambah kandungan protein dalam sereal, dan sup.
Jangan gunakan santan sebagai bahan untuk menggurihkan makanan.
2)
Authoterapi
hipertensi
Menanggulangi stroke pada pasien hipertensi bisa
dilakukan dengan cara meditasi. Syaratnya harus dilakukan secara rutin, tanpa
mengenal rasa bosan dan dalam waktu kurang lebih 3 – 4 bulan. Meditasi ini
dilakukan setiap hari selama kurang lebih 20 menit boleh dilakukan pada pagi
hari atau waktu luang.
3)
Hentikan
kebiasan merokok
Pengapuran atau pengerasan pembuluh darah yang disebut arterosklerosis, merupakan akibat
pertama kali dari merokok, dan juga terjadi berkurangnya volume pasca darah,
rokok dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah 2 – 10 menit setelah dihisap,
karena merangsang saraf mengeluarkan hormon yang bisa menyebabkan pengerutan
pembuluh darah sehingga tensi menjadi naik dan menyebabkan faktor resiko
terjadi stroke.
4)
Menghindari
stres
Perubahan pola hidup yang serba otomatis menyebabkan
tubuh kurang gerak dan perubahan yang meliputi lingkungan, fisik, dan sosial
mempengaruhi manusia menimbulkan stres dengan berbagai manifestasi diantaranya
hipertensi dan dapat menyebabkan stroke. Hal ini dapat dicegah dengan cara
berusaha relaksasi dalam menghadapi masalah, melakukan refresing, dan dapat
juga dengan mendalami agama dan berusaha menciptakan keluarga yang bahagia.
2.10.
Asuhan
Keperawatan
Kasus
pemicu
“tn. I 73 tahun pensiunan PNS, datang diantar
keluarganya karena pingsan dan tidak bisa di bangunkan selama 20 menit.Keluarga
klien mengatakan sebelumnya klien pergi jalan-jalan pagi, klien mengeluh pusing
sejak 2 hari yang lalu dan sudah minum obat yang di beli di warung.Keluarga
mengatakan klien sudah lama memiliki darah tinggi dan sakit gula.Klien juga
pernah di rawat karena stroke 3 tahun yang lalu dan kaki kiri klien jadi
lemah.Klien juga perokok berat satu hari bisa menghabiskan 1 bungkus.Saat klien
sadar di lakukan pemeriksaan fisik dan ditemukan bibir asimetris, hemiparese
sinistra (+), klien dianjurkan untuk CT kepala oleh dokter IGD”.
A. Pengkajian
1) Identitas klien
Nama : Tn. I
Jenis Kelamin :
Laki-laki
Usia : 73 Tahun
Status Perkawinan :
Kawin
Agama
: Islam
Suku Bangsa
: Ambon
Bahasa Yang Digunakan :
Bahasa Indonesia
Pekerjaan : Pensiun PNS
Alamat
: Jl. Cinta no 17
Sumber biaya
: Jamkesmas
2)
Keluhan
utama
Pada saat pengkajian
Tn. I berbicara tidak jelas (pelo), mengeluh pusing 2 hari dan sudah minum obat
yang dibelinya di warung, dan kaki kirinya lemah.
3)
Riwayat
penyakit sekarang
Pasien masuk rumah
sakit, diantar oleh keluarga karena pingsan dan tidak sadar selama 20 menit.
Pada pemeriksaan pasien ditemukan tanda dan gejala penyakit Strok, kemudian
dilakukan pemeriksaan diagnostic seperti Hemiparases (+), bibir klien
asimetris, klien dianjurkan CT Scan kepalaa oleh dokter IGD.
4)
Riwayat
penyakit terdahulu
Keluarga mengatakan pasien sudah lama memiliki penyakit darah
tinggi dan sakit gula, pasien juga pernah dirawat di RS dengan Strok 3 tahun
yang lalu.
5)
Riwayat
pekerjaan dan pola hidup
Setelah pensiun PNS Tn. I suka jalan kaki setiap pagi. Pasien juga
perokok berat, satu hari 1 bungkus rokok.
1) AKTIVITAS
DAN ISTIRAHAT
Gejala: merasa kesulitan untuk melakukan aktifitas
karena kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia)
Tanda: gangguan tonus otot (flaksid, spastis):
paralitik (hemiplegia), dan terjadi kelemahan umum. Gangguan penglihatan,
gangguan tingkat kesadaran.
2) SIRKULASI
Gejala: adanya penyakit jantung (MI, reumatik, atau
penyakit jantung vaskuler, GJK, endocarditis bacterial) polisitemia, riwayat hipotensi
postural.
Tanda: hipertensi arterial (dapat ditemukan atau
terjadi pada CSV) sehubungan dengan adanya embolisme atau malformasi vaskuler.
Nadi: frekuensi dapat bervariasi (karena ketidak stabilan fungsi jantung atau kondisi
jantung, obat-obatan, efek stroke pada pusat vasomotor. Disritmia, perubahan
EKG, desiran pada karotis, femoralis, dan arteriilliaka atau aorta yang
abnormal.
3) INTEGRITAS
EGO
Gejala: perasaan
tidak berdaya, perasaan putus asa.
Tanda: emosi yang labil, dan ketidak siapan untuk
marah, sedih, dan gembira
4) ELIMINASI
Gejala: perubahan
pola berkemih, seperti inkontinensiaurin, anuria distensi abdomen (distensi kandung
kemih berlebihan), bising usus negative (ileus paralitik)
5) MAKANAN
dan CAIRAN
Gejala: nafsu
makan hilang, mual, muntah selama fase akut (peningkatan TIK), kehilangan sensasi
(rasa kecap) pada lidah, pipi, dan tenggorokan, disfagia. Adanya riwayat diabetes,peningkatan
lemak dalam darah
Tanda: kesulitan menelkan( gangguan pada reflex
palatum danfaringeal ). Obesitas (factor resiko )
6) NEURPSENSORY
Gejala : sinkope/pusing (sebelum serangan CSV atau selama TIA). Sakit kepala akan sangat berat dan perdarahan intraselebral atau subarachnoid kelemahan atau kesemutan atau kebas (biasanya terjadi serangan TIA), yang ditemukan dalam derajat pada stroke jenis yang lain . sentuhan: hilangnya rangsang sensorik kontralateral (pada sisi tubuh yang berlawanan) pada ekstremitas dan kadang-kadang pada ispilateral (yang satu sisi) pada wajah. Gangguan rasa pengecapan dan penciuman.
Tanda: biasanya
terjadi koma pada tahap awal hemoragic, gangguan fungsi kognitif (penurunan
memori) kelemahan, genggaman tidak sama, reflex tendon melemah. Pada wajah
terjadi paralisis.Afasia (kesulitan untuk mengungkapkan kata), kesulitan
memahami kata-kata secara bermakna, serta afasia global (gabungan dari
keduanya).
7) NYERI
ATAU KEAMANAN
Gejala: sakit
kepala dengan intensitas yang berbeda-beda (karena arteri karotis terkena)
Tanda: tingkah
laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot/fasia.
8) PERNAFASAN
Gejala:
merokok (factor risiko)
Tanda:
ketidakmampuan menelan/batuk/hambatan jalan nafas, sulit bernafas, terdengar
suara nafas ronkhi.
9) KEAMANAN
Gejala: masalah
dengan penglihatan, kesulitan dalam menelan, tidak mampu untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi sendiri, tidak sabar.
10) INTERAKSI
SOSIAL
tanda: masalah
bicara ketidakmampuan untuk berbicara/berkomunikasi
11) PENYULUHAN
atau PEMBELAJARAN
Gejala: adanya
riwayat hipertensi pada keluarga, riwayat stroke keluarga, pemakaian
kontrasepsi oral, kecanduan alcohol..
DATA
FOKUS
|
Data subjektif
|
Data objektif
|
|
1.
Keluarga klien
menceritakan klien pingsan
2.
Keluarga klien
mengatakan klien tidak bisa di bangunkan selama 20 menit
3.
Klien mengeluh pusing
sejak 2 hari
4.
Keluarga klien
mengatakan bahwa klien minum obat warung
5.
Keluarga klien
mengatakan klien sudah lama memiliki darah tinggi
6.
Keluarga klien
mengatakan klien pernah dirawat karena stroke 3 tahun lalu dan kaki kiri
klien lemah
7.
Keluarga klien
mengatakan klien perokok berat sehari habis 1 bungkus
|
1.
Bibir klien asimetrsi
2.
Hemiparese sinistra
(+)
|
Data
yang perlu di kaji
|
Data subjektif
|
Data objektif
|
|
1.
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan bahwa klien tidak sadarkan diri
2.
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan klien terlihat ingin berbicara tetapi sulit
3.
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan klien tidak dapat menggerakan bagian tubuh kirinya
4.
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan klien sulit berbicara
5.
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan perkataan klien sulit di mengerti
6.
Kemungkinan keluarga
mengatakan klien sering mengigau
7.
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan tubuh klien terlihat kotor dan lengket
8.
Kemungkinan keluarga
klien mengatkan klien sering buang air di tempat tidur
9.
Kemungkinan keluarga
klien mengeluhkan klien sering pura-pura tidur saat ada yang menjenguk
10.
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan klien terlihat seperti putus asa
11.
Kemungkinan keluaraga
klien mengatakan pernyataan kesalahan informasi
|
1.
Kemungkinan adanya
penurunan tingkat kesadaran
2.
Kemungkinan di
temukan perubahan respon motorik, sensorik
3.
Kemungkinan di
temukan kehilangan kesimbangan
4.
Kemungkinan klien
terlihat berhati-hati saat mobilisasi
5.
Kemungkinan di
temukan kerusakan artikulasi
6.
Kemungkinan di
temukan klien tidak dapat menghasilkan komunikasi tertulis
7.
Kemungkinan di
temukan disorientasi (waktu, tempat, orang)
8.
Kemungkinan di
temukan respon rangsang berlebihan
9.
Kemungkinan di
temukan klien kesulitan untuk memenuhi nutrisi
10.
Kemungkinan di
temukan klien kesulitan memandikan diri
11.
Kemungkinan di
temukan klien kesulitan menyelesaikan tugas toileting
12.
Kemungkinan di
temukan klien menyendiri (isolasi)
13.
Kemungkinan di temukan
klien enggan melihat bagian tubuh yang sakit
14.
Kemungkinan di
temukan klien susah menelan
15.
Kemungkinan di
temukan keluarga klien meminta informasi
|
ANALISA
DATA
|
DATA
|
PROBLEM
|
ETIOLOGI
|
|
Ds:
-
Klien mengeluh pusing
sejak 2 hari
-
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan bahwa klien tidak sadarkan diri
-
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan klien terlihat ingin berbicara tetapi sulit
-
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan klien tidak dapat menggerakan bagian tubuh kirinya
Do:
-
Kemungkinan adanya
penurunan tingkat kesadaran
-
Kemungkinan di
temukan perubahan respon motorik, sensorik
|
Gangguan perfusi jaringan serebral
|
interupsi aliran darah
|
|
Ds:
-
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan klien tidak dapat menggerakan bagian tubuh kirinya
Do:
-
Hemiparese sinistra
(+)
-
Kemungkinan di
temukan kehilangan kesimbangan
-
Kemungkinan klien
terlihat berhati-hati saat mobilisasi
|
Kerusakan mobilitas fisik
|
kerusakan neuromuskuler terhadap hemiparese
|
|
Ds:
-
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan klien sulit berbicara
-
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan perkataan klien sulit di mengerti
-
Kemungkinan keluarga
mengatakan klien sering mengigau
Do:
-
Bibir klien asimetrsi
-
Kemungkinan di
temukan kerusakan artikulasi
-
Kemungkinan di
temukan klien tidak dapat menghasilkan komunikasi tertulis
|
Kerusakan komunikasi
|
kelemahan
|
|
Ds:
-
Kemungkinan keluarga
mengatakan klien sering mengigau
Do:
-
Kemungkinan di
temukan disorientasi (waktu, tempat, orang)
-
Kemungkinan di
temukan respon rangsang berlebihan
|
Perubahan persepsi-sensori
|
stress psikologis
|
|
Ds:
-
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan tubuh klien terlihat kotor dan lengket
-
Kemungkinan keluarga
klien mengatkan klien sering buang air di tempat tidur
Ds:
-
Hemiparese sinistra
(+)
-
Kemungkinan di
temukan klien kesulitan untuk memenuhi nutrisi
-
Kemungkinan di
temukan klien kesulitan memandikan diri
-
Kemungkinan di
temukan klien kesulitan menyelesaikan tugas toileting
|
Deficit perawatan diri
|
kerusakan neuromuskuler
|
|
Ds:
-
Kemungkinan keluarga
klien mengeluhkan klien sering pura-pura tidur saat ada yang menjenguk
-
Kemungkinan keluarga
klien mengatakan klien terlihat seperti putus asa
Do:
-
Kemungkinan di
temukan klien menyendiri (isolasi)
-
Kemungkinan di
temukan klien enggan melihat bagian tubuh yang sakit
|
Gangguan harga diri
|
perubahan biofisik
|
|
Ds:
-
Keluarga klien mengatakan
bahwa klien minum obat warung
-
Keluarga klien
mengatakan klien pernah dirawat karena stroke 3 tahun lalu dan kaki kiri
klien lemah
-
Keluarga klien
mengatakan klien perokok berat sehari habis 1 bungkus
-
Kemungkinan keluaraga
klien mengatakan pernyataan kesalahan informasi
Do:
-
Kemungkinan di
temukan keluarga klien meminta informasi
|
Kurang pengetahuan
|
kesalahan interpretasi informasi/kurang mengingat
|
DIAGNOSA:
1. Gangguan
perfusi jaringan serebral b.d interupsi aliran darah
2. Kerusakan
mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskuler terhadap hemiparese
3. Deficit
perawatan diri b.d kerusakan neuromuskuler
4. Kerusakan
komunikasi b.d kelemahan
5. Perubahan
persepsi-sensori b.d stress psikologis
6. Gangguan
harga diri b.d perubahan biofisik
7. Kurang
pengetahuan b.d kesalahan interpretasi informasi/kurang mengingat
INTERVENSI
KEPERAWATAN
|
NO DX.
|
TANGGAL
|
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
|
INTERVENSI DAN RASIONAL
|
|
1.
|
|
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama
3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria
hasil:
1.
Klien tidak mengeluh
pusing
2. Kesadaran
compos mentis
3. Klien
mampu berbicara
4. respon
motorik, sensorik membaik
|
Mandiri :
1. Pantau
tanda-tanda vital
Rasional:
variasi mungkin terjadi oleh karena tekanan serebral pada daerah vasomotor
otak.
2. Evaluasi
pupil, catat ukuran, bentuk, kesamaan, dan reaksi terhadap cahaya
Rasional:
reaksi pupil di atur oleh nervus okkulomotorius dan berguna untuk menentukan
apakah batang tersebut masih baik
3. Kaji
fungsi bicara jika klien sadar
Rasional:
perubahan dalam bicara adalah indicator dari lokasi atau derajat gangguan
serebral
4. Letakan
kepala dengan posisi lebih tinggi
Rasional:
menurunkan tekanan arteri
5. Pertahankan
keadaan tirah baring
Rasional:
istirahat total mungkin di butuhkan untuk mencegah perdarahan pada kasus
stroke hemoragic
6. Cegah
terjadinya mengejan saat defekasi
Rasional:
mengejan dapat memperbesar risiko terjadinya perdarahan
Kolaborasi
1. Beri
oksigen sesuai indikasi
Rasional:
menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan vasodilatasi serebral
2. Berikan
obat sesuai indikasi (antikkoagulasi, antifibrinolitik, antihipertensi)
Rasional:
dapat digunakan untuk meningkatkan/memperbaiki aliran darah serebral.
|
|
2.
|
|
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama
3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria
hasil:
1.
Klien dapat
menggerakan bagian tubuh kirinya
2. Hemiparese
sinistra (-)
3.
kehilangan
kesimbangan membaik
|
Mandiri:
1. ubah
posisi minimal setiap 2 jam
rasional:
menurunnkan risiko terjadinya iskhemi jaringan (dekubitus)
2. mulailah
melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua ekstremitas
rasional:
meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, mencegah kontraktur otot.
3. Tinggikan
tangan dan kepala
Rasional:
meningkatkan aliran balik vena dan membantu mencegah terbentuknya edema.
4. Posisikan
lutut dan panggul dalam posisi ekstensi
Rasional:
mempertahankan posisi fungsional
5. Alasi
kursi atau tempat tidur dengan busa atau balon air
Rasioanal:
mencegah/menurunkan tekanan koksigeal/ kerusakan kulit.
Kolaborasi:
1. Konsultasikan
dengan ahli fisioterafi
Rasional:
program yang khusus dapat di kembangkan untuk menemukan kebutuhan
2. Beri
obat relaksan otot, antispasmodic sesuai indikasi
Rasional:
mungkin di perlukan untuk menghilangkan spastisitas pada ekstrimitas yang terganggu.
|
|
3.
|
|
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama
3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria
hasil:
1.
Klien dapat
menyelesaikan toileting secara mandiri
2.
Klien mampu memenuhi
kebuutuhan nutrisi secara mandiri
3.
Klien mampu memndikan
bagian tubuh seccara mandiri
|
Mandiri:
1. Hindari
melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat di lakukan pasien sendiri, tetapi
berikan bantuan sesuai kebutuhan
Rasional:
pasien ini mungkin sangat ketakutan dan menjadi tergantung. Adalah penting
melakukan dengan ssendiri untuk harga diri dan meningkatkan pemulihan
2. Pertahankan
dukungan, beri waktu yang cukup untuk pasien menyelesaikan tugasnya
Rasional:
pasien akan memerlukan empati tetapi perlu untuk mengetahui pemberi asuhan
yang akan membantu pasien secara konsisten
3. Berikan
umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang di lakukannya
Rasional:
meningkatkan perasaan makna diri. Mendorong pasien untuk berusaha secara
kontinu
Kolaborsai:
1. Berikan
obat supositoria dan pelunak feses sesuai indikasi
Rasional:
memepertahankan defekasi agar tetap teratur
2. Kolaborasikan
dengan ahli fisioterapi
Rasional:
member bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi
|
|
4.
|
|
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama
3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria
hasil:
1.
Klien mampu berbicara
dengan baik
2.
Artikulasi perkataan
membaik
3.
Bibir klien tidak
asimetris
4.
Klien mampu
berkomunikasi secara tertulis
|
Mandiri:
1. Minta
klien untuk mengikuti perintah sederhana (seperti membuka mata, tunjuk ke pintu)
dengan kalimat sederhana
Rasional:
melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik (afasia sensorik)
2. Tunjuk
objek dan minta klien menyebut nama objek tersebut
Rasional:
melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik (afasia motorik) seperti
klien mungkin mengenalinya tapi tidak dapat menyebutkannya.
3. Mintalah
klien untuk mengucapkan kata sederhana seperti (pus, sh)
Rasional:
mengetahui adanya disatria sesuai komponen motorik dari berbicara (seperti
lidah, gerakan bibir, control nafas) yang mempengaruhi artikulasi.
4. Minta
klien untuk menuliskan nama atau kata yang pendek
Rasional:
menilai kemampuan menulis (agrafia) dan kekurangan dalam membaca yang benar
(aleksia)
5. Hargai
kemampuan pasien sebelum terjadi penyakit.
Rasional:
kemampuan pasien untuk merasakan harga diri, sebab kemampuan intelektual
pasien seringkali tetap baik.
Kolaborasi:
1. Kolaborasikan
dengan ahli terapi wicara
Rasional:
pengkajian secara individual kemampuan bicara dan sensori, motorik, dan
fungsi kognitif berfungsi untuk mengidentifikasi kebutuhan terapi.
|
|
5.
|
|
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama
3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria
hasil:
1.
Klien tidak mengalami
disorientasi (waktu, tempat, orang)
2.
respon rangsang klien
kembali normal
|
Mandiri:
1. evaluasi
adanya gangguan penglihatan.
Rasional:
munculnya gangguan penglihatan dapat berdampak negative terhadap kemampuan
pasien untuk menerima lingkungan dan mempelajari kembali keterampilan motorik
dan meningkatkan risiko terjadinya cedera.
2. Kaji
kesadaran sensorik (membedakan panas/dingin, tajam/tumpul)
Rasional:
penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan perasaan kinetic
berpengaruh buruk pada keseimbangan.
3. Berikan
stimulasi rasa terhadap sentuhan
Rasional:
membantu melatih embali sensorik untuk mengintegrasikan persepsi dan interpretasi stimulasi.
4. Lindungi
pasien dari suhu yang berlebihan/ membahayakan.
Rasional:
meningkatkan keamanan pasien dan menurunkan risiko terjadinya trauma.
|
|
6.
|
|
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama
3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria
hasil:
1.
Klien mau kembali di
jenguk
2.
Klien tidak terlihat
putus asa
3.
Klien tidak mengalami
isolasi sosial
4.
Klien menerima
keadaan dirinya
5.
Klien mau melihat
bagian tubuh yang sakit
|
Mandiri:
1. Identifikasi
arti dari kehilangan
Rasional:
kadang-kadang pasien menerima dan mengatasi gangguan fungsi secara efektif
dengan sedikit penanganan, di lain pihak ada juga yang kesulitan menerima dan
mengatasi kekurangannya.
2. Anjurkan
pasien untuk mengekspresikan perasaannya termasuk rasa bermusuhan dan rasa
marah.
Rasional:
Mendemonstrasikan
penerimaan/membantu pasien untuk mengenal dan mulai memahami perasaan ini
3. Catat
apakah pasien menunjuk/menghindari daerah yang sakit
Rasional:
menunjukan penolakan terhadap bagian tubuh tertentu menandakan perlunya
intervensi dan dukungan emosional.
4. Bantu
dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik
Rasional:
membantu peningkatan perasaan harga diri.
5. Berika
dukungan terhadap perilaku/usaha pasien dalam kegiatan rehabilitasi
Rasional:
memahami peran diri sendiri dalam kehidupan selanjutnya.
Kolaborasi:
1. Rujuk
pada evaluasi neuropsikologis atau konseling sesuai kebuutuhan
Rasional:
dapat memudahkan adaptasi terhadap perubahan peran yang perlu untuk merasa
menjadi orang yang produktif
|
|
7.
|
|
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama
3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria
hasil:
1.
Klien dan keluarga
tahu tentang stroke
2.
Klien dan keluarga
berpartisipasi dalam belajar
3.
Klien melakukan
perubahan kebiasaan merokoknya
4.
Klien dan keluarga
mengungkapkan pemahaman
|
Mandiri:
1. Diskusikan
keadaan patologis yang husus dan kekuatan pada individu
Rasional:
membantu dalam membangun harapan yang realistis
2. Diskusikan
rencana untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
Rasional:
berbagai tingkat bantuan mungkin di perlukan/perlu di rencanakan berdasarkan
pada kebutuhan secara individual.
3. Sarankan
pasien menurunkan/membatasi stimulasi lingkungan terutama selama kegiatan
berpikir
Rasional:
stimulasi yang beragam dapat memperbesar gangguan proses berpikir.
4. Rekomendasikan
pasien untuk meminta bantuan dalam
proses pemecahan masalah dan memvalidasi keputusan
Rasional:
beberapa pasien mungkin mengalami gangguan dalam cara pengambilan kepuusan
yang memanjang, kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan keputusan yang di
buatnya.
|
EVALUASI
|
NO DX.
|
EVALUASI
|
PARAF
|
|
1.
|
S:
-
Klien tidak mengeluh
pusing
-
Klien mengatakan
sudah dapat merasakan bagian tubuhnya
O:
-
Kesadaran compos
mentis
-
Klien mampu berbicara
-
respon motorik,
sensorik membaik
A:
-
masalah keperawatan
klien teratasi seluruhnya
P:
-
tindakan keperawatan di hentikan
|
|
|
2.
|
S:
-
Klien berkata dapat
menggerakan bagian tubuh kirinya
O:
-
Hemiparese sinistra
(-)
-
kehilangan
kesimbangan membaik
A:
-
masalah keperawatan
klien teratasi seluruhnya
P:
-
tindakan keperawatan
di hentikan
|
|
|
3.
|
S:
-
Klien berkata sudah
bisa makan sendiri
-
Klien berkata sudah
dapat mandi dengan sendiri
O:
-
Klien dapat
menyelesaikan toileting secara mandiri
-
Klien mampu memenuhi
kebuutuhan nutrisi secara mandiri
-
Klien mampu memndikan
bagian tubuh seccara mandiri
A:
-
masalah keperawatan
klien teratasi seluruhnya
P:
-
tindakan keperawatan
di hentikan
|
|
|
4.
|
S:
-
Keluarga klien
menyebutkab bahwa klien sudah dapat berkomunikasi secara lisan dan tulisan
O:
-
Klien mampu berbicara
dengan baik
-
Artikulasi perkataan
membaik
-
Bibir klien tidak
asimetris
A:
-
masalah keperawatan
klien teratasi seluruhnya
P:
-
tindakan keperawatan
di hentikan
|
|
|
5.
|
S:
-
Klien sudah mengenali
waktu, tempat dan orang yang berada di sekelilingnya
O:
-
Klien tidak mengalami
disorientasi (waktu, tempat, orang)
-
respon rangsang klien
kembali normal
A:
-
masalah keperawatan
klien teratasi seluruhnya
P:
-
tindakan keperawatan
di hentikan
|
|
|
6.
|
S:
-
Klien berkata
menerima keadaan dirinya
O:
-
Klien mau kembali di
jenguk
-
Klien tidak terlihat
putus asa
-
Klien tidak mengalami
isolasi social
-
Klien mau melihat
bagian tubuh yang sakit
A:
-
masalah keperawatan
klien teratasi seluruhnya
P:
-
tindakan keperawatan di
hentikan
|
|
|
7.
|
S:
-
Klien dan keluarga
sudahmengetahui tentang stroke
-
Klien dan keluarga
mengungkapkan pemahaman
O:
-
Klien dan keluarga
berpartisipasi dalam belajar
-
Klien melakukan
perubahan kebiasaan merokoknya
A:
-
masalah keperawatan
klien teratasi seluruhnya
P:
-
tindakan keperawatan
di hentikan
|
|
2.11.
Aspek legal etik
Etika adalah kode perilaku
yang memperlihatkan perbuatan yang baik bagi kelompok tertentu. Etika juga
merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatan yang benar. Etik berhubungan
dengan hal yang baik dengan hal yang tidak baik dan dengan kewajiban moral. Etika
berhubungan dengan peraturan untuk perbuatan atau tindakan yang mempunyai
prinsip benar dan salah, serta prinsip moralitas karena etika mempunyai
tanggung jawab moral, menyimpang dari kode etik berarti tidak memiliki perilaku
yang baik dan tidak memiliki moral yang baik.
Etika bisa diartikan
hubungan dengan pertimbangan keputusan benar atau tidaknya suatu perbuatan
karena tidak adanya undang-undang atau peraturan yang menegaskan hal tersebut.
Etika berbagai profesi digariskan dalam kode etik yang bersumber dari martabat
dan hak manusia yang memiliki sikap menerima dan kepercayaan dari profesi
tersebut. Profesi menyusun kode etik berdasarkan penghormatan atas nilai dan
situasi dan individu yang dilayani.
Kode etik disusun dan
disahkan oleh organisasi atau yang membina profesi tertentu baik secara
nasional maupun internasional. Kode etik menerapkan konsep etis karena profesi
bertanggung jawab pada manusaia dan menghargai kepercayaan serta nilai
individu. Kata seperti etika hak asasi, tanggung jawab mudah didefinisikan
tetapi kadang tidak jelas.
Faktor teknologi yang
meningkat, ilmu pengetahuan yang berkembang (pemakaian mesin dan teknik
memperpanjang usia, legalitas abortus, pencangkokan organ manusia, pengetahuan
biologi dan genetika, penelitian yang menggunakan subjek manusia) ini
memerlukan pertimbangan yang menyangkut nilai dan hak asasi manusia dan
tanggung jawab profesi. Organisasi profesi diharapkan mampu memelihara dan
menghargai, mengamalkan, mengembangkan nilai tersebut melalui kode etik yang disusunnya.
Kadang perawat dihadapkan terhadap situasi yang memerlukan untuk mengambil
tindakan. Perawat memberikan asuhan kepada klien, keluarga, dan masyarakat.
Kebutuhan pelayanan
keperawatan adalah universal. Pelayanan profesional berdasarkan kebutuhan
manusia tidak membedakan kebangsaan warna kulit, politik, sosial, dan lainnya.
Pelayanan ini berdasarkan kepercayaan bahwa perawat akan membuat hal yang
benar, hal yang diperlukan dan hal yang menguntungkan pasien dan kesehatannya.
Oleh karena itu setiap manusia berinteraksi dengan tingkah laku yang
berbeda-beda. Sebagaimana diperlukannya pedoman untuk mengarahkan suatu untuk
bertindak.
Aspek legal Etik
Terdapat beberapa prinsip etik dalam pelayanan kesehatan
dankeperawatan yaitu :
a. Autonomy (penentu pilihan) Perawat
yang mengikuti prinsip autonomi menghargai hak klienuntuk mengambil keputusan
sendiri. Perawat
membantu klien untuk menentukan pilihan pengobatan seperti transfusi
darah dan pemberian obat –obatan, tanpa memaksa klien untuk melakukan pengobatan
tertentu.
b.Non Maleficence (do no harm), Non
Maleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidakmenyebabkan bahaya bagi
kliennya. Perawat harus lebih teliti dalam menangani kasus
klien agar tidak terhindar dari kelalaian.
c.
Beneficence
(do good), Beneficence berarti melakukan yang baik.
Perawat memilikikewajiban untuk melakukan dengan baik, yaitu, mengimplemtasikan
tindakan yang mengutungkan klien dan keluarga.Beneficence meningkatkan
kesehatan dan kesejahteraan klien dengan cara menentukan cara terbaik untuk
membantu pasien.Dalam hal ini, perawat harus melakukan tugasnya dengan
baik,termasuk dalam hal memberikan asuhan keperawatan yang baik kepada klien,
guna membantu mempercepat proses penyembuhan klien , seperti memberi obat
sesuai dosis dan tepat waktu.
d. Informed ConsentInformed
Consent atau Persetujuan Tindakan Medis (PTM)
merupakan persetujuan seseorang untuk memperbolehkan sesuatu yang terjadi(mis.
Operasi, transfusi darah, atau prosedur invasif). Ini berdasarkan pemberitahuan
tentang resiko penting yang potensial, keuntungan,dan alternatif yang ada pada
klien. Persetujuan tindakan memungkinkan klien membuat keputusan berdasarkan
informasi penuh tentang fakta. Seseorang yang dapat memberikan persetujuan jika
mereka legal berdasarkan umur, berkompeten, dan jika mereka telah
diidentifikasi secara legal sebagai pembuat keputusan.Setiap pasien mempunyai
hak untuk diberi informasi yang jelastentang semua resiko dan manfaat dari
perlakuan apapun, termasuk semua resiko dan manfaat jika tidak menerima perlakuan
yang dianjurkan atau jika tidak ada perlakuan sama sekali.
e. Justice (perlakuan adil), Perawat
mengambil keputusan dengan rasa keadilan sesuai dengankebutuhan tiap klien.
f. Kejujuran, Kerahasiaan, dan
Kesetiaan.Prinsip mengatakan yang sebenarnya (kejujuran)
mengarahkan praktisi untuk menghindari melakukan kebohongan atau menipu klien.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
stroke
adalah gangguan sirkulasi serebral yang disebabkan oleh sumbatan atau
penyempitan pembuluh darah oleh karena emboli, trombosis atau perdarahan
serebral sehingga terjadi penurunan aliran darah ke otak yang timbulnya secara
mendadak. Stroke diklasifikasikan menjadi dua yaitu Stroke Non Hemoragik, dan Stroke
Hemoragik. penyebab Stroke adalah Thrombosis, Embolisme, Iskemia, serta Hemoragi.
Tanda-Gejala
Stroke pusing dan
pingsan, nyeri kepala mendadak tanpa kausa yang jelas, bicara tidak jelas
(pelo), sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat, tidak mampu
mengenali bagian dari tubuh, ketidakseimbangan dan terjatuh dan hilangnya
pengendalian terhadap kandung kemih. Komplikasi Stroke Hipoksia serebral, Penurunan aliran darah
serebral
,
dan Embolisme serebral. Pemeriksaan Penunjang Stroke
dapat dilakukan pemeriksaan dengan Angiografi serebral, Pungsi lumbal, CT-scan, MRI (Magnetic
Resonance Imaging), Ultrasonografi Doppler, EEG (Electroencephalography), dan Sinar X
DAFTAR
PUSTAKA
Brunner
& suddarth,2002, buku ajar keperawatan medical bedah, penerbit buku
kedokteran EGC : jakarta
Suparman. (1987). Ilmu Penyakit Dalam. FKUI. Jakarta
Soeharto I. (2002). Proes Terjadinya Serangan Jantung dan Stroke.
Gramedia
Suyono S. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. FKUI Jakarta,
jilid II.
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana
Asuhan Keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan
pasien. Jakarta : EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar