Selasa, 22 Oktober 2013

STROKE


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Stroke atau cedera serebrovaskular ( CVA ), adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak. Sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskular selama beberapa tahun.
            Stroke adalah masalah neurologic primer di amerika serikat dan di dunia. Meskipun upaya pencegahaan telah menimbulkan penurunan pada insiden dalam beberapa tahun terakhir, stroke adalah peningkat ketiga penyebab kematian, dengan laju mortalitas 18% sampai 37% untuk stroke pertama dan sebesar 62% untuk stroke selanjutnya. Terdapat kira – kira 2 juta orang bertahan hidup dari stroke yang mempunyai beberapa kecacatan; dari angka ini, 40% memerlukan bantuan dalam aktivitas kehidupan sehari – hari.

1.2.Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
a. Mahasiswa dapat mengetahui anatomi fisiologi system saraf
b.Mahasiswa dapat mengetahui definisi dari stroke
c. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi dari stroke
d.                        Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi stroke
e. Mahasiswa dapat mengetahui patofisologi stroke
f. Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinis stroke
g.Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksa penunjang stroke
h.Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan stroke
i.  Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi stroke
j.  Mahasiswa dapat mengetahui pencegahan stroke
k.Mahasiswa dapat membuat asuhan keperawatan stroke

1.3.Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1.      Jelaskan anatomi fisiologi dari system saraf ?
2.      Apakah pengertian dari stroke?
3.      Apakah  etiologi dari stroke ?
4.      Apa saja klasifikasi dari stroke ?
5.      Jelaskan patofisiologi stroke ?
6.      Bagaimana manifestasi stroke ?
7.      Apa pemeriksaan penunjang stroke ?
8.      Bagaimana penatalaksanaan penunjang dari stroke ?
9.      Apakah komplikasi dari stroke ?
10.  Bagaimana cara pencegahan dari stroke ?
11.  Buat asuhan keperawatan dari stroke ?

1.4.Sistematika Penulisan
BAB I pendahuluan
1.1.Latar belakang
1.2.Tujuan
1.3.Rumusan masalah
1.4.Sistematika penulisan
BAB II pembahsan
BAB III penutup










BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Anatomi Fisiologi Sistem Saraf
   Sistem saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam. Untuk menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu:
1.Reseptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang bertindak sebagai reseptor adalah organ indera.
2.Penghantar impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari berkas serabut penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel khusus yang memanjang dan meluas. Sel saraf disebut neuron.
3.Efektor, adalah bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan oleh penghantar impuls. Efektor yang paling penting pada manusia adalah otot dan kelenjar.
Sistem kerja ketiga komponen tersebut dapat digambarkan seperti berikut:

     
Susunan saraf terdiri dari sel – sel (neuron ) dan sel – sel penyokong ( neuroglia dan sel sechwan ). Kedua jenis sel tersebut erat berikatan dan berintegrasi satu sama lain sehingga bersama – sama berfungsi sebagai satu unit.
1.Neuron adalah sel – sel system saraf  khusus peka rangsangan yang menerima masukan sensoris atau masukan aferen dari ujung – ujung saraf  perifer khusus atau dari organ reseptor sensoris dan menyalurkan aferen dari ujung – ujung saraf perifer khusus atau dari organ reseptor sensorik dan menyalurkan masukan motorik atau masukan eferen ke otot – otot dan kelenjar dimana kelenjar itu merupakan organ – organ efektor .
Neuron Neuron dapat menyalukan data neural ke neuron lain, dalam hal ini neuron tersebut sebagai neuron asosiasi atau neuron intrermuncial.
 bagian-bagian dari neuron :
- Badan sel (inti sel terdapat didalamnya)
- Bendrit : menghantarkan impuls menuju badan sel
- Akson : menghantarkan impuls keluar dari badan sel

Klasifikasi neuron berdasarkan bentuk :
a)   Neuron unipolar
Terdpt satu tonjolan yg bercabang dua dekat dengan badan sel, satu cabang menuju perifer & cabang lain menuju SSP (neuron sensorik saraf spinal)
b)    Neuron bipolar
Mempunyai dua tonjolan, 1 akson dan 1 dendrit
c)   Neuron multipolar
Terdapat beberapa dendrit dan 1 akson yg dpt bercabang-cabang banyak sekali
Sebagian besar organela sel pd neuron terdpt pada sitoplasma badan sel
Fungsi neuron : menghantarkan impuls saraf keseluruh tubuh (somatik dan viseral)
Impuls neuron bersifat listrik disepanjang neuron dan bersifat kimia diantara neuron (celah sinap / cleft sinaptik) Zat kimia yg disinteis neuron & disimpan didalam vesikel ujung akson disebut neurotransmiter yg dpt menyalurkan impuls
Contoh neurotransmiter : asetilcolin, norefineprin, dopamin, serotonin, gama-aminobutirat (GABA)

2.   Neuroglia merupakan penyokong, pelindung dan sumber nutrisi bagi neuron-neuron otak dan medulla spinalis, sedangkan selschwan merupakan pelindung dan penyokong neuron-neuron dan tonjolan neural di luar system saraf pusat.
Ada 4 macam neuroglia
a)   Mikroglia : berperan sebagai fagosit
b)   Ependima : berperan dalam produksi CSF
c)   Astrosit : berperan menyediakan nutrisi neuron dan mempertahankan potensial biolelektrik
d)  Oligodendrosit : menghasilkan mielan pada system saraf pusat selubung neuron
     System saraf di bagi menjadi
3.myelin
a)   komplek protein lemak berwarana putih yang menutupi tonjolan saraf (neuron)
b)   menghalangi aliran ion Na dan K melintasi membrane neural
c)   daerah yang tidak bermielin disebut nodus ranvier
d)  transmisi impuls pada saraf bermielin lebih cepet dari pada yang tidak bermielin, karena adanya loncatan impuls dari satu nodus ke nodus lainnya (konduksi saltatorik)
Pembagian sistem saraf secara anatomi
1.  System Saraf Pusat (SSP)
Sistem saraf pusat (SSP) meliputi otak (ensephalon) dan sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Selain tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3 lapisan selaput meninge. Bila membran ini terkena infeksi maka akan terjadi radang yang disebut meningitis.
Ketiga lapisan membran meninges dari luar ke dalam adalah sebagai berikut:
·   Dura meter, - lapisan paling luar, menutup otak dan medulla spinalis. Sifat dura meter liat, tebal, tidak elastic, berupa serabut dan berwarna abu – abu. Bagian pemisah dura ; falx serebri yang memisahkan kedua hemisfer dibagian longitudinal dan tentorium, yang merupakan lipatan luar dura yang membentuk jaringan – jaringan yang kuat. Jaringan ini mendukung hemisfer dan memisahkan hemisfer dengan bagian bawah otak (fossa posterior). Jika tekanan di dalam rongga orak mengingkat, jaringan otak terekan kea rah tentorium atau berpindah kebawah, keadaan ini disebut herniasi.
·   Arakhnoid,- merupaka membrane  bagian tengah, membrane yang bersifat tipis dan lembut ini menyerupai sarang laba – laba, oleh karena itu disebut arakhoid. Membrane ini berwarna putih karena tidak dialiri darah. Pada dinding arakhoid  terdapat pleksus khoroid, yang bertanggung jawab memproduksi cairan serebrospinal (CSS).
·   Pia meter,- membrane yang paling dalam, berupa dinding yang tipis, transparan, yang menutupi otak dan meluas ke setiap lapisan daerah otak.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai 3 materi esensial yaitu:
1.badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea)
2.serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi alba)
3.sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat
Walaupun otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama tetapi susunannya berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak di bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa materi putih.
Otak
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.
Berdasarkan perkembangan embriologik. Otak tengah, pons dan medulla oblongata bersama-sama di namakan batang otak. Otak manusia di perkirakan mempunyai berat 2% BB orang dewasa, menerima aliran darah 20% dari curah jantung, membutuhkan oksigen 20% dari seluruh kebutuhan tubuh serta membutuhkan 400 kilo kalori energy setiap hari. Otak merupakan jaringan yang paling banyak memakai energy terutama berasal dari proses metabolism oksidasi glukosa. Jaringan otak sanagat rentan dan kebutuhan oksigen dan glukkosa melalui perdarahan darah adalah konstan.


v Otak besar (serebrum)
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktivitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan.
Serebrum terdiri dari dua hemisfer dan empat lobus. Substansia grisea terdapat pada bagian luar dinding serebrum dan subtansia alba menutupi dinding serebrum bagian dalam.
Empat lobus serebrum adalah sebagai berikut :
(a)   Frontal,- lobus terbesar, terletak pada fossa anterior. Area ini mengontrol perilaku individu, membuat keputusan, kepribadian dan menahan diri.
(b)   Pariental,- lobus sensori. Area ini menginterprestasikan sensai. Sensari rasa yang tidak berpengaruh adalah bau. Lobus pariental mengatur individu mampu mengetahui posisi dan letak bagian tubuhnya. Kerusakan pada daerah ini menyebabkan sindrom hemineglect.
(c)    Temporal, - berfungsi mengintegrasikan sensai cap, bau , dan pendengaran. Ingatan jangka pendek sangat berhubungan dengan daerah ini.
(d)   Oksipital,- terletak pada lobus posterior hemisfer serebri.bagian ini bertanggung jawab menginterprestasikan penglihatan.
Korpus kolosum adalah kumpulan serat – serat saraf yang tipis, yang menghubungkan kedua hemisfer otak dan bertanggungjawab dalam transmisi informasi salah satu sisi otak bagian lain. Orang yang dominan menggunakan tangan kanan dan beberapa orang yang dominan menggunakan tangan kiri, mempunyai bagian serebri dominan pada daerah otak kiri, otak dengan kemampuan lebih pada berbicara, bahasa aritmtika, menghitung dan fungsi analisis. Daerah hemisfer yang tidak dominan bertanggung jawab dalam kemampuandalam geometric, penglihatan, membuat pola dan fungsi musical.
v Otak tengah (mesensefalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran.
a)      Thalamus,- berapa pada salah satu sisi pada sepertiga ventrikel dan aktivitas primernya sebagai pusat penyambung sensasi bau yang diterima. Dan semua impuls memori, sensasi dan nyeri.
b)      Hipotalamus,- terletak pada anterior dan inferior thalamus. Berfungsi mengontrol dan mengatur system saraf autonom. Hipotalamus bekerjasama dengan hipofisis untuk mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan pengaturan suhu tubuh melalui peningkatan vasokonstriksi atau vasodilatasi dan mempengaruhi sekresi hormonal dengan kelenjar hipofisis. Hipotalamus juga sebagai pusat lapar dan mengontrol berat badan. Sebagai pengaturan tidur, tekanan darah, perilaku agresif dan seksua dan pusat respon emosional ( mis, rasa malu, marah, depresi, panic, takut )
c)      Kelenjar hipofisis,-   sebagai master kelenjar karena sejumlah hormone – hromon dan fungsinya diatur oleh kelenjar hipofisis. Dengan hormone – hormonenya hipofisis dapat mengontrol fungsi ginjal, pancreas, organ – organ reproduksi, tiroid, korteks adrenal dan organ –organ lain.
Hipofisis merupakan bagian otak yang tiga kali lebih sering timbul tumor pada orang dewasa, biasanya terdeteksi dengan tanda dan gejala fisik yang dapat menyebar ke hipofisis.
Hipofisis lobus anterio memproduksi
1)      Hormone pertumbuhan,
2)      Hormone adrenokortikotropik (ACTH),
3)      Prolaktin,
4)      Hormone perangsang tiroid (TSH),
5)      Hormone folikel (FSH) dan
6)      Luteinizing hormone (LH).
Lobus posterior berisi ; hormone antidiuretik (ADH) yang mengatur sekresi dengan retensi cairan pada ginjal. Dua sindrom yang sering muncul dihubungkan dengan abnormalitas ADH adalah diabetess insipidus ( DI ) dan sindrom ketidaktepatan ADH (SIADH)
v Otak kecil (serebelum)
Serebelum terletak pada fossa posterior dan terpisah dari hemisfer serebral, lipatan dura meter, tentorium serebelum. Serebelum mempunyai dua aksi yaitu merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang luas terhadap koordinasi dan gerakan halus. Ditambah mengontrol gerakan yang benar, keseimbangan, posisi dan mengintegrasikan input sensorik.
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
v Sumsum sambung (medulla oblongata)
Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga memengaruhi jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan.
Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan berkedip.
v Jembatan varol (pons varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum tulang belakang.
Berdasarkan letaknya, otak dapat dibagi menjadi lima yaitu:
(a)    Telensefalon (end brain) terdiri dari  :
Hemisfer serebri
kortek serebri
sistem limbik (Bangsal ganglia, hipokampus, Amigdala)
(b)   Diensefalon (inter brain), terdiri dari :
Epitalamus
Talamus
Subtalamus
Hipotalamus
(c)    Mesensefalon (mid brain),terdiri dari :
Kolikulus superior
Kolikulus inferior
Substansia nigra
(d)   Metensefalon (after brain), terdiri dari :
Pons
Serebelum
Mielensefalon
Medula oblongata
(e)    Mielensefalon (marrow brain)

v Sirkulasi serebral
Siklus serebral menerima kira – kira 20% dari curah jantung atau 750 ml permenit. Sirkulasi  ini sangat dibutuhkan, karena otak tidak menyimpan makanan, sementera mempunyai kebutuhan metabolism yang tinggi.
1)   Arteri – arteri,- darah arteri yang disuplai ke otak berasal dari dua arteri carotid internal dan dua arteri vertebral dan meluas ke system percabangan.
     Arteri – arteri vertebral adalah cabang dari arteri subklavia, mengalir ke belakang dan naik pada satu sisi tulang belakang bagian ventrikal dan masuk tengkorak melalui foramen magnum. Kemudia saling berhubungan menjadi arteri basilaris pada batang otak. Arteri vertebrobasilaris paling banyak menyuplai darah keotak bagian posterior.
2)   Sirkulus willisi,­­- pada dasr otak di sekitar kelenjar hipofisis, sebuah lingkaran arteri terbentuk diantara rangkaian arteri carotid internal dan vertebral lingkaran ini disebut sirkulasi willisi.
Aliran darah dari sirkulus willisi secara langsung mempengaruhi sirkulasi anterior dan posterior serebral, arteri – arteri pada sirkulus anterior dan posterior serebral, arteri – arteri sirkulus willisi member rute alternative pada aliran darah jika salah satu peran arteri mayor tersumbat.
3)   Vena,- aliran vena untuk otak tidak menyertai sirkulasi arteri sebagaimana pada struktur organ lain. Vena – vena pada otak menjangkau daerah otak dan bergabung menjadi vena – vena yang besar. Jaringan kerja pada sinus – sinus membawa vena keluar dari otak dan pengosongan vena jugularis internal menuju system sirkulasi pusat. Vena – vena serebri tidak mempunyai katub untuk mencegah aliran balik darah.
v Barier darah – otak
System saraf pusat tidak dapat dimasuki beberapa zat yang ada pada sirkulasi dara ( mis, zat warna, obat – obatan, antibiotic ). Setelah disuntikan kedalam aliran darah, zat – zat ini tidak menjangkau neuron – neuron system saraf pusat. Fenomena ini disebut barier darah – otak. Sel – sel endotel pada kapiler – kapiler otak membentuk persampingan penghubung yang kuat, hal ini menciptakan barier terhadap molekul makro dan gabungan beberapa zat. Barier terhadap molekul – molekul besar yang masuk kecairan serebrospinal disebabkan oleh rendahnya permeabilitas terhadap sel –sel yang keluar pada pleksus koroid. Semua zat – zat yang masuk CSS harus disaring melalui membrane kapiler pleksus koroid. Apabila terjadi trauma, edema serebri dan hipoksemia serebri maka dengan adanya barier darah – otak perlu dilakukan seleksi pengobatan atau obat yang diberikan untuk proses penyakit system saraf pusat.
v Cairan serebrospinal
Cairan serebrospinal merupakan cairan yang bersih dan tidak berwarna dengan berat jenis 1,007, diproduksi didalam ventrikel dan bersikulasi disekitar otak dan medulla spinalis melalui system ventricular.ventrikel terdiri dari 4 ventikel yaitu ventrikel lateral kanan, kiri, ventrikel ketiga dan keempat. Kedua ventrikel lateral luar keventrikel ketiga pada foramen antara ventricular dan foramen monro. Ventrikel ketiga dan keempat berhubungan dengan melalui saluran sylvius. Ventrikel keempat menyuplai CSS keruang subarakhoid dan turun ke medulla spinalis pada permukaan daerah dorsal.
CSS diproduksi didalam pleksus koroid pada ventrikel lateral ketiga dan keempat. System ventricular dan subarakhoid mengandung kira – kira 150 ml air, 15 – 25 ml dari CSS terdapat di masing – masing ventrikel lateral.
Secara organic dan nonorganic kandungan CSS sama dengan plasma, tetapi mempunyai perbedaan konsentrasi. CSS mengandung protein, glukosa dan klorida, juga mengandung immunoglobulin. Secara normal CSS mempunyai sedikit sel – sel darah putih dan tidak mengandung sel darah merah.
Sumsum tulang belakang (medula spinalis)
Merupakan suatu struktur lanjutan tunggal yang memanjang dari medulla oblongata melalui foramen magnum dan terus kebawah melalui columna vertebralis sampai setinggi vertebrata lumbalis pertama (L1) orang dewasa. Medulla spinalis terbagi menjadi 32 segmen yang menjadi tempat asaldari 31 pasang saraf spinal.Segmen-segmen tersebut di beri nama sesuai dengan vertebrata tempat keluarny aradiks saraf yang bersangkutan, sehingga medulla spinalis di bagi menjadi cervical, thorakal, lumbal dan sacral.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor.

Suplai darah otak
Otak mendapat suplai darah dari 2 arteri besar, yaitu :
1.   Arteri karotis interna
2.   Arteri vertebro basiler

2.  System Saraf Tepi (SST).
SST di bagi menjadi 31 pasang saraf spinal dan 12 pasang saraf kranial. Saraf perifer dapat terdiri dari neuron-neuron yang menerima pesan-pesan neurosensorik( afferent) yang  menuju ke system saraf pusatdan menerima pesan-pesan motoric ( efferent) dari system sarafpusat. Saraf spinal menghantarkan baik pesan-pesan aferent maupun efferent dengan demikian saraf-saraf spinal dinamakan saraf campuran. Saraf-saraf cranial berasal dari bagian permukan otak. 5 pasang merupakan saraf motoric, 3 pasang merupakan saraf sensorik, dan 4 pasang merupakan saraf campuran. Secara fungsional system saraf tepi di bagi menjadi system saraf somatic dan system sarafotonom.
a.   System saraf somatic (SSS)
SSS terdiri dari system saraf campuran. Bagian afferent membawa baik informasi sensorik yang disadari maupun informasi sensorik yang tidak disadari
(misalnya nyeri, suhu, raba, propiosepsi yang di sadari maupun yang tidak di sadari, afferent penglihatan, pengecapan, pendengaran, penciuman) dari kepala, dinding tubuh dan ekstremitas. Saraf eferent terutama berhubungan dengan otot rangka tubuh.System  saraf somatic mengenai interaksi dan respon terhadap lingkungan luar.
Saraf otak ada 12 pasang yang terdiri dari:
1.   Tiga pasang saraf sensori, yaitu saraf nomor 1, 2, dan 8
2.   Lima pasang saraf motor, yaitu saraf nomor 3, 4, 6, 11, dan 12
3.   Empat pasang saraf gabungan sensori dan motor, yaitu saraf nomor 5, 7, 9, dan 10.
Saraf otak dikhususkan untuk daerah kepala dan leher, kecuali nervus vagus yang melewati leher ke bawah sampai daerah toraks dan rongga perut. Nervus vagus membentuk bagian saraf otonom. Oleh karena daerah jangkauannya sangat luas maka nervus vagus disebut saraf pengembara dan sekaligus merupakan saraf otak yang paling penting.
Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan. Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan satu pasang saraf ekor.
Beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf yang disebut pleksus. Ada 3 buah pleksus yaitu sebagai berikut.
(a)   . Pleksus cervicalis merupakan gabungan urat saraf leher yang mempengaruhi bagian leher, bahu, dan diafragma.
(b)   Pleksus brachialis mempengaruhi bagian tangan.
(c)     Pleksus Jumbo sakralis yang mempengaruhi bagian pinggul dan kaki.


b.      System saraf otonom (SSO)
System saraf otonom merupakan system saraf campuran juga dinamakan serabut-serabut aferentnya membawa masukan dari organ-organ visceral (mengenai pengaturan denyut jantung diameter pembuluh darah jantung, pernafasan, pencernaan makanan, rasa lapar, mual, pembuangan dan sebagainya) saraf efferent motrik system saraf otonom mempersyarafi otot polos, otot jantung, dan kelenjar-kelenjar visceral. Sistem saraf otonom yang terutama menangani pengaturan fungsi visceral interaksinya dengan lingkungan dalam. System saraf otonom di bagi menjadi system saraf otonom di bagi menjadi system saraf otonom parasimpatis dan system saraf otonom simpatis. Bagian simpatis meninggalkan system saraf pusat dari daerah thorakal dan lumbal (torakolumbal) medulla spinalis. Bagian parasimpatis keluar dari otak (melalui komponen-komponen saraf kranial).Dan bagian sacral medulla spinbalis (kraniosakral) beberapa fungsi parasimpatis adalah meningkatkan kecepatan denyut jantung dan frekuensi pernafasan serta penurunan aktifitas pencernaan. Adapun tujuan utaman fungsinya adalah mempersiapkan tubuh agar siap menghadapi stress atau yang di namakan respon “figh or flight” sebaliknya beberapa fungsi system saraf simpatisa adalah menurunkan kecepatan denyut jantung dan frekuensi pernafasan dan meningkatkan pergerakan saluran cerna sesuai dengan kebutuhan pencernaan dan pembuangan sehingga saraf parasimpatis membantu konservasi dan homeostasis fungsi-fungsi tubuh.
Manifestasi klinik dari gangguan system saraf  otonom  dapat  terjadi pada beberapa system tubuh (akibat gannguan neurologis dan non neurologis). Gangguan neurologic dapat memperlihatkan manifestasi klinis meliputi : gangguan pola nafas, gangguan regulasi suhutubuh (hypothermia danhipertermia) nadi tidak normal, respon pilomotor perubahan pupil, kulitdan vasomotor, serta gangguan digestif. Kaji juga tentang adanya polyuria dan motilitas abnormal pada saluran cerna, pengkajian abdomen dapat ditemukan adanya distensi bowel atau bladder. Perhatikan juga adanya perubahan rasa haus, energy,libido, BB dan rasa lapar. Kaji kulit, membrane mukosa, rambut dan kuku pada perubahan tropis. Perubahan ini dapat terjadi pada penyakit yang di sebabkan oleh kehilangan innervasi (suplai saraf otonom). Perubahan tropis ini di tandai oleh perubahan daerah yang berkeringat suhu meningkat (seperti sianosis, wajah memerah, erythema), kuku bias menjadi mudahpatah, tipis, bengkok dan mudah rusak, kulit bias menjadi userasi, tipis, atrofi, pigmentasi, berminyak, berkalus, bersisik, tebal, mengkilap dan kering. Rambut yang berminyak, mudah patah atau kering dan pertumbuhan rambut yang abnormal. Kerusakan kulit pada daerah yang tertekan .
 Parasimpatik
·   Mengecilkan pupil
·   Menstimulasi aliran ludah
·   Memperlambat denyut jantung
·   Membesarkan bronkus
·   Menstimulasi sekresi kelenjar pencernaan 
·   Mengerutkan kantung kemih
Simpatik
·   Memperbesar pupil
·   Menghambat aliran ludah
·   Mempercepat denyut jantung
·   Mengecilkan bronkus
·   Menghambat sekresi kelenjar pencernaan 
·   Menghambat kontraksi kandung kemih


Saraf cranial
Nervus cranial
Fungsi
Pemeriksaan
I olfaktorius
penciuman
Mata pasien ditutup, pasien
 diperintahkan mengidentifikasikan bau yang sudah dikenal (kopi,tembakau), masing –masing lubang hidung diuji secara terpisah
II Optikus

penglihatan

Pemeriksaan dengan kartu snellen, lapang pandang, pemeriksaan
 oftamoskopi

III Okulomotorius

Gerak mata, kontraks pupil, akomodasu

Test lapang penglihatan. Kaji refleks pupil, pen ligh

IV Thokhlearis

Gerak mata

Letakkan jari kiri pemeriksaan 25 cm didepan hidung pasien, lalu gerakkan jari 30 cm ke kanan pasien dan berhenti, lalu gerakkan 20cm keatas dan berhenti dan kebawah 40cm dan berhenti dan secara perlahan kembali ketengah. Lalu ulangi hal seperti ini untuk arah ke kiri

V Trigeminus

Sensasi umum pada wajah, kulit kepala, gigi dan mengunyah

  1. Refleks kornea : pada saat pasien melihat keatas ,lakukan sentuhan ringan dengan sebuah kapaskecil didaerah temporal masing – masing kornea. Bila terjadi kedipan, mata keluar airmata adalah respon normal
  2. Pemeriksaan cabang sensorik : pasien diminta menutup mata oleskan ujung kasa ke pipi dan rahang, jika normal pasien merasakannya
  3. Pemeriksaan cabang motorik : pasien diminta mengatupkan gigi jika tidak simetris berarti ada kelemahan unilateral

VI Abducens

Gerak mata

Idem dengan N. IV

VII facial

Gerakkan otot wajah ekspresi wajah, sekresi ait mata dan ludah
Rasa kecap,dua pertiga anterior lidah

Observasi simetrisitas gerakan wajah saat tersenyum, bersiul, mengangkat alis, mengerutkan dahi, saat menutup mata rapat (juga saat membuka mata)
Pasien  mengektensikan lidah,
 kemampuan lidah membedakan rasa gula dan garam.



VIII Vestibulokoklearis

Pendengaran,keseimbangan

Uji bisikan suara dan bunyi detak jam, uji untuk lateralisasi (weber), uji untuk konduksi udara dan tulang (rinne)

IX Glasofaringues

Pengecapan sensai umum pada faring dan telinga, mengangkat palatum, sekresi kelenjar parotis

Minta pasien mengatakan AH….Ah.. Palatm mole terangkat simetris dan uvula tetap ditengah.
Gunakan spate lidah, sentuh 1/3 posterior lidah, palatum mole / dinding farings posterior ada reflex muntah dari pasien.
Pejamkan mata pasien letakkan garam/gula/pahit dilidahnya,tanyakan rasa tersebut.

X vagus

Pengecapan, sensai umum pada faring dan telinga, menelan, ponasi, parasimpatis untuk jantung dan visera abdomen

Idem – N IX

XI asesorius spinal

Fonasi, gerakkan leher dan bahu

Letakkan telapak tangan pemeriksa dipipi, minta pasien untuk melawan  gerakkan tahanan pemeriksa ; test M. tarpezius tekan bahu klien dengan jari telunjuk dan ibu jari pemeriksa minta klien melawannya

XIII Hipoglosus

Gerak lidah

Pasien minta buka mulut dan biarkan terletak didasar mulut



2.2.Definisi Stroke
a. Stroke atau cerebro vaskuler accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang di akibatkan oleh berhentinya suplay darah kebagian otak (Brunner dan Suddart, 2002).

b.Stroke atau cerebro vaskuleraccident (CVA) adalah gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak (dalam waktu beberapa detik) atau secara cepat dengan segala atau isyarat yang sesuai dengan darah otak yang mengalami pasokan darah (Margatan.A., 1995).

c. Menurut WHO ( 1963 ) dan karya ( 1988 ) dan Harsono ( 1933 ) stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi cerebral, baik local maupun menyeluruh ( global ). Yang berlangsung cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukan penyebab gangguan vascular. Gangguan peredaran darah otak dapat mengakibatkan fungsi otak terganggu dan bila gangguan yang terjadi cukup besar dapat mengakibatkan kematian sebagian otak atau infark.Gejala-gejala yang terjadi tergantung pada daerah otak yang dipengaruhi.

2.3.Etiologi Stroke
1)   Menurut Brunner dan Suddart (2002) penyebab dari stroke  terdiri dari  :
·   Trombosis : Bekuan darah didalam pembuluh darah.
·   Embolisme serebral : Bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain.
·   Iskemia : Penurunan aliran darah keotak.
·   Hemoragi serebral : Pecahnya penbuluh darah serebral dengan perdarahan kedalam jaringan atau ruang sekitar otak.
2)   Faktor Resiko Stroke
Stroke dapat di cegah dengan memanipulasi faktor resiko baik individu maupun komunitas seperti yang di ungkapkan oleh MurniIndrasti (2004), faktor resiko stroke antara lain:
a)      Hipertensi
   Hipertensi merupakan faktor resiko mayor, baik stroke iskemik,perdarahan subaraknoid, hipertensi akan mempercepat arterosklerosis sehingga mudah terjadi kolusi emboli pada pembuluh darah besar.
b)      Penyakit jantung
   Penyakit jantung koroner, penyakit jantung kongestif, hipertrofi ventrikel kiri, aritmia jantung dan terutama atrium fibrilasi merupakan faktor resiko dari stroke, karena terdapat gangguan pemompaan atau irama jantung, sehingga emboli yang berasal dari bilik jantung atau vena pulmoner dapat menyebabkan infark serebri yang mendadak.
c)Diabetes Melitus
   Merupakan faktor resiko terhadap stroke iskemik dan bila di sertai dengan hipertensi resikonya akan menjadi lebih besar. Diabetes mempunyai keseimbangan internal ke arah trombogenik, suatu abnormalis sistem hemostatik pada diabetes melitus adalah hiperaktifitas trombosit.
d)      Arterosklerosis
   Adanya manifestasi klinis dari aterosklerosis baik berupa angina pektoris, bising arterikarotis, klaudikasio, intermitten merupakan faktor resiko dari stroke.
e)Viscositas darah
   Meningkatnya viscositas atau kekentalan darah baik di sebabkan oleh karna meningkatnya hematokrit dan fibrinogen akan meningkatkan resiko stroke.
f)  Pernah stroke sebelumnya atau TIA (Transien Iscemia Attack)
   Dari semua penderita stroke 50% di antaranya pernah TIA. Beberapa laporan menyatakan bahwa penderita dengan TIA komunikan 1/3nyaakan mengalami TIA 1/3 tanpa gejala dan 1/3 akan mengalami stroke.
g)      Peningkatan kadar darah lemak
   Ada hubungan positif antara aterosklerosis serebrovaskuler, ada hubungan positif antara kadar kolesterol total dan kadar trigliserida dengan resiko dan ada hubungan negatif antara meningkatnya HDLdengan resiko stroke.

h)      Merokok
   Merupakan faktor resiko stroke, resiko meningkat dengan banyaknya jumlah rokok yang di hisap sehari, dengan dengan berhenti merokok resiko stroke akan menurun setelah 2 tahun dan kemudian akan terus menurun setelah 2 tahun dan kemudian akan terus menurun setelah 5tahun, resiko akan sama dengan bukan perokok.
i)  Obesitas
   Obesitas sering di hubungkan dengan hipertensi dan gangguan toleransi glukosa dan akan meningkatkan resiko stroke. Obesitas tanpa di sertai hipertensi dan diabetes melitus bukan merupakan faktor resiko stroke yang bermakna.
j)  Alkohol
   Minum alkohol yang berlebihan merupakan faktor resiko untuk stroke iskemik dan mungkin stroke hemoragik. Peminum alcohol yang berlebihan akan meningkatkan tekanan darah, kadar trigliserida fibrilasi atrium, paroksimal dan kardiomiopati.
k)Faktor resiko lainya
   Masih banyak lagi faktor resiko yang telah di teliti usia lanjut dan jenis kelamin pria juga merupakan faktor resiko yang independent.Yang juga mungkin termasuk faktor resiko ialah: migren, status ekonomi, kenaikan hematokrit, fibrinogen, diet tinggi natrium, diet rendah kalium dan inaktifitas ( kurang olahraga ).

2.4.Klasifikasi Stroke
a.TIA (Trancient Ischemic Attack)
TIA di defenisikan sebagai suatu gangguan yang akud darifungsi serebral yang di sebabkan karena emboli atau trombosit.TIA merupakan stroke yang ringan, berupa serangan stroke sepintas.Gejala neurologis yang timbul akan dengan cepat menghilang.Lamanya serangan juga sangat berfariasi, ada yang berlangsungselama 5 menit, ada yang 5 menit tetapi ada pula yang berlangsungselama sehari penuh, sebanyak 50% dari TIA dapat sembuh dalamwaktu 1 jam dan 90% sembuh dalam waktu 4 jam. Otak mendapat darah dari dua system, yaitu system karotisdan system vertebrobasilaris. TIA yang di sebabkan dari systemkarotis menampakan gejala-gejala antara lain: gangguan penglihatan,kelumpuhan lengan atau tungkai kedua-duanya pada sisi yang sama.Defisit sensorik atau motorik dari wajah saja, wajah dan lengan atautungkai saja secara unilateral. Gejala yang lain adalah kesulitan untuk mengerti bahasa dan atau berbicara, dapat juga pemakaian yang salah satu dari kata-kata atau di ubah-ubah.Gejala dari TIA yang di sebabkan oleh gangguan dari system vertebrosilaris dapat berupa: vertigo dengan atau tanpa di sertai muntah terutama bila di sertai dengan diplopia, dysphagia atau disarthia. Mendadak tidak stabil atau drop attack, yaitu keadaan dimana kekuatan dua tungkai tiba - tiba menghilang sehingga penderita jatuh. Gejala lain adalah gangguan fisual, motorik atausensorik yang unilateral atau bilateral satu sisi kemudian di ikuti olehsisi lain.

b.   RIND (Reversible Ischemic Neurologik Devicit)
Seperti halnya pada TIA gejala neurologis yang ada pada RIND juga akan menghilang, hanya saja waktunya lebih dari 24 jam,namun kurang dari 21 hari.
c. Progressing Stroke
Pada bentuk ini kelainan yang ada masih terus berkembang ke arah yang lebih berat, misalnya awal gejala hanya berupa deficit sensorik wajah kiri, namun terus berkembang menjadi lemah lengankiri, kemudian menyusul lemah tungkai kiri sehingga ahirnya lumpuh total lengan dan tungkai kiri.
d.   Completed Stroke
Dengan kompleted stroke di artikan bahwa kelainan neurologis yang ada sifatnya sudah lengkap.
e. Stroke Non Hemoragik
Suatu gangguan peredaran darah otak tanpa terjadi suatu perdarahan yang ditandai dengan kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak atau hemiparese, nyeri kepala, mual, muntah, pandangan kabur dan dysfhagia (kesulitan menelan).Stroke non haemoragik dibagi lagi menjadi dua yaitu stroke embolik dan stroke trombotik (Wanhari, 2008).


f. Stroke Hemoragik
Suatu gangguan peredaran darah otak yang ditandai dengan adanya perdarahan intra serebral atau perdarahan subarakhnoid.Tanda yang terjadi adalah penurunan kesadaran, pernapasan cepat, nadi cepat, gejala fokal berupa hemiplegi, pupil mengecil, kaku kuduk (Wanhari, 2008).


2.5. Patofisiologi Stroke
      Terlampir
2.6.Manifestasi Klinis
Menurut Soeharto (2002) menyebutkan tanda gejala dari stroke adalah sebagai berikut
·   Hilangnya kekuatan (atau timbulnya gerakan canggung) di salah satu bagian tubuh, terutama di salah satu sisi, termasuk wajah, lengan atau tungkai.
·   Rasa baal (hilangnya sensasi) atau sensasi tak lazim di suatu bagian tubuh, terutama jika hanya salah satu sisi.
·   Hilangnya penglihatan total atau parsial di salah satu sisi.
·   Tidak mampu berbicara dengan benar atau memahami bahasa.
·   Hilangnya keseimbangan, berdiri tak mantap jatuh tanpa sebab.
·   Serangan sementara, jenis lain seperti vertigo, pusing bergoyang,kesulitan menelan,            kebingungan akud atau gangguan daya ingat.
·   Nyeri kepala yang terlalu parah, muncul mendadak atau memiliki karakter tidak lazim, termasuk perubahan pola nyeri kepala yang tidak dapat di terangkan.Perubahan kesadaran yang tidak dapat di jelaskan atau kejang.
2.7.Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan cek laboratorium, pemeriksaan
neurokardiologi, pemeriksaan radiologi,penjelasanya adalah sebagai berikut :
1)   Laboratorium
·      Pemeriksaan darah rutin.
·      Pemeriksaan kimia darah lengkap.
a)   Gula darah sewaktu.Stroke akut terjadi hiperglikemia reaktif. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian berangsur – angsur kembali turun.
b)    Kolesterol, ureum, kreatinin, asam urat, fungsi hati,enzim SGOT/SGPT/CPK, dan profil lipid (trigliserid,LDH-HDL kolesterol serta total lipid).
·   Pemeriksaan hemostasis (darah lengkap).
a)   Waktu protrombin.
b)   Kadar fibrinogen.
c)   Viskositas plasma
·   Pemeriksaan tambahan yang dilakukan atas indikasiHomosistein.

2)   Pemeriksaan neurokardiologi
Sebagian kecil penderita stroke terdapat perubahan elektrokardiografi.Perubahan ini dapat berarti kemungkinan mendapat serangan infark jantung, atau pada stroke dapat terjadi perubahan – perubahan elektrokardiografi sebagai akibat perdarahan otak yang menyerupai suatu infark miokard.Pemeriksaan khusus atas indikasi misalnya CK-MB follow upnya akan memastikan diagnosis. Pada pemeriksaan EKG dan pemeriksaan fisik mengarah kepada kemungkinan adanya potensial source of cardiac emboli (PSCE) maka pemeriksaan echocardiografi terutama transesofagial echocardiografi (TEE)       dapat diminta untuk visualisasi emboli cardial.

3)   Pemeriksaan radiologi
·      CT-scan otak
Perdarahan intraserebral dapat terlihat segera dan pemeriksaan ini sangat penting karena perbedaan manajemen perdarahan otak dan infark otak. Pada infark otak, pemeriksaan CT-scan otak mungkin tidak memperlihatkan gambaran jelas jika dikerjakan pada hari –hari pertama, biasanya tampak setelah 72 jam serangan.Jika ukuran infark cukup besar dan hemisferik.Perdarahan/infark di batang otak sangat sulit diidentifikasi, oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan MRI untuk memastikan proses patologik di batang otak.
·   Pemeriksaan foto thoraks.
a)   Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita strokedan adakah kelainan lain pada jantung.
b)  Dapat mengidentifikasi kelainan paru yang potensial mempengaruhi proses manajemen dan memper buruk prognosis.

2.8.Penatalaksanaan
Cara penatalaksanaan medis yang dilakukan pada pasien stroke adalah :
Diagnostik seperti ingiografi serebral, yang berguna mencari lesi dan aneurisme. Pengobatan, karena biasanya pasien dalam keadaan koma, maka pengobatan yang diberikan yaitu :
·   Kortikosteroid , gliserol, valium manitol untuk mancegah terjadi Edema acak dan timbulnya kejang.
·   Asam traneksamat 1gr/4 jam iv pelan-pelan selama tiga mingguSerta berangsur-angsur       diturunkan untuk mencegah terjadinya Lisis bekuan darah atau perdarahan ulang.
·   Operasi bedah syaraf (kraniotomi)
·   Adapun tindakan medis pasien stroke yang lainnya adalah :
·   Deuretik : untuk menurunkan edema serebral.
·   Antikoagulan : untuk mencegah terjadinya atau memberatnya trombosis atau emboli          dari tempat lain dalam system kardiovaskuler.
·   Medikasi anti trombosit : Dapat disebabkan karena trombosit memainkan peran yang         sangat penting dalam pembentukan trombus dan embolisasi (Brunner &Suddarth                  ,2002 )

2.9. Komplikasi
·   Kenaikan tekanan darah ( tinggi)
·   Kadar gula darah (tinggi)
·   Gangguan jantung
·   Infeksi / sepsis (gangguan ginjal dan hati) (cairan , elektrolit asam dan basa)(Brunner         & Suddarth, 2002)
·   Hipoksia serebral, diminimalkan dengan member oksigennasi darah adekuat ke otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan kejaringan. Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin serta hematokrit pada tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan.
·   Aliran darah serebral, bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan integrasi pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan intravena) harus menjamin penurunan viskositas darah dan memperbaiki aliran darah serebral. Hipertensi ekstrem perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi meluasnya area cedera.
·   Embolisme serebral, dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrasi atrium atau dapat berasal dari katub jantung prostetik. Embolisme akan menurunkan aliran darah keotak dan selanjutnya menurunkan aliran darah serebral. Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsiten dan pengehentian thrombus local. Selain itu, distritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki

2.9.Pencegahan
Pencegahan primer adalah usaha pencegahan serangan stroke yang bertujuan untuk mencegah stroke yang terjadi pertama kali, sedangkan pencegahan sekunder adalah usaha pencegahan pada penderita yang pernah mengalami serangan stroke dan ingin menghindari serangan berikutnya ( Thomas. D. J. 1993).
a)   Pencegahan primer
·   Pengobatan tekanan darah
Pada pasien yang memiliki tekanan darah tinggi (tekanan sistolik lebih dari 150 mmHg) harus memperoleh pengobatan tekanan darah tinggi untuk mencegah serangan stroke. Pengobatan dilakukan dengan hati-hati memakai preparat atau takaran kecil, dan kemudian kalau perlu dapat ditambahkan preparat antagonis kalsium (seperti nifedipin) serta selanjutnya salah satu anggota dari anggota kelompok obat yang disebut penghambat beta (misal atenol).
·   Kadar lemak darah
Penderita hipertensi usia pertengahan dan usia lanjut mempunyai permasalahan yang berhubungan dengan lemak. Penderita yang usianya lebih muda harus memperoleh nasehat diet rendah lemak jenuh dan rendah hidrat arang (kalori seimbang). Kadang-kadang diperlukan juga obat untuk menurunkan kadar lemak yang berbahanya (seperti klofibrat). Beberapa preparat minyak ikan ternyata juga berkhasiat. Minyak ikan terbukti memiliki khasiat antiplatelet.
·   Problem pembuluh darah
Penderita yang pernah mengalami serangan iskemik sepintas atau    penyempitan pembuluh arteri karotis harus menjalani pemeriksaan antara lain pemeriksaan gelombang suara ultra untuk mengetahui keadaan arteri karotis jika dijumpai kelainan dilakukan pemeriksaan angiografi. Bila penyempitan arteri karotis berat dilakukan pembedahan dan bila penyempitanya ringan dilakukan pemantauan arteri karotis secara teratur dan harus mendapat terapi antiplatelet. Pilihan terapi antiplatelet antara lain: aspirin tablet 300 gram satu atau dua hari sekali, minyak ikan, dan dipiridamol.

b)   Pencegahan sekunder
·   Pengobatan yang tepat
Perlu diketahui serangan stroke yang pertama kali terjadi disebabkan oleh perdarahan atau infark serebral. Preparat anti koagulan tidak boleh diberikan kepada penderita yang pernah mengalami perdarahan otak namun dapat dipakai orang yang mengalami infark serebral.
·   Sebutir aspirin tiap hari
Aspirin diberikan dengan takaran rendah 300 mg (satu tablet) diminum tiga hari selama satu minggu, aspirin berguna dalam pencegahan serangan stroke berikutnya bagi penderita stroke yang diakibatkan trombosis. Sebagian penderita juga dapat ditolong dengan pemberian obat dipridamol tetapi obat ini mengakibatkan nyeri kepala khususnya penderita migrain.
·   Warfarin
Penderita kelainan jantung yang dapat menimbulkan trombosis dapat diberikan antikoagulan warfarin dan juga dapat mereka yang terkena hipertensi dengan serangan otak sepintas.

Upaya-upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi serangan stroke pada penderita hipertensi menurut Arcole Margattan (1995) antara lain dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut yaitu :
·   Olah raga yang teratur
Yaitu olah raga yang tidak mengeluarkan banyak tenaga misalnya jalan kaki dengan cepat, jogging, dan bersepeda. Dengan melakukan olah raga yang teratur dan dinamis dapat memperbaiki aliran darah keotot- otot dan memperbaiki metabolisme otot itu sendiri. Hal ini akan membantu terjadinya pelebaran pembuluh darah sehingga tensi menjadi turun. Kecuali itu olah raga juga menambah kesegaran dan kebugaran jasmani yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan daya tahan tubuh penderita menghadapi serangan komplikasi penyakit hipertensi antara lain stroke.
·   Diet yang rendah garam
Kemungkinan terjadi stroke pada penderita hipertensi sangat tinggi bila penderita mengkonsumsi garam dapur terlalu banyak. Orang yang normal biasanya mengkonsumsi garam dapur antara lain 5 – 15 gram perhari. Pada penderita hipertensi dianjurkan makan garam seminimal mungkin sekitar 2 – 3 gram perhari. Mengurangi penggunaaan garam baik dari garam dapur maupun bahan adiptif seperti monosodium glutamat, natrium benzoat, dan natrium bikarbonat dapat mengurangi terjadinya serangan stroke karena bahan – bahan tersebut dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah yang menyebabkan terganggunya aliran darah dalam otak dan dapat mengakibatkan stroke.
·   Perubahan pola hidup
1)   Mengurangi kegemukan
Orang yang gemuk yang banyak mengkonsumsi kalori tinggi mempunyai resiko besar terjadi hipertensi dan akhirnya biasanya terjadi stroke. Dengan mengurangi berat badan dapat menurunkan tekanan darah dengan jalan mengurangi asupan kalori dengan makan makanan yang kandungan lemaknya rendah, gunakan susu krim untuk menambah kandungan protein dalam sereal, dan sup. Jangan gunakan santan sebagai bahan untuk menggurihkan makanan.
2)   Authoterapi hipertensi
Menanggulangi stroke pada pasien hipertensi bisa dilakukan dengan cara meditasi. Syaratnya harus dilakukan secara rutin, tanpa mengenal rasa bosan dan dalam waktu kurang lebih 3 – 4 bulan. Meditasi ini dilakukan setiap hari selama kurang lebih 20 menit boleh dilakukan pada pagi hari atau waktu luang.
3)   Hentikan kebiasan merokok
Pengapuran atau pengerasan pembuluh darah yang disebut arterosklerosis, merupakan akibat pertama kali dari merokok, dan juga terjadi berkurangnya volume pasca darah, rokok dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah 2 – 10 menit setelah dihisap, karena merangsang saraf mengeluarkan hormon yang bisa menyebabkan pengerutan pembuluh darah sehingga tensi menjadi naik dan menyebabkan faktor resiko terjadi stroke.
4)   Menghindari stres
Perubahan pola hidup yang serba otomatis menyebabkan tubuh kurang gerak dan perubahan yang meliputi lingkungan, fisik, dan sosial mempengaruhi manusia menimbulkan stres dengan berbagai manifestasi diantaranya hipertensi dan dapat menyebabkan stroke. Hal ini dapat dicegah dengan cara berusaha relaksasi dalam menghadapi masalah, melakukan refresing, dan dapat juga dengan mendalami agama dan berusaha menciptakan keluarga yang bahagia.

2.10.  Asuhan Keperawatan
Kasus pemicu
“tn. I 73 tahun pensiunan PNS, datang diantar keluarganya karena pingsan dan tidak bisa di bangunkan selama 20 menit.Keluarga klien mengatakan sebelumnya klien pergi jalan-jalan pagi, klien mengeluh pusing sejak 2 hari yang lalu dan sudah minum obat yang di beli di warung.Keluarga mengatakan klien sudah lama memiliki darah tinggi dan sakit gula.Klien juga pernah di rawat karena stroke 3 tahun yang lalu dan kaki kiri klien jadi lemah.Klien juga perokok berat satu hari bisa menghabiskan 1 bungkus.Saat klien sadar di lakukan pemeriksaan fisik dan ditemukan bibir asimetris, hemiparese sinistra (+), klien dianjurkan untuk CT kepala oleh dokter IGD”.
A. Pengkajian
1)   Identitas klien
Nama                                 : Tn. I
Jenis Kelamin                  : Laki-laki
Usia                                 : 73 Tahun
Status Perkawinan           : Kawin
Agama                              : Islam
Suku Bangsa                    : Ambon
Bahasa Yang Digunakan : Bahasa Indonesia
Pekerjaan                          : Pensiun PNS
Alamat                             : Jl. Cinta no 17
Sumber biaya                   : Jamkesmas

2)             Keluhan utama
          Pada saat pengkajian Tn. I berbicara tidak jelas (pelo), mengeluh pusing 2 hari dan sudah minum obat yang dibelinya di warung, dan kaki kirinya lemah.

3)             Riwayat penyakit sekarang
          Pasien masuk rumah sakit, diantar oleh keluarga karena pingsan dan tidak sadar selama 20 menit. Pada pemeriksaan pasien ditemukan tanda dan gejala penyakit Strok, kemudian dilakukan pemeriksaan diagnostic seperti Hemiparases (+), bibir klien asimetris, klien dianjurkan CT Scan kepalaa oleh dokter IGD.

4)             Riwayat penyakit terdahulu
Keluarga mengatakan pasien sudah lama memiliki penyakit darah tinggi dan sakit gula, pasien juga pernah dirawat di RS dengan Strok 3 tahun yang lalu.

5)             Riwayat pekerjaan dan pola hidup
Setelah pensiun PNS Tn. I suka jalan kaki setiap pagi. Pasien juga perokok berat, satu hari 1 bungkus rokok.

1)   AKTIVITAS DAN ISTIRAHAT
Gejala:        merasa kesulitan untuk melakukan aktifitas karena kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia)
Tanda:        gangguan tonus otot (flaksid, spastis): paralitik (hemiplegia), dan terjadi kelemahan umum. Gangguan penglihatan, gangguan tingkat kesadaran.
2)   SIRKULASI
Gejala:      adanya penyakit jantung (MI, reumatik, atau penyakit jantung vaskuler, GJK, endocarditis bacterial) polisitemia, riwayat hipotensi postural.
Tanda:       hipertensi arterial (dapat ditemukan atau terjadi pada CSV) sehubungan dengan adanya embolisme atau malformasi vaskuler. Nadi: frekuensi dapat bervariasi (karena ketidak stabilan fungsi jantung atau kondisi jantung, obat-obatan, efek stroke pada pusat vasomotor. Disritmia, perubahan EKG, desiran pada karotis, femoralis, dan arteriilliaka atau aorta yang abnormal.
3)      INTEGRITAS EGO
Gejala:      perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa.
Tanda:       emosi yang labil, dan ketidak siapan untuk marah, sedih, dan gembira
4)      ELIMINASI
Gejala:      perubahan pola berkemih, seperti inkontinensiaurin, anuria distensi abdomen (distensi kandung kemih berlebihan), bising usus negative (ileus paralitik)
5)      MAKANAN dan CAIRAN
Gejala:      nafsu makan hilang, mual, muntah selama fase akut (peningkatan TIK), kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi, dan tenggorokan, disfagia. Adanya riwayat diabetes,peningkatan lemak dalam darah
Tanda:       kesulitan menelkan( gangguan pada reflex palatum danfaringeal ). Obesitas (factor resiko )
6)   NEURPSENSORY

Gejala :       sinkope/pusing (sebelum serangan CSV atau selama TIA). Sakit kepala akan sangat berat dan perdarahan intraselebral atau subarachnoid kelemahan atau kesemutan atau kebas (biasanya terjadi serangan TIA), yang ditemukan dalam derajat pada stroke jenis yang lain . sentuhan: hilangnya rangsang sensorik kontralateral (pada sisi tubuh yang berlawanan) pada ekstremitas dan kadang-kadang pada ispilateral (yang satu sisi) pada wajah. Gangguan rasa pengecapan dan penciuman.

Tanda: biasanya terjadi koma pada tahap awal hemoragic, gangguan fungsi kognitif (penurunan memori) kelemahan, genggaman tidak sama, reflex tendon melemah. Pada wajah terjadi paralisis.Afasia (kesulitan untuk mengungkapkan kata), kesulitan memahami kata-kata secara bermakna, serta afasia global (gabungan dari keduanya).
7)   NYERI ATAU KEAMANAN
Gejala: sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda (karena arteri karotis terkena)
Tanda: tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot/fasia.
8)   PERNAFASAN
Gejala: merokok (factor risiko)
Tanda: ketidakmampuan menelan/batuk/hambatan jalan nafas, sulit bernafas, terdengar suara nafas ronkhi.
9)   KEAMANAN
Gejala:        masalah dengan penglihatan, kesulitan dalam menelan, tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri, tidak sabar.
10)  INTERAKSI SOSIAL
tanda:         masalah bicara ketidakmampuan untuk berbicara/berkomunikasi
11)  PENYULUHAN atau PEMBELAJARAN
Gejala:      adanya riwayat hipertensi pada keluarga, riwayat stroke keluarga, pemakaian kontrasepsi oral, kecanduan alcohol..
DATA FOKUS
Data subjektif
Data objektif
1.      Keluarga klien menceritakan klien pingsan
2.      Keluarga klien mengatakan klien tidak bisa di bangunkan selama 20 menit
3.      Klien mengeluh pusing sejak 2 hari
4.      Keluarga klien mengatakan bahwa klien minum obat warung
5.      Keluarga klien mengatakan klien sudah lama memiliki darah tinggi
6.      Keluarga klien mengatakan klien pernah dirawat karena stroke 3 tahun lalu dan kaki kiri klien lemah
7.      Keluarga klien mengatakan klien perokok berat sehari habis 1 bungkus
1.      Bibir klien asimetrsi
2.      Hemiparese sinistra (+)

Data yang perlu di kaji
Data subjektif
Data objektif
1.      Kemungkinan keluarga klien mengatakan bahwa klien tidak sadarkan diri
2.      Kemungkinan keluarga klien mengatakan klien terlihat ingin berbicara tetapi sulit
3.      Kemungkinan keluarga klien mengatakan klien tidak dapat menggerakan bagian tubuh kirinya
4.      Kemungkinan keluarga klien mengatakan klien sulit berbicara
5.      Kemungkinan keluarga klien mengatakan perkataan klien sulit di mengerti
6.      Kemungkinan keluarga mengatakan klien sering mengigau
7.      Kemungkinan keluarga klien mengatakan tubuh klien terlihat kotor dan lengket
8.      Kemungkinan keluarga klien mengatkan klien sering buang air di tempat tidur
9.      Kemungkinan keluarga klien mengeluhkan klien sering pura-pura tidur saat ada yang menjenguk
10.  Kemungkinan keluarga klien mengatakan klien terlihat seperti putus asa
11.  Kemungkinan keluaraga klien mengatakan pernyataan kesalahan informasi
1.      Kemungkinan adanya penurunan tingkat kesadaran
2.      Kemungkinan di temukan perubahan respon motorik, sensorik
3.      Kemungkinan di temukan kehilangan kesimbangan
4.      Kemungkinan klien terlihat berhati-hati saat mobilisasi
5.      Kemungkinan di temukan kerusakan artikulasi
6.      Kemungkinan di temukan klien tidak dapat menghasilkan komunikasi tertulis
7.      Kemungkinan di temukan disorientasi (waktu, tempat, orang)
8.      Kemungkinan di temukan respon rangsang berlebihan
9.      Kemungkinan di temukan klien kesulitan untuk memenuhi nutrisi
10.  Kemungkinan di temukan klien kesulitan memandikan diri
11.  Kemungkinan di temukan klien kesulitan menyelesaikan tugas toileting
12.  Kemungkinan di temukan klien menyendiri (isolasi)
13.  Kemungkinan di temukan klien enggan melihat bagian tubuh yang sakit
14.  Kemungkinan di temukan klien susah menelan
15.  Kemungkinan di temukan keluarga klien meminta informasi


ANALISA DATA
DATA
PROBLEM
ETIOLOGI
Ds:
-          Klien mengeluh pusing sejak 2 hari
-          Kemungkinan keluarga klien mengatakan bahwa klien tidak sadarkan diri
-          Kemungkinan keluarga klien mengatakan klien terlihat ingin berbicara tetapi sulit
-          Kemungkinan keluarga klien mengatakan klien tidak dapat menggerakan bagian tubuh kirinya

Do:
-          Kemungkinan adanya penurunan tingkat kesadaran
-          Kemungkinan di temukan perubahan respon motorik, sensorik
Gangguan perfusi jaringan serebral
interupsi aliran darah
Ds:
-          Kemungkinan keluarga klien mengatakan klien tidak dapat menggerakan bagian tubuh kirinya
Do:
-          Hemiparese sinistra (+)
-          Kemungkinan di temukan kehilangan kesimbangan
-          Kemungkinan klien terlihat berhati-hati saat mobilisasi

Kerusakan mobilitas fisik
kerusakan neuromuskuler terhadap hemiparese
Ds:
-          Kemungkinan keluarga klien mengatakan klien sulit berbicara
-          Kemungkinan keluarga klien mengatakan perkataan klien sulit di mengerti
-          Kemungkinan keluarga mengatakan klien sering mengigau
Do:
-          Bibir klien asimetrsi
-          Kemungkinan di temukan kerusakan artikulasi
-          Kemungkinan di temukan klien tidak dapat menghasilkan komunikasi tertulis
Kerusakan komunikasi
kelemahan
Ds:
-          Kemungkinan keluarga mengatakan klien sering mengigau
Do:
-          Kemungkinan di temukan disorientasi (waktu, tempat, orang)
-          Kemungkinan di temukan respon rangsang berlebihan
Perubahan persepsi-sensori
stress psikologis
Ds:
-          Kemungkinan keluarga klien mengatakan tubuh klien terlihat kotor dan lengket
-          Kemungkinan keluarga klien mengatkan klien sering buang air di tempat tidur
Ds:
-          Hemiparese sinistra (+)
-          Kemungkinan di temukan klien kesulitan untuk memenuhi nutrisi
-          Kemungkinan di temukan klien kesulitan memandikan diri
-          Kemungkinan di temukan klien kesulitan menyelesaikan tugas toileting
Deficit perawatan diri
kerusakan neuromuskuler
Ds:
-          Kemungkinan keluarga klien mengeluhkan klien sering pura-pura tidur saat ada yang menjenguk
-          Kemungkinan keluarga klien mengatakan klien terlihat seperti putus asa
Do:
-          Kemungkinan di temukan klien menyendiri (isolasi)
-          Kemungkinan di temukan klien enggan melihat bagian tubuh yang sakit
Gangguan harga diri
perubahan biofisik
Ds:
-          Keluarga klien mengatakan bahwa klien minum obat warung
-          Keluarga klien mengatakan klien pernah dirawat karena stroke 3 tahun lalu dan kaki kiri klien lemah
-          Keluarga klien mengatakan klien perokok berat sehari habis 1 bungkus
-          Kemungkinan keluaraga klien mengatakan pernyataan kesalahan informasi
Do:
-          Kemungkinan di temukan keluarga klien meminta informasi
Kurang pengetahuan
kesalahan interpretasi informasi/kurang mengingat

DIAGNOSA:
1.      Gangguan perfusi jaringan serebral b.d interupsi aliran darah
2.      Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskuler terhadap hemiparese
3.      Deficit perawatan diri b.d kerusakan neuromuskuler
4.      Kerusakan komunikasi b.d kelemahan
5.      Perubahan persepsi-sensori b.d stress psikologis
6.      Gangguan harga diri b.d perubahan biofisik
7.      Kurang pengetahuan b.d kesalahan interpretasi informasi/kurang mengingat
INTERVENSI KEPERAWATAN
NO DX.
TANGGAL
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
INTERVENSI DAN RASIONAL
1.       

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria hasil:
1.      Klien tidak mengeluh pusing
2.       Kesadaran compos mentis
3.       Klien mampu berbicara

4.      respon motorik, sensorik membaik

Mandiri :
1.      Pantau tanda-tanda vital
Rasional: variasi mungkin terjadi oleh karena tekanan serebral pada daerah vasomotor otak.
2.      Evaluasi pupil, catat ukuran, bentuk, kesamaan, dan reaksi terhadap cahaya
Rasional: reaksi pupil di atur oleh nervus okkulomotorius dan berguna untuk menentukan apakah batang tersebut masih baik
3.      Kaji fungsi bicara jika klien sadar
Rasional: perubahan dalam bicara adalah indicator dari lokasi atau derajat gangguan serebral
4.      Letakan kepala dengan posisi lebih tinggi
Rasional: menurunkan tekanan arteri
5.      Pertahankan keadaan tirah baring
Rasional: istirahat total mungkin di butuhkan untuk mencegah perdarahan pada kasus stroke hemoragic
6.      Cegah terjadinya mengejan saat defekasi
Rasional: mengejan dapat memperbesar risiko terjadinya perdarahan

Kolaborasi
1.      Beri oksigen sesuai indikasi
Rasional: menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan vasodilatasi serebral
2.      Berikan obat sesuai indikasi (antikkoagulasi, antifibrinolitik, antihipertensi)
Rasional: dapat digunakan untuk meningkatkan/memperbaiki aliran darah serebral.
2.       

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria hasil:
1.      Klien dapat menggerakan bagian tubuh kirinya
2.       Hemiparese sinistra (-)
3.      kehilangan kesimbangan membaik

Mandiri:
1.      ubah posisi minimal setiap 2 jam
rasional: menurunnkan risiko terjadinya iskhemi jaringan (dekubitus)
2.      mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua ekstremitas
rasional: meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, mencegah kontraktur otot.
3.      Tinggikan tangan dan kepala
Rasional: meningkatkan aliran balik vena dan membantu mencegah terbentuknya edema.
4.      Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi
Rasional: mempertahankan posisi fungsional
5.      Alasi kursi atau tempat tidur dengan busa atau balon air
Rasioanal: mencegah/menurunkan tekanan koksigeal/ kerusakan kulit.

Kolaborasi:
1.      Konsultasikan dengan ahli fisioterafi
Rasional: program yang khusus dapat di kembangkan untuk menemukan kebutuhan
2.      Beri obat relaksan otot, antispasmodic sesuai indikasi
Rasional: mungkin di perlukan untuk menghilangkan spastisitas pada ekstrimitas yang terganggu.
3.       

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria hasil:
1.      Klien dapat menyelesaikan toileting secara mandiri
2.      Klien mampu memenuhi kebuutuhan nutrisi secara mandiri
3.      Klien mampu memndikan bagian tubuh seccara mandiri

Mandiri:
1.      Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat di lakukan pasien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan
Rasional: pasien ini mungkin sangat ketakutan dan menjadi tergantung. Adalah penting melakukan dengan ssendiri untuk harga diri dan meningkatkan pemulihan
2.      Pertahankan dukungan, beri waktu yang cukup untuk pasien menyelesaikan tugasnya
Rasional: pasien akan memerlukan empati tetapi perlu untuk mengetahui pemberi asuhan yang akan membantu pasien secara konsisten
3.      Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang di lakukannya
Rasional: meningkatkan perasaan makna diri. Mendorong pasien untuk berusaha secara kontinu

Kolaborsai:
1.      Berikan obat supositoria dan pelunak feses sesuai indikasi
Rasional: memepertahankan defekasi agar tetap teratur
2.      Kolaborasikan dengan ahli fisioterapi
Rasional: member bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi
4.       

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria hasil:
1.      Klien mampu berbicara dengan baik
2.      Artikulasi perkataan membaik
3.      Bibir klien tidak asimetris
4.      Klien mampu berkomunikasi secara tertulis
Mandiri:
1.      Minta klien untuk mengikuti perintah sederhana (seperti membuka mata, tunjuk ke pintu) dengan kalimat sederhana
Rasional: melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik (afasia sensorik)
2.      Tunjuk objek dan minta klien menyebut nama objek tersebut
Rasional: melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik (afasia motorik) seperti klien mungkin mengenalinya tapi tidak dapat menyebutkannya.
3.      Mintalah klien untuk mengucapkan kata sederhana seperti (pus, sh)
Rasional: mengetahui adanya disatria sesuai komponen motorik dari berbicara (seperti lidah, gerakan bibir, control nafas) yang mempengaruhi artikulasi.
4.      Minta klien untuk menuliskan nama atau kata yang pendek
Rasional: menilai kemampuan menulis (agrafia) dan kekurangan dalam membaca yang benar (aleksia)
5.      Hargai kemampuan pasien sebelum terjadi penyakit.
Rasional: kemampuan pasien untuk merasakan harga diri, sebab kemampuan intelektual pasien seringkali tetap baik.

Kolaborasi:
1.      Kolaborasikan dengan ahli terapi wicara
Rasional: pengkajian secara individual kemampuan bicara dan sensori, motorik, dan fungsi kognitif berfungsi untuk mengidentifikasi kebutuhan terapi.
5.       

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria hasil:
1.      Klien tidak mengalami disorientasi (waktu, tempat, orang)
2.      respon rangsang klien kembali normal
Mandiri:
1.      evaluasi adanya gangguan penglihatan.
Rasional: munculnya gangguan penglihatan dapat berdampak negative terhadap kemampuan pasien untuk menerima lingkungan dan mempelajari kembali keterampilan motorik dan meningkatkan risiko terjadinya cedera.
2.      Kaji kesadaran sensorik (membedakan panas/dingin, tajam/tumpul)
Rasional: penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan perasaan kinetic berpengaruh buruk pada keseimbangan.
3.      Berikan stimulasi rasa terhadap sentuhan
Rasional: membantu melatih embali sensorik untuk mengintegrasikan  persepsi dan interpretasi stimulasi.
4.      Lindungi pasien dari suhu yang berlebihan/ membahayakan.
Rasional: meningkatkan keamanan pasien dan menurunkan risiko terjadinya trauma.

6.       

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria hasil:
1.      Klien mau kembali di jenguk
2.      Klien tidak terlihat putus asa
3.      Klien tidak mengalami isolasi sosial
4.      Klien menerima keadaan dirinya
5.      Klien mau melihat bagian tubuh yang sakit
Mandiri:
1.      Identifikasi arti dari kehilangan
Rasional: kadang-kadang pasien menerima dan mengatasi gangguan fungsi secara efektif dengan sedikit penanganan, di lain pihak ada juga yang kesulitan menerima dan mengatasi kekurangannya.
2.      Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya termasuk rasa bermusuhan dan rasa marah.
Rasional:
Mendemonstrasikan penerimaan/membantu pasien untuk mengenal dan mulai memahami perasaan ini
3.      Catat apakah pasien menunjuk/menghindari daerah yang sakit
Rasional: menunjukan penolakan terhadap bagian tubuh tertentu menandakan perlunya intervensi dan dukungan emosional.
4.      Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik
Rasional: membantu peningkatan perasaan harga diri.
5.      Berika dukungan terhadap perilaku/usaha pasien dalam kegiatan rehabilitasi
Rasional: memahami peran diri sendiri dalam kehidupan selanjutnya.

Kolaborasi:
1.      Rujuk pada evaluasi neuropsikologis atau konseling sesuai kebuutuhan
Rasional: dapat memudahkan adaptasi terhadap perubahan peran yang perlu untuk merasa menjadi orang yang produktif
7.       

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam di harapkan masalah keperawatan klien teratasi dengan criteria hasil:
1.      Klien dan keluarga tahu tentang stroke
2.      Klien dan keluarga berpartisipasi dalam belajar
3.      Klien melakukan perubahan kebiasaan merokoknya
4.      Klien dan keluarga mengungkapkan pemahaman

Mandiri:
1.      Diskusikan keadaan patologis yang husus dan kekuatan pada individu
Rasional: membantu dalam membangun harapan yang realistis
2.      Diskusikan rencana untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
Rasional: berbagai tingkat bantuan mungkin di perlukan/perlu di rencanakan berdasarkan pada kebutuhan secara individual.
3.      Sarankan pasien menurunkan/membatasi stimulasi lingkungan terutama selama kegiatan berpikir
Rasional: stimulasi yang beragam dapat memperbesar gangguan proses berpikir.
4.      Rekomendasikan pasien untuk  meminta bantuan dalam proses pemecahan masalah dan memvalidasi keputusan
Rasional: beberapa pasien mungkin mengalami gangguan dalam cara pengambilan kepuusan yang memanjang, kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan keputusan yang di buatnya.

EVALUASI
NO DX.
EVALUASI
PARAF
1.       
S:
-          Klien tidak mengeluh pusing
-          Klien mengatakan sudah dapat merasakan bagian tubuhnya

O:
-          Kesadaran compos mentis
-          Klien mampu berbicara
-          respon motorik, sensorik membaik
A:
-          masalah keperawatan klien teratasi seluruhnya
P:
-           tindakan keperawatan di hentikan

2.       
S:
-          Klien berkata dapat menggerakan bagian tubuh kirinya
O:
-          Hemiparese sinistra (-)
-          kehilangan kesimbangan membaik


A:
-          masalah keperawatan klien teratasi seluruhnya

P:
-          tindakan keperawatan di hentikan

3.       
S:
-          Klien berkata sudah bisa makan sendiri
-          Klien berkata sudah dapat mandi dengan sendiri
O:
-          Klien dapat menyelesaikan toileting secara mandiri
-          Klien mampu memenuhi kebuutuhan nutrisi secara mandiri
-          Klien mampu memndikan bagian tubuh seccara mandiri

A:
-          masalah keperawatan klien teratasi seluruhnya

P:
-          tindakan keperawatan di hentikan

4.       
S:
-          Keluarga klien menyebutkab bahwa klien sudah dapat berkomunikasi secara lisan dan tulisan
O:
-          Klien mampu berbicara dengan baik
-          Artikulasi perkataan membaik
-          Bibir klien tidak asimetris

A:
-          masalah keperawatan klien teratasi seluruhnya

P:
-          tindakan keperawatan di hentikan

5.       
S:
-          Klien sudah mengenali waktu, tempat dan orang yang berada di sekelilingnya
O:
-          Klien tidak mengalami disorientasi (waktu, tempat, orang)
-          respon rangsang klien kembali normal

A:
-          masalah keperawatan klien teratasi seluruhnya

P:
-          tindakan keperawatan di hentikan

6.       
S:
-          Klien berkata menerima keadaan dirinya
O:
-          Klien mau kembali di jenguk
-          Klien tidak terlihat putus asa
-          Klien tidak mengalami isolasi social
-          Klien mau melihat bagian tubuh yang sakit

A:
-          masalah keperawatan klien teratasi seluruhnya

P:
-          tindakan keperawatan di hentikan

7.       
S:
-          Klien dan keluarga sudahmengetahui tentang stroke
-          Klien dan keluarga mengungkapkan pemahaman

O:
-          Klien dan keluarga berpartisipasi dalam belajar
-          Klien melakukan perubahan kebiasaan merokoknya

A:
-          masalah keperawatan klien teratasi seluruhnya

P:
-          tindakan keperawatan di hentikan






2.11. Aspek legal etik
   Etika adalah kode perilaku yang memperlihatkan perbuatan yang baik bagi kelompok tertentu. Etika juga merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatan yang benar. Etik berhubungan dengan hal yang baik dengan hal yang tidak baik dan dengan kewajiban moral. Etika berhubungan dengan peraturan untuk perbuatan atau tindakan yang mempunyai prinsip benar dan salah, serta prinsip moralitas karena etika mempunyai tanggung jawab moral, menyimpang dari kode etik berarti tidak memiliki perilaku yang baik dan tidak memiliki moral yang baik.
   Etika bisa diartikan hubungan dengan pertimbangan keputusan benar atau tidaknya suatu perbuatan karena tidak adanya undang-undang atau peraturan yang menegaskan hal tersebut. Etika berbagai profesi digariskan dalam kode etik yang bersumber dari martabat dan hak manusia yang memiliki sikap menerima dan kepercayaan dari profesi tersebut. Profesi menyusun kode etik berdasarkan penghormatan atas nilai dan situasi dan individu yang dilayani.
   Kode etik disusun dan disahkan oleh organisasi atau yang membina profesi tertentu baik secara nasional maupun internasional. Kode etik menerapkan konsep etis karena profesi bertanggung jawab pada manusaia dan menghargai kepercayaan serta nilai individu. Kata seperti etika hak asasi, tanggung jawab mudah didefinisikan tetapi kadang tidak jelas.
   Faktor teknologi yang meningkat, ilmu pengetahuan yang berkembang (pemakaian mesin dan teknik memperpanjang usia, legalitas abortus, pencangkokan organ manusia, pengetahuan biologi dan genetika, penelitian yang menggunakan subjek manusia) ini memerlukan pertimbangan yang menyangkut nilai dan hak asasi manusia dan tanggung jawab profesi. Organisasi profesi diharapkan mampu memelihara dan menghargai, mengamalkan, mengembangkan nilai tersebut melalui kode etik yang disusunnya. Kadang perawat dihadapkan terhadap situasi yang memerlukan untuk mengambil tindakan. Perawat memberikan asuhan kepada klien, keluarga, dan masyarakat.
   Kebutuhan pelayanan keperawatan adalah universal. Pelayanan profesional berdasarkan kebutuhan manusia tidak membedakan kebangsaan warna kulit, politik, sosial, dan lainnya. Pelayanan ini berdasarkan kepercayaan bahwa perawat akan membuat hal yang benar, hal yang diperlukan dan hal yang menguntungkan pasien dan kesehatannya. Oleh karena itu setiap manusia berinteraksi dengan tingkah laku yang berbeda-beda. Sebagaimana diperlukannya pedoman untuk mengarahkan suatu untuk bertindak.
Aspek legal Etik
Terdapat beberapa prinsip etik dalam pelayanan kesehatan dankeperawatan yaitu :
a. Autonomy (penentu pilihan) Perawat yang mengikuti prinsip autonomi menghargai hak klienuntuk mengambil keputusan sendiri. Perawat  membantu klien untuk menentukan pilihan pengobatan seperti transfusi darah dan pemberian obat –obatan, tanpa memaksa klien untuk melakukan pengobatan tertentu.
b.Non Maleficence (do no harm), Non Maleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidakmenyebabkan bahaya bagi kliennya. Perawat harus lebih teliti dalam menangani kasus klien agar tidak terhindar dari kelalaian.
c. Beneficence (do good), Beneficence berarti melakukan yang baik. Perawat memilikikewajiban untuk melakukan dengan baik, yaitu, mengimplemtasikan tindakan yang mengutungkan klien dan keluarga.Beneficence meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan klien dengan cara menentukan cara terbaik untuk membantu pasien.Dalam hal ini, perawat harus melakukan tugasnya dengan baik,termasuk dalam hal memberikan asuhan keperawatan yang baik kepada klien, guna membantu mempercepat proses penyembuhan klien , seperti memberi obat sesuai dosis dan tepat waktu.
d.   Informed ConsentInformed Consent atau Persetujuan Tindakan Medis (PTM) merupakan persetujuan seseorang untuk memperbolehkan sesuatu yang terjadi(mis. Operasi, transfusi darah, atau prosedur invasif). Ini berdasarkan pemberitahuan tentang resiko penting yang potensial, keuntungan,dan alternatif yang ada pada klien. Persetujuan tindakan memungkinkan klien membuat keputusan berdasarkan informasi penuh tentang fakta. Seseorang yang dapat memberikan persetujuan jika mereka legal berdasarkan umur, berkompeten, dan jika mereka telah diidentifikasi secara legal sebagai pembuat keputusan.Setiap pasien mempunyai hak untuk diberi informasi yang jelastentang semua resiko dan manfaat dari perlakuan apapun, termasuk semua resiko dan manfaat jika tidak menerima perlakuan yang dianjurkan atau jika tidak ada perlakuan sama sekali.
e. Justice (perlakuan adil), Perawat mengambil keputusan dengan rasa keadilan sesuai dengankebutuhan tiap klien.
f. Kejujuran, Kerahasiaan, dan Kesetiaan.Prinsip mengatakan yang sebenarnya (kejujuran) mengarahkan praktisi untuk menghindari melakukan kebohongan atau menipu klien.  





















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
stroke adalah gangguan sirkulasi serebral yang disebabkan oleh sumbatan atau penyempitan pembuluh darah oleh karena emboli, trombosis atau perdarahan serebral sehingga terjadi penurunan aliran darah ke otak yang timbulnya secara mendadak. Stroke diklasifikasikan menjadi dua yaitu Stroke Non Hemoragik, dan Stroke Hemoragik. penyebab Stroke adalah Thrombosis, Embolisme, Iskemia, serta Hemoragi.
Tanda-Gejala Stroke  pusing dan pingsan, nyeri kepala mendadak tanpa kausa yang jelas, bicara tidak jelas (pelo), sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat, tidak mampu mengenali bagian dari tubuh, ketidakseimbangan dan terjatuh dan hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih. Komplikasi Stroke  Hipoksia serebral, Penurunan aliran darah serebral
, dan Embolisme serebral. Pemeriksaan Penunjang Stroke  dapat dilakukan pemeriksaan dengan Angiografi serebral, Pungsi lumbal, CT-scan, MRI (Magnetic Resonance Imaging), Ultrasonografi Doppler, EEG (Electroencephalography), dan Sinar X









DAFTAR PUSTAKA
Brunner & suddarth,2002, buku ajar keperawatan medical bedah, penerbit buku kedokteran EGC : jakarta
Suparman. (1987). Ilmu Penyakit Dalam. FKUI. Jakarta
Soeharto I. (2002). Proes Terjadinya Serangan Jantung dan Stroke. Gramedia
Suyono S. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. FKUI Jakarta, jilid II.
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta : EGC


Tidak ada komentar:

Posting Komentar